Showing posts with label Budaya dan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Budaya dan Sastra. Show all posts

04 January 2012

Sastra dan Kesusastraan dan Perbedaannya

Sastra berasal dari kata castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu, sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang, dan sebagainya.

Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.

Secara morfologis, kesusastraan dibentuk dari dua kata, yaitu su dan sastra dengan mendapat imbuhan ke- dan -an. Kata su berarti baik atau bagus, sastra berarti tulisan. Secara harfiah, kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan yang baik atau bagus, baik dari segi bahasa, bentuk, maupun isinya.

Dalam konteks kesenian, kesusastraan adalah salah satu bentuk atau cabang kesenian yang menggunakan media bahasa sebagai alat pengungkapan gagasan dan perasaan senimannya. Sehingga sastra juga disamakan dengan cabang seni lain seperti seni tari, seni lukis, seni musik, dan sebagainya.



Pengertian Sastra dari Segi Ilmu Sastra

Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra, yaitu ilmu sastra, teori sastra, dan karya sastra.

a. Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki secara ilmiah berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal yang berhubungan dengan seni sastra.
Ilmu sastra sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal berikut.

Teori sastra, yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas, hukum-hukum, prinsip dasar sastra, seperti struktur, sifat-sifat, jenis-jenis, serta sistem sastra.

Sejarah sastra, yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga perkembangan yang terbaru.

Kritik sastra, yaitu ilmu yang mempelajari karya sastra dengan memberikan pertimbangan dan penilaian terhadap karya sastra. Kritik sastra dikenal juga dengan nama telaah sastra.

Filologi, yaitu cabang ilmu sastra yang meneliti segi kebudayaan untuk mengenal tata nilai, sikap hidup, dan semacamnya dari masyarakat yang memiliki karya sastra.

Keempat cabang ilmu tersebut tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka memahami sastra secara keseluruhan.



b. Teori sastra adalah asas-asas dan prinsip-prinsip dasar mengenai sastra dan kesusastraan.

c. Seni sastra adalah proses kreatif menciptakan karya seni dengan bahasa yang baik, seperti puisi, cerpen/novel, atau drama.


Manfaat Sastra

Karya sastra pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisahan, dan amanat yang dikomunikasikan kepada pembaca. Untuk menangkap ini, pembaca harus mampu mengapresiasikannya.

Pengetahuan tentang pengertian sastra belum lengkap bila belum tahu manfaatnya. Horatius mengatakan bahwa manfaat sastra itu berguna dan menyenangkan. Secara lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut.

Karya sastra dapat membawa pembaca terhibur melalui berbagai kisahan yang disajikan pengarang mengenai kehidupan yang ditampilkan. Pembaca akan memperoleh pengalaman batin dari berbagai tafsiran terhadap kisah yang disajikan.

Karya sastra dapat memperkaya jiwa/emosi pembacanya melalui pengalaman hidup para tokoh dalam karya.

Karya sastra dapat memperkaya pengetahuan intelektual pembaca dari gagasan, pemikiran, cita-cita, serta kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam karya.

Karya sastra mengandung unsur pendidikan. Di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai tradisi budaya bangsa dari generasi ke generasi. Karya sastra dapat digunakan untuk menjadi sarana penyampaian ajaran-ajaran yang bermanfaat bagi pembacanya.

Karya sastra dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan atau penelitian tentang keadaan sosial budaya masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra tersebut dalam waktu tertentu.

Masih banyak manfaat sastra yang bagi satu pembaca berbeda dengan pembaca lainnya. Sehingga beberapa pembaca yang menikmati buku yang sama bisa jadi memperoleh pengalaman puitik yang berbeda.

Begitulah di antaranya dasar-dasar pengertian sastra yang bisa dipelajari. Semoga pengetahuan ini bisa membantu Anda dalam pemahaman dan pengapresiasian sastra secara lebih menyeluruh.


http://affiliate.weebly.com/scripts/click.php?aid=4eef631042c94&cid=d4aceefd

PENGERTIAN, FUNGSI, DAN RAGAM SASTRA


A. Pengertian Sastra
Kesusastraan : susastra + ke – an su + sastra su berarti indah atau baik sastra berarti lukisan atau karangan Susastra berarti karangan atau lukisan yang baik dan indah. Kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
B. Fungsi Sastra
Dalam kehidupan masayarakat sastra mempunyai beberapa fungsi yaitu :
1. Fungsi rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya.
2. Fungsi didaktif, yaitu sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
3. Fungsi estetis, yaitu sastra mampu memberikan keindahan bagi penikmat/pembacanya karena sifat keindahannya.
4. Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi.
5. Fungsi religius, yaitu sastra pun menghasilkan karya-karya yang mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra.
C. Ragam Sastra
1. Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu :
a) Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi.
b) Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan habasa yang singkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah atau aturan tertentu, yaitu :
1) Jumlah baris tiap-tiap baitnya,
2) Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap kalimat atau barisnya,
3) Irama, dan
4) Persamaan bunyi kata.
c) Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.
d) Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog. Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan.
2. Dilihat dari isinya, sastra terdiri atas 4 macam, yaitu :
a) Epik, karangan yang melukiskan sesuatu secara obyektif tanpa mengikutkan pikiran dan perasaan pribadi pengarang.
b) Lirik, karangan yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif.
c) Didaktif, karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang masalah moral, tatakrama, masalah agama, dll.
d) Dramatik, karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian(baik atau buruk) denan pelukisan yang berlebih-lebihan.
3. Dilihat dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 bagian, yaitu :

Ceriita Rayat Pak Belalang

Ceriita Rayat Pak Belalang



Pak Belalang adalah tokoh cerita rakyat Melayu. Cerita Pak Belalang mengisahkan tentang seorang laki-laki pemalas yang memiliki anak bernama Belalang, oleh karena itu ia dipanggil Pak Belalang. Ia berpura-pura menjadi ahli nujum, dan karena berbagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan, ia berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit, dan akhirnya menjadi kaya.

Cerita Pak Belalang dapat dibandingkan dengan kisah-kisah jenaka lainnya seperti Kabayan, Lebai Malang, ataupun Abu Nawas.

Cerita Pak Belalang telah dimasukkan ke dalam buku bertajuk "Cherita Jenaka" yang juga memuat beberapa cerita-cerita rakyat Perak popular yang lain seperti Pa' Kadok, Pa' Pandir, Lebai Malang,Pa' Belalang, Si-Lunchai oleh Sir R. O. Winstedt dan A. J. Sturrock pada tahun 1908. Cetakan ini telah direvisi sebanyak beberapa kali dengan edisi ketiga pada tahun 1914 dengan 159 halaman.[1][2]

Adaptasi

Cerita Pak Belalang merupakan dasar film yang disutradarai P. Ramlee, Nujum Pak Belalang (1959).

Alkisah, maka adalah suatu cerita, kononnya sebuah negeri nama Halban Cundung. Nama rajanya Indera Maya, cukup dengan hulubalang menterinya. Maka adalah dipeminggiran negeri raja itu seorang peladang tiga beranak, anaknya laki-laki dinamakannya Belalang, menjadi orang-orang semuanya memanggil orang tua peladang itu Pak Belalang. Maka pada suatu tahun semua orang tiada dapat padi berladang, oleh sangat kemarau. Maka yang hal sepeladang tiga beranak itu sangatlah kesusahan hendak mencari makanan, tiadalah dapat daya dan upaya lagi, melainkan dengan makanan kutip katap sahaja, ya ni kadang-kadang makan ubi, tebu, pisang, keladi dan sebagainya.

Hatta, antara beberapa lamanya didalam hal yang demikian itu, sampailah pula musim piama. Maka orang bekerja bendang pun masing-masing turun kebendangnya membuat pekerjaan, ada yang mencuci parit, membaiki batas-batas mana-mana yang patut dan rusuk, dan ada yang menengala dengan kerbau, ya ni tanah didalam petak bendang itu supaya menjadi lembut semuanya, boleh senang menanam padi, lagi pula menyuburkan pokok padi sampai kepada buahnya. Maka ada pula yang memagar dan berbuat berbagai-bagai ikhtiar supaya terpelihara daripada mara bahaya musuhnya seperti tikus, ulat dan babi. Maka didalam hal yang demikian itu semua orang membuat pekerjaan, melainkan Pak Belalang tiga beranak asyik dengan tidur siang malam dirumahnya dengan berdukacita yang teramat sangat akan kehidupannya yang akan boleh makan.

Maka pada suatu hari Pak Belalang berkata kepada anaknya nama Si Belalang itu, wahai anakku, apalah sudah untung kita demikian ini. Tiadalah dapat apa-apa yang dijadikan makanan kita anak beranak. Maka jawab anaknya, apakah fikiran aki? Maka kata Pak Belalang, pada fikiranku pergilah anakku sembunyikan kerbau orang yang menenggala dibendang itu barang dua ekor, taruh didalam semak-semak itu. Jikalau orang itu gempar kehilangan kerbaunya, katakana aku tahu bertenung menentukan dimana-mana tempat kerbau itu.

Sebermula, telah sudah bermesyuarat kedua beranaknya, pada waktu matahari rembang orang-orang bendang itu kelelahanlah penat. Masing-masing pun berhentilah naik kedangaunya makan minum dan setengah tidur. Maka kerbau-kerbau mereka itu ditambatkan ditepi batas yang disebelah naung, makan rumput dan setengah dilepaskan dengan tali-talinya berkubang.

Arakian, Si Belalang pun, lepas bermesyuarat dengan bapanya itu, lalulah ketempat kerbau yang teramat itu dengan seorang dirinya terhendap-hendap mengintau tuan kerbau itu. Telah sampai lalu dipegangnya tali kerbau, diambilnya dua ekor, ditambatkannya kepada pohon kayu besar kira-kira sebatu jauhnya daripada tempat itu. Maka ia pun pulang kepada bapanya, habis dikabarkannya hal ehwalnya. Maka sangatlah sukacita bapanya mendengarkan perkataan anaknya oleh mengikut seperti pengajarannya.

Hatta, tersebut perkataan orang-orang bendang itu. Apabila telah beralih hari, masing-masing pun turunlah kebendangnya sambil hendak mengambil kerbau. Maka dilihat dua ekor kerbaunya sudah hilang. Jenuh mencari tiada jump, sambil berkata, siapakah gerangan agaknya tahu bertenung ini? Kita hendak tenungkan kerbau yang hilang ini. Maka pada ketika itu Si Belalang sedang bermain dekat-dekat meraka itu. Maka katanya, bapaku tahu juga sedikit-sedikit bertenung.

Jawabnya tahu juga. Maka kata orang bendang itu, marilah kita sekalian pergi kepada Pak Belalang minta ditenungkan. Jawab kawannya, moh la. Lalu pergilah orang-orang bendang itu kepada Pak Belalang. Maka pada ketika itu Pak Belalang pun ada dirumah sedang memegang gobek. Lalu ditegurnya akan mereka itu seraya katanya, apakah hajat anakku sekalian ini? Jawab orang-orang itu, kita ini mendapatkan Pak Belalang minta tenungkan kerbau kita hilang, jenuh mencarinya.

Maka kata Pak Belalang pun mengambil kertas yang buruk, ditulisnya bagai bekas cakar ayam sahaja, dengan tawakal diperbuatnya serta membilang-bilang jarinya dan memejam-mejamkan matanya. Katanya, ayuhi anakku, kerbau itu dua yang hilang ada disebelah matahari mati, ditambatkan orang dipohon kayu besar. Pada petuanya jikalau lambat dituruti nescayalah ia mati.

Demi orang-orang itu mendengarkan perkataan Pak Belalang, sangatlah sukacita hatinya. Lalulah pergi setenganya mencari dan yang setengah balik pulang. Kemudian antara beberapa lamanya mereka itu pun sampailah ketempat yang ditambatkan oleh Si Belalang itu. Maka kerbau dua ekor itu hampir akan mati karena kehausan, lalu diambilnya, dibawa pulang kerumahnya akan Pak Belalang tahu tenung. Maka singgahlah mereka itu dirumah Pak Belalang, serta membawa beberapa banyak hadiah daripada beras, padi, tembakau, gambir, ikan dan lain-lainnya adalah berharga kadar lima puluh derham. Maka sangatlah kesukaan hati Pak Belalang menerima hadiah mereka itu, dengan beberapa kesenangan ia makan anak-beranak.

Kelakian, tersebutlah Raja Indera Maya didalam negeri itu. Pada suatu malam kecurianlah baginda tujuh biji peti yang berisi emas, intan, derham dan lain-lain mata benda yang mahal-mahal harganya. Maka dititahkan oleh baginda memukul canang segenap pekan didalam negeri itu, titahnya, siapa-siapa tahu bertenung raja memanggil kedalam, hendak minta tenungkan harta yang hilang kecurian tujuh buji peti semalam. Maka didengar oleh bendang yang hilang kerbau itu. Katanya, yang kita tahu, orang yang pandai bertenung, boleh dapat dengan segeranya.

Maka kata tukang canang itu, dimanakah rumahnya? Jawab orang bendang itu, itulah rumahnya. Maka pergilah tukang canang itu. Didapati Pak Belalang ada hadir dirumahnya. Lalu mereka bertanya, ayuhai Pak Belalang, iakah sungguhh tahu bertenung? Maka jawabnya, tahu juga sedikit. Maka kata tukang canang, marilah mengadap baginda, karena baginda kecurian tujuh biji peti semalam.

Maka jawab Pak Belalang, baiklah. Maka ia pun pergilah mengadap baginda bersama-sama dengan tukang canang. Apabila sampai kedalam lalu ditegur oleh baginda seraya bertitah, hai Pak Belalang, tahukah engkau bertenung? Maka sembah Pak Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, tahu juga sedikit kerana patik ditinggalkan hamba tua dahulu empat peti kitab tiba dirumah patik dari hal kisah pencuri barang-barang yang hilang.

Maka titah baginda, jikalau baginda beta beri tempoh didalam tujuh hari ini, beta minta tenungkan harta beta yang hilang itu. Jika tiada dapat engkau tenungkan harta itu, nescaya beta bunuh kerana membuat bohong mengatakan ada empat biji peti tib ilmu nujum. Maka sembah Pak Belalang, Daulat Tuanku titah patik junjung. Insyaallah ta`ala, berkat dengan tinggi daulat, bolehlah patik tenungkan, Tuanku.

Maka Pak Belalang pun bermohon balik, dikurniakan oleh baginda seratus derham akan belanjanya. Hatta, apabila sampai kepekan, maka dibelinya beras, ikan, minyak dan tepung, dibawa balik kerumahnya, diberikan kepada isterinya. Maka tanya isterinya, dimana Pak Belalang dapat barang banyak-banyak ini? Curikah? Jawabnya, tiada aku curi, raja memberi kepada aku, disuruhnya bertenung hartanya hilanh tujuh biji peti semalam konon. Maka tepung ini perbuatlah roti. Aku teragak hendak makan roti rasanya.

Maka diambil oleh perempuannya barang-barang itu diperbuat roti. Seketika nanti hari pun malam. Lepas makan nasi tiga beranak itu, Pak Belalang pun berbaring ditengah rumahnya oleh sebab letih berjalan tadi. Maka isterinya pun masaklah roti itu didapurnya, direndangnya sebiji-biji, maka berbunyilah roti itu kena minyak didalam kuali, chur bunyinya. Maka oleh Pak Belalang dibilangnya dari tengah rumah itu, katanya, satu membilang roti itu.

Maka dengan takdir Allah, berkat ia bertawakal membuat pembohong itu, tatkala ia membilang roti itu maka kepala pencuri yang mengambil harta baginda itu ada orang terdiri dihalam Pak Belalang, barulah ia keluar dari hutan, kerana jalannya pergi datang itu dekat dengan rumah Pak Belalang. Kemudian chur bunyinya sekeping roti lagi, dibilangnya, dua. Maka pencuri itu pun sudah dua berdiri dihalamannya. Kemudian tiga, maka pencuri itu pun sudah tiga orang disitu. Kemudian tujuh keping roti dibilang oleh Pak Belalang, bersetuju dengan pencuri itu telah ada disitu ketujuh-tujuhnya.

Maka kata kepala pencuri itu, Hai kawan-kawan sekalian, ada pun kita ni sudah diketahui oleh orang tua Pak Belalang akan kita ada disini. Pada fikiranku, tentulah ia tahu kita tujuh orang ini yang mengambil harta raja itu dan sekarang baiklah kita pergi berjumpa dengan dia berkabarkan kesalahan kita yang mengambil harta raja itu. Jawab yang berenam itu lagi, baiklah mari kita pergi kabarkan supaya lepas nyawa kita mati dibunuh raja itu. Maka pencuri ketujuh itu pun pergilah mengetuk pintu Pak Belalang. Maka kata Pak Belalang siapa itu?

Jawabnya, kita hendak berjumpa dengan Pak Belalang. Maka dibuka oleh Pak Belalang pintunya lalu naiklah pencuri ketujuh-tujuh orang itu seraya duduk berjabat tangan dengan Pak Belalang. Maka kata Pak Belalang, dari mana datang dan apakah hajat? Maka jawab pencuri, kami datang ini minta nyawa kepada Pak Belalang. Jangan kamu sekalian dibunuh, kerana kamilah semua yang mengambil peti raja negeri ini, yang hilang tujuh biji itu. Oleh sebab jikalau tiada kita berkabarkan benar pun, Pak Belalang sudah tahu, kerana Pak Belalang di rumah, kami di tanah lagi belum nampak sudah Pak Belalang bilang.

Sebermula telah didengar oleh Pak Belalang akan perkataan pencuri ketujuh itu sangatlah sukacitanya sambil berdaham. Katanya, dengan sesungguhnya aku tahu. Masa anakku di tanah tadi aku bilang di rumah ini satu hingga ketujuh. Benar atau tidak bilangan aku itu? Maka jawab pencuri itu dengan ketakutan, benar. Itulah sebabnya kami sekalian takut akan Pak Belalang berkabar kepada raja, matilah kami sekalian di bunuh oleh raja itu.

Maka kata Pak Belalang, jikalau sungguh anakku sekalian berkata benar, tidaklah dibunuh oleh raja. Dimanakah harta raja itu sekarang? Jawab pencuri itu, adalah kami sekalian tanamkan disebelah selatan didalam hutan, lebih kurang ada sebatu dari sini. Kami sekalian tanamkan didalam tanah tiada apa-apa rusak, bolehlah Pak Belalang ambil harta raja itu balik. Maka kata Pak Belalang, baiklah, tetapi jangan membuat bohong. Tentu aku suruh bunuh kepada raja.

Maka bersumpahlah pencuri itu mengatakan tidak bohong sekali-kali. Kemudian roti yang dimasak oleh isteri Pak Belalang itu pun dijamukannyalah kepada pencuri-pencuri itu. Lepas makan mereka itu pun turunlah berjalan. Hatta, telah siang hari, Pak Belalang pun pergilah mengadap Raja Indera Maya seraya baginda bertitah, apa kabar, Pak belalang? Adakah dapat ditenungkan di dalam tib darihal itu?

Maka sembah Pak Belalang, insyaallah ta`ala, dengan berkat tinggi daulat dapatlah dalam tib-tib patik itu, Tuanku. Patik peroleh satu buku, didalamnya ada tersebut bahawasanya ada pun hartanya yang hilang tujuh orang, dibawahnya kesebelah selatan, sudah ditanamkannya didalam tanah, tetapi tiada rosak barang-barang itu lagi.

Setelah menitahkan dua orang menteri dengan seratus hulubalang dan lima ratus rakyat mencari peti baginda itu dengan segeranya, maka masing-masing menyembah lalu berjala. Maka baginda pun tinggallah dengan Pak Belalang di balairong seri dihadapi oleh bentara biduanda sida-sida sekalian.

Maka tersebutlah kisah menteri dengan hulubalang, rakyat pergi mencari harta itu. Selang beberapa lamanya sampailah kedalam hutan besar, ditujunya kesebelah selatan. Dengan takdir Allah subhanahu wata`ala betullah sampai mereka kepada tempat peti yang ditanamkan oleh pencuri itu, berjumpa dengan suatu lubang bekas ditimbus orang. Maka diambil oleh menteri anak-anak kayu suruh tikam kedalam tanah, lalu kenalah kepada peti itu, serta diangkat naik, dipikul oleh rakyat sekalian, dibawa balik mengadap baginda.

Maka baginda pun turunlah dari atas singgahsana sambil berkata, betullah sungguh Pak Belalang ini, besar untungnya dan kebaktiannya kepada aku. Baginda bertitah itu dengan teramat sukacitanya, seraya memandang kepada muka Pak Belalang. Titahnya pula, ada pun Pak Belalang ini telah beta gelar Ahlunnujum pada hari ini, dan barangsiapa memanggil Pak Belalang, beta guntingkan lidahnya.

Maka sekalian rakyat, menteri hulubalang pun mengatakan Ahlunnujum sekaliannya. Maka titah baginda, Hai ahlunnujum, beta anugerahi sebiji peti ini akan dikau, bawalah pulang kerumah, berikan kepada anak isteri engkau. Maka sembah Ahlunnujum Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, patik mohonkan ampunlah dikurniakan harta itu, kerana ayapan yang kurniai oleh dulu Tuanku dahulu itu pun cukup patik ayapi anak beranak.

Maka titah baginda menyuruh juga hantarkan sebiji peti yang berisi emas, intan, ratna mutu manikam, kerumah ahlunnujum Belalang itu. Maka ahlunnujum pun bermohon kembali pulang kerumahnya dengan sukacita sekalian anak isterinya. Hatta, antara selang tiga bulan, masuklah pula tiga buah kapal membawa anak itik baru jadi, meminta kenalkan jantan betinanya. Maka kapal itu pun sampailah kepelabuhan. Juragannya naik kedarat mengadap Raja Indera Maya. Maka ada pun tatkala itu baginda sedang dihadapi oleh menteri, hulubalang, sida-sida, biduanda sekaliannya.

Maka juragan itu pun naiklah kebalai pengahadapan masuk mengadap dibawa oleh bahtera baginda. Serta baginda memandang, juragan pun bertelut kepada baginda. Sembahnya, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, patik ini datang dari sebuah negeri kesebuah negeri membawa anak itik baru menetas, meminta kenalkan jantan dan betinanya patik persembahkan kebawah duli Tuanku kapal patik tiga buah itu dengan isinya, patik turun kain sehelai sepinggang sahaja. Tetapi jika Tuanku terkenal anak itik itu jantan betinanya, harapkan diampun beribu-ribu ampun, negeri Tuanku ini patik pohonkan supaya menjadi milik patik.

Maka sahut baginda, baiklah encik Juragan, beta minta tempoh tiga hari dahulu. Kepada hari yang ketiga itu pagi-pagi bolehlah datang bawakan anak-anak itik itu, boleh beta kenalkan jantan betinanya. Maka juragan itu pun bermohon balik kekapalnya. Maka baginda pun menitaahkan seorang biduanda panggil ahlunnujum belalang. Maka biduanda pergi kepada Ahlun nujum Belalang. Tatkala itu Ahlun nujum Belalang ada dirumahnya sedang merojak sireh hendak dimakannya. Maka biduanda pun naik. Katanya, Hai Ahlun nujum , titah memanggil bersama-sama sahaya mengadap dengan segeranya.

Jawab biduanda ada kapal masuk membawa anak itik baru menetas, minta kenalkan jantan betinanya. Itulah sebab Tuanku memanggil. Maka sahut Ahlun nujum Belalang, Baiklah, lalu ia mengambil tongkat berjalan bersama-sama dengan biduanda mengadap baginda kebalairong seri. Demi terpandang kepada Ahlun nujum, maka baginda pun bertitah, marilah kesini dekat dengan beta ini, hendak bermesyuarat.

Maka Pak Belalang pun datanglah hampir dengan baginda seraya meyembah. Maka titah baginda, apalah hal beta ini ahlun nujum? Ada pula masuk tiga buah kapal membawa anak itik baru menetas dari telur. Juragannya meminta kenalkan jantan betinanya, kepada beta. Jika tidak kenal, negeri ini pulanglah kepadanya. Maka sekarang apakah halnya beta hendak mengenalnya itu?

Setelah Ahlun nujum Belalang mendengarkan titah baginda, ia pun termenung seketika serta menyerahkan dirinya kepada Tuhan sarwa sekalian alam harapkan makbul sebarang maksudnya membuat perkataannya yang pembohong itu semuanya, Ampun Tuanku beribu-ribu ampun, titah Tuanku terjunjunglah diatas otak batu kepala patik. Maka dengan berkat tinggi daulat Tuanku adalah pula buku tib itu tinggal di rumah patik, dua tiga empat peti penuh berisi dengan pasal anak itik itu sahaja. Dan harapkan ampun patik bertempuh tiga hari mencari dalam tib itu. Maka titah baginda, baiklah.

Maka Pak Belalang pun bermohon balik pulang kerumahnya dengan dukacita yang teramat sangat kerana takut kalau kedapatan budi pembohongnya itu. Maka keluh kesahlah ia tiada lalu makan dan minum dan tidur, melainkan di dalam hatinya berkata, ya Allah, ya Rabbi, ya Saidi, ya Maulai. Kepada Tuhanku juga hamba menyerahkan diri, barang dimakbulkan kiranya seperti maksud dan hajat hamba ini akan mengetahui jantan betina anak itik itu dengan mudahnya.

Hatta, perjanjian dengan baginda itu pun sampailah dua hari sudah. Maka sangatlah dukacita Pak Belalang akan perkara yang disanggupinya itu. Setelah sampai kepada malam ketiganya, maka dengan takdir Allah subhanahuwata`ala dibukakan hatinya fikiran yang baik. Baiklah aku pergi bersampan berkayuh dekat-dekat kapal mendengar perkabaran itik itu.

Maka ia pun berkayuhlah dengan perahunya yang pipih supaya tidak kedengaran bunyi air. Setelah Pak Belalang sampai kepada kapal yang tiga buah berlabuh itu seraya perlahan-lahan mendengarkan apa-apa percakapan orang dikapal itu. Maka dengan takdir Allah subhanahu wata`ala melakukan kudrat diatas hambanya, pada ketika itu bercakaplah isteri juragan kapal itu dengan suaminya. Katanya ayuhi Encik Juragan, berapa lama sudah saya bersama-sama belayar menjajakan anak itik ini minta kenalkan jantan betinanya belum juga saya tahu bagaimana hendak mengenalnya itu. Jikalau sungguh kasih kepada saya tolonglah kabarkan supaya saya tahu.

Maka jawab juragan itu, ayuhai adinda, buah hati kekanda, tiadalah dapat kekanda hendak mengabarkan hal itu, takut didengar oleh orang, kerana esok hari hendak kekanda bawa mengadap raja negeri ini minta kenalkan jantan betinanya. Jikalau tiada lalu raja itu mengenalnya negeri ini kita miliki, dan jikalau lalu pula raja itu mengenalnya, kapal yang tiga buah ini pulang kepadanya. Kita sekalian turun kain sehelai sepinggang sahaja. Tetapi oleh kasih kekanda, kabarkan. Janganlah dicakapkan kepada orang.

Maka jawab isterinya, katakanlah supaya adinda dengar. Di mana pula ada orang tengah malam datang hampir kemari? Lalu dikabarkan oleh juragan kepada isterinya, katanya, jikalau hendak mengenal jantan betina anak itik itu, hendaklah dibubuh air didalam terenang. Mana-mana yang dahulu menyelam itulah betina dan yang kemudiannya jantan.

Setelah didengar oleh isterinya, ia pun diam. Lalu tidur kedua laki isteri menantikan siang. Shahadan maka Pak Belalang pun sekalian hal ehwal itu semuanya didengar. Sangatlah suka hatinya serasa mati hidup kembali, sambil berkayuh perlahan-lahan balik pulang kerumahnya. Setelah sampai lalu memanggil perempuannya emak Belalang. Maka emak Belalang pun bangun memebuka pintu. Maka kata Pak Belalang, ada \kah nasi emak Belalang? Aku lapar ini. Pergilah masak segera, apa digaduhkan masak nasi ransom? Belanja kita raja memberi.

Maka jawab isterinya, sudah ada nasi. Makanlah. Maka Pak Belalang pun bersalin kainnya lalu duduk serta memakan nasi. Setelah itu, ia pun tidur dengan kesukaannya. Seketika lagi hari pun sianglah lalu ia bangun duduk sambil merojak sirehnya. Sebermula, maka tersebutlah perkataan juragan kapal. Telah hari siang pagi-pagi hari, maka juragan pun bersiaplah lalu naik kedarat diiringkan oleh anak-anak perahunya membawa anak itik itu. Maka baginda pun hadir diatas singgasana tahta kerajaan dihadapi oleh sekalian menteri, hulubalang, sida-sida bentara, rakyat bala, hina dina hendak melihat temasya itu.

Hatta, baginda pun menitahkan seorang biduanda memanggil ahlun nujum Belalang dengan segeranya. Maka biduanda pun menyembah lalu turun berjalan kerumah Ahlun nujum Belalang. Maka katanya titah Tuanku memanggil Ahlun nujum. Juragan dan sekalian orang telah berhimpun dibalai semuanya. Maka Ahlun nujum pun bersiap-siapkan sirehnya lalu mengadap baginda. Maka sampailah kebalairung seri. Maka titah baginda, marilah kemari.

Maka Ahlun nujum Belalang pun dekatlah dengan baginda. Maka titah baginda, Apakah hal ahlun nujum hendak mengenal anak itik itu jantan betinanya? Maka sembah Pak Belalang. Ampun Tuanku beribu-ribu ampun, jenuh patikmencari di dalam tin patik. Maka dapatlah patik di dalam buku kecil sahaja, ada di dalam dua baris tertulis di tulis disitu mengatakan demikian, bahawasanya ada pun hendak mengenal anak itik itu jantan betinanya, hendaklah dengan air.

Maka titah baginda menyuruh ambilkan suatu terenang emas. Maka di bawa oleh dayang-dayang di persembahkan kepada baginda. Maka titahnya, inilah air, ahlun nujum. Maka sembah Pak Belalang, kemudian lepaskan seekor. Mana-mana yang dahulu menyelam, itulah yang betina dan yang kemudian menyelam itulah jantannya. Maka titah baginda, lepaskanlah. Sembah Pak Belalang, silakanlah Tuanku melepaskannya. Titah baginda, beta tiada tahu.

Maka Pak Belalang pun bangun seraya menyembah melepaskan itik itu. Maka apabila dilepaskannya seekor dalam terenan, maka anak itik pun menyelam. Maka sembah Pak Belalang, itulah betina, tuanku. Kemudian dilepaskan pula seekor lagi, lambat menyelam. Titah baginda, lambat pula menyelan itu. Sembah Pak Belalang, yang lambat menyelam itu jantan, Tuanku.

Maka baginda pun memandang kepada juragan kapal itu. Titahnya, apakah kabar Juragan? Betulkah seperti kata ahlun nujum ini, dimana hendak patik simpangkan perkataan yang sebenar itu? Maka titah baginda, jikalau begitu, baiklah perdana menteri beri juragan ini tiga buah perahu dan bekalnya sampai ia balik kenegerinya. Maka perdana menteri pun menyembah dan juragan kapal pun turun bersama-sama dengan menterinya seraya menyembah baginda. Kapal itu pun diserahkan kepada bendahara dengan isi-isinya.

Sebermula, tersebutlah kisah baginda itu pula memberi titah kepada Pak Belalang. Titahnya ayuhai saudara beta, ahlun nujum yang bijaksana, dengan kerelaan hati beta memberi sebuah kapal itu kepada saudara dengan isi-isinya. Maka sembah Pak Belalang, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harapkan diampun, sebenar sangat seperti titah itu, dengan sebolah-bolehnya patik mohon ampunlah dikurniai itu, kerana mana-mana harta yang duli Tuanku kurniakan dahulu sekarang telah sudah dihabiskan oleh didik itu bersuka ria, ampun tuanku bermain muda sahaja kerjanya.

Baginda pun tertawa gelak-gelak, titahnya, tiada mengapa, budak-budak sahajanya gemar main muda itu, tiada pula menjadi kesalahan. Tetapi kawinkan dia mana-mana yang diperkenankan dan kapal ini pemberian betalah kepadanya Si Belalang itu. Maka sembah Pak Belalang, daulat Tuanku. Maka kapal itu pun disuruh hantarkan kepelabuhan Pak Belalang, adanya.

Sebermula, telah selesai kisah anak itik itu, dengan takdir Allah subhanahu wa`tala, masuklah pula tujuh buah kapal membawa kayu yang teramat licin dan bulat, panjangnya kira-kira sehasta, nakhodanya itu pun naiklah mengadap baginda bermaklumkan halnya serta membawa kayu itu, dipersembahkan kepada baginda. Katanya, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harap diampun jua kiranya. Adalah patik datang ini mengadap tuanku membawa suatu kayu bulat licin semuanya. Patik minta kenalkan kayu tentukan ujung dan pangkalnya patik persembahkan ketujuh buah kapal patik ini, patik turun sehelai sepinggang sahaja.

Demi didengar oleh baginda sembah nahkoda itu, lalu titah baginda, baiklah beta minta tempoh tujuh hari kepada nakhoda. Setelah sudah, maka nahkoda kapal itu pun bermohonlah balik kekapalnya. Maka baginda pun bertitah menyuruh panggil Pak Belalang. Maka biduanda pun menyembah serta bermohon pergi mendapatkan ahlun nujum Belalang itu. Katanya, titah tuanku memanggil kebalai. Jawab Pak Belalang, apa pasal memanggil aku? Lalu ia pun turun dengan segera mengadap baginda bersama-sama dengan biduanda kebalai.

Hatta, setelah baginda melihat Pak Belalang datang itu, baginda pun memberi titah kepadanya, ayuhai ahlun nujum, apalah ikhtiar diri sekarang? Ada seorang nakhoda membawa kapal tujuh buah datang kepada beta, kerana ia ada membawa kayu bulat licin. Ia meminta kenalkan ujung pangkal kayu itu. Jikalau lalu terkenal oleh beta ujung dan pangkalnya, kapal yang tujuh buah itu diberikannya kepada beta. Jika tiada terkenal, maka negeri ini pulang kepadanya. Beta minta tempoh tujuh hari.

Arakian, telah Pak Belalang mendengar titah baginda, maka lalu ia mengangkat tangan mendatangkan sembah, ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik harap diampun, ada pun dari hal mengenal kayu, bolehlah juga patik kenalka, berkat tinggi daulat tuanku, kerana ada tujuh peti tib patik dirumah pasal mengenal kayu-kayu. Dan dua peti buku-buku pasal itu sahaja.

Titah baginda, baiklah boleh ahlun nujum lihat didalam buku-buku itu. Maka Pak Belalang pun bermohonlah kembalilah kerumahnya. Hatta, dalam pada itu sampailah perjanjian itu tujuh hari kepada malam. Maka daripada pagi-pagi hari nakhoda kapal pun bersiaplah dengan anak perahunya hendak naik kebalairung seri membawa kayu itu. Maka pada ketika hulubalang, sida-sida, bentara, penuh sesak hendak melihat temasya itu.

Maka hal Pak Belalang pada malam yang ketujuh itu turunlah ia kesampan berkayuh kekapal nahkoda itu daripada sebuah kapal kepada sebuah kapal. Hatta dengan takdir Allah subanahu wata`ala sampailah ia kekapal nahkoda yang jauh ditengah lautan sekali. Kepada masa itu nahkoda pun ada duduk sedang bermesyuaratkan darihal hendak membawa kayu itu esok harinya mengadap baginda. Maka kata sekalian anak-anak perahunya itu, ayuhai Tuan nahkoda, hamba sekalian pun sangatlah ajaib bagaimanakah hendak mengenali ujung pangkal kayu itu. Maka sahut nahkoda kepada anak-anak perahunya itu, janganlah kau sekalian cakapkan kepada orang rahsia ini, kalau didengar oleh orang rosaklah kita.

Maka kata sekalian anak-anak perahu itu, ya tuan nahkoda, dimana datang orang tengah malam ini? Maka kata nahkoda sekalian pun sangatlah ajaib bagaimanakah hendak mengenal ujung pangkal kayu itu, ada pun hendak mengenal ujung kayu itu dipegang sama tengahnya, diletakkan diatas air. Kemudian mana-mana dahulu yang tenggelam, disitulah pangkalnya.

Telah sudah nahkoda berkabarkan rahsia itu kepada anak-anak perahunya, semuanya didengar oleh Pak Belalang perkataan itu. Ia pun balik kerumahnya. Hatta, telah hari siang, pagi-pagi hari berhimpunlah sekaliannya. Maka nahkoda kapal itu pun naiklah mengadap baginda membawa kayu itu. Maka baginda pun bertitah suruh duduk seraya memandang kepintu balai penghadapan itu menantikan ahlun nujum Belalang, lalu naik keatas balai penghadapan seraya menyembah baginda. Maka ditegur oleh baginda sambil bertitah, marilah dekat dengan beta disini. Apa kabar dalam tib ahlun nujum itu?

Maka sembah Pak Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, ada pun didalam tib patik darihal hendak mengenal ujung pangkal kayu itu hendaklah dengan air, tuanku. Maka titah baginda menyuruh ambil air kepada dayang-dayang pun mengambil air, dibubuh didalam batil emas, dibawa kehadapan baginda. Maka sembah Pak Belalang, tuanku lepaskan kayu itu. Maka titah baginda, beta tiada tahu. Ahlun nujum sendiri lepaskan.

Maka Pak Belalang pun menyembah baginda seraya mengambil kayu itu. Maka ditimbangnya betul sama-sama tengah kayu, dilepaskannya didalam air itu. Maka tenggelam sebelah dahulu. Titah baginda. Apa yang dahulu temggelam itu? Maka sembah ahlun nujum Belalang, ampun Tuanku beribu-ribu ampun, yang tenggelam itu pangkalnya dan ujungnya itu kemudian tenggelam kerana ringan dan pangkalnya itu berat.

Maka baginda pun memandang kepada nahkoda kapal itu seraya bertitah, apa kabar nahkoda adakah betul seperti kata ahlun nujum beta dan tiada? Maka sembah nahkoda itu, sebenarnyalah seperti kata ahlun nujum Tuanku itu. Apa hendak patik salahkan lagi? Sudah nasib patik, tuanku kerana patik dengar ahlun nujum tuanku ini arif bijaksana sangat. Inilah sebab patik mencuba kepandaiannya itu.

Maka sahut ahlun nujum, dengan sebenarnya juga encik nahkoda menyembah kebawah duli yanga maha mulia itu. Jikalau ada kepandaian arif bijaksana sekali pun jika tiada rajin usaha tiada berguna juga. Maka terasalah dihati nahkoda itu teringatkan tatkala anak-anak perahunya itu bertanyakan ujung pangkal kayu dahulu agaknya barangkali Pak Belalang itu mengendapmendengarkan kisah itu, kerana ada cakapnya itu berusaha. Tetapi itu fikiran didalam hatinya sahaja, tiada dikeluarkannya. Maka titah baginda menyuruh biduanda berikan ampun kurnia kepada nahkoda itu tujuh buah perahu serta belanja makanannya. Maka nahkoda itu pun turun dari kapal sehelai sepinggang sahaja. Maka kapal tujuh buah serta dengan isinya itu pulang kepada baginda semuanya. Maka nahkoda itu pun bermohon kepada baginda naik keperahunya langsung pulang kenegerinya.

Hatta, selang antara berapa lamanya, masuk pula sebuah kapal perdana menteri Askalan Rum mengadap baginda membawa surat rajanya kepada baginda. Tatkala itu baginda sedang semayam diatas takhta kerajaan dibalairung seri. Perdana Menteri itu pun naik lalu menyembah baginda dan mempersembahkan surat itu. Maka disambut oleh bentera dan dibaca dihadapan baginda. Demikianlah bunyinya:

Sembah sujud serta ta`zim serta takrim daripada anakanda Raja Baharum Indera Sakti dinegeri Askalan Rum, barang disampaikan kiranya mengadap kebawah tahta paduka ayahanda duli yang maha mulia. Ihwal anakanda maklumkan jikalau ada mudah-mudahan rahim kasihan belas ayahanda, anakanda pohonkan Ahlun nujum ayahanda, minta lihatkan anakanda kehilangan isteri anakanda baru kawin tujuh hari, sedang tidur dicuri oleh jin. Maka haraplah dipohonkan bersama-sama pacal Perdana Menteri itu.

Telah didengar bunyi surat itu, baginda pun menyuruh panggil ahlun nujum Belalang. Maka biduanda pun pergilah. Ada seketika lamanya, ahlun nujum Belalang pun sampailah bersama-sama dengan biduanda mengadap baginda. Maka baginda pun bertitah, hai ahlun nujum, ada pun sebab beta memanggil ini kerana ada sebuah kapal masuk kemari mengadap membawa surat darihal putera baginda negeri Askalan Rum hilang isteriny, ia sedang tidur bersama-sama dicuri oleh seorang jin. Adakah dapat ahlun nujum mengembalikan balik daripada jin itu?

Maka sembah ahlun nujum Belalang. Ampun tuanku beribu-ribu ampun, insya Allah ta`ala, berkat dengan tinggi daulat duli yang maha mulia, dari hal itu barangkali ada didalam tib-tib patik tangkal jin itu supaya ia takut. Maka titah baginda, baiklah boleh pergi sekarang bersama-sama Perdana menteri baginda ini. Maka sembah Ahlun nujum Belalang. Daulat tuanku, titah patik junjunglah. Patik pohon ampun pulang keteratak patik dahulu.

Maka titah baginda, usahlah balik dahulu. Belanja-belanja ada beta beri. Maka sembahnya, baiklah tuanku. Lalu ia menyembahkan kepada baginda bersama-sama turun kekapal Perdana Menteri itu langsung belayar kenegeri Askalan Rum. Selang antara beberapa lamanya, sampailah kejambatan larangan. Maka disambut oleh baginda itu menteri serta dengan Ahlun nujum Belalang. Maka datanglah putera baginda itu mendapatkan Pak Belalang dengan tangisnya. Titahnya , ayuhai bapa hamba, tolonglah hamba minta carikan isteri hamba yang telah dicuri oleh jin itu dengan segeranya.

Maka sembah Pak Belalang, ampun tuanku beribu-ribu ampun, pertetapkan juga hati tuanku, Insya Allah ta`ala patik pergi mencari paduka adinda itu. Maka baginda pun berangkat dari kapal naik keistana membawa Ahlun nujum Belalang, diperjamu makan dan minum tujuh hari tujuh malam, disembelih kerbau, lembu, ayam dan itik.

Hatta, lepas itu, Pak Belalang pun berdatang sembah kepada putera baginda itu. Sembahnya, ampun tuanku beribu-ribu ampun, nanti pada waktu dinihari tuanku titahkan sekalian isi negeri, rakyat bala tuanku pergi masuk kehutan sekalian isi negeri, rakyat bala tuanku pergi masuk kehutan sekaliannya mengikut patik. Tuanku pun bersama-sama berangkat. Apabila patik berhenti, tuanku sekalian rakyat pun berhenti jauh-jauh daripada patik, jangan dekat.

Maka putera baginda serta dengan dengan sekalian menteri, hulubalangnya pun mengakulah seperti sembah ahlun nujum itu. Telah malamlah, waktu dinihari, perdana menteri pun menyuruhkan sekalian rakyat isi negeri semua kehutan rimba belantara itu dengan terlalu amat kesusahannya. Hatta, apabila gari pun sudah cerah Pak Belalang pun berjalanlah bersama-sama dengan putera baginda itu diiringkan oleh menteri, hulubalangnya sekalian yang tiada tepermanai banyaknya. Maka antara beberapa lamanya sampailah Pak Belalang kepada sepohon kayu beringin ditengah padang , terlalu amat rendang pokoknya. Lalu berhentilah akan lelahnya teramat sangat, dan matanya pun mengantuk seperti diperekat rasanya. Ia pun berbaring dibawah kayu beringin itu lalu tertidur.

Hatta, dengan takdir Allah Tuhan sarwa sekalian alam, kepada ketika itu datanglah seorang tua, janggutnya putih hingga kepusatnya, seraya berkata dengan suara yang dahsyat. Sabdanya, hai Pak Belalang apakah pekerjaan engkau demikian ini sentiasa berbuat bohong sahaja, tiada perkataan yang sebenarnya? Maka Pak Belalang pun terkejut mendengarkan sabda orang tua itu, seraya menyembah, katanya, hamba tuan sungguhlah berbohong sahaja, kerana dengan hal mencari napakah hamba.

Maka sabda orang tua itu, dengan sebenarnya engkau berbuat bohong semata-mata, tetapi bohong engkau itu diperkenankan Allah ta`ala tiada menganiayai orang sekali-kali, semata-mata membuat kerana Allah memelihara raja sendiri daripada percubaan Tuhan sarwa sekalian alam keatas hambanya. Maka sekarang ini apalah pekerjaan engkau? Hendak kemana?

Maka sembah Pak Belalang didalam tidurnya, hamba tuan dititahkan oleh putera baginda ini meminta carikan isterinya dicuri oleh jin konon. Inilah hamba kerjakan. Maka sabda orang tua itu, bagaimanakah hal engkau hendak mencarinya itu? Maka sembah Pak Belalang, entahlah tuan tiada hamba tahu. Apakah nama tuan hamba?

Maka disahut oleh orang tua itu, betalah yang bernama nabi Allah Khidir, Kutubu`l alam menjaga hutan dan daratan dengan titah Tuhan beta. Ada pun darihal engkau hendak mengambil tuan puteri itu, inilah isim Allah ta`ala ya`ni tangkal yang ditakuti oleh jin, beta ajarkan. Bacalah kepada jin itu supaya ia lari. Kemudian engkau ambilah tuan puteri itu.

Maka diajarkannya suatu isim kepada Pak Belalang. Dapatlah olehnya. Maka sabda Kutubul`alam, ada pun sekarang jin itu sedang tidur memangku Tuan Puteri itu didalam suatu gua batu ditepi gunung. Segeralah pergi ketempat itu. Hatta, telah sudah berkata-kata Pak Belalang pun jaga daripada tidurnya. Maka dengan tiada lengah lagi lalu berjalan menuju kegunung itu. Maka putera baginda dengan menteri, hulubalang, rakyat pun bersama-samalah mengikuti jauh-jauh dari belakang. Dalam hal yang demikian sampailah kepada suatu gua batu. Betullah dilihatnya jin itu sedang memangku Tuan Puteri itu sedang tidur juga kedua-duanya. Maka balutlah mata Tuan Puetri itu bekas menangis. Tersangatlah belas kasihan Pak Belalang melihatnya. Maka segeralah ia membacakan isim Allah ta`alaseperti pengajaran Kutubul alam itu. Dengan berkat isim doa itu, dihembuskan oleh Ahlun nujum dikepalanya, maka jin itu pun terbanglah lari, tinggallah Tuan Puteri itu. Maka segeralah diambil oleh Pak Belalang dengan besar suaranya meminta tolong. Katanya, tolong Yuanku, segera ini adinda.

Maka apabila didengar oleh putera baginda dengan menteri, hulubalangnya maka sekalian rakyat pun berhimpum mengiringkan puteri itu, diletakkan diatas geta yang keemasan, dihadapi oleh dayang-dayang, bentar, sida-sida sekalian bertunggu menjaga Tuan Puteri itu lagi pengsan tiada sedarkan dirinya. Maka diambil oelh Pak Belalang air, dibacanya isim tadi, disiramkan pada seluruh tubuhnya.

Maka Tuan Puteri pun sehatlah sedikit lalu bangun duduk santap nasi. Maka putera baginda itu pun teramatlah sukacita melihat isterinya sudah didapati, lalu duduk disitu serta memuji-muji ahlun nujum itu, lalu menitahkan menteri hulubalang rakyat hina dina sekalian bersiap hendak kenduri melepaskan nazarnya, menyembelih kerbau, lembu, ayam dan itik makan minum tujuh hari tujuh malam.memberi sedekah kepada fakir miskin dengan beberapa pula hadiah kelelahan ahlun nujum Belalang itu, dikurniakan oleh baginda daripada harta emas, perak, kain baju dan hamba, dan kapal sebuah, cukup dengan isinya kapal itu.

Maka ahlun nujum Belalang pun mengajar putera baginda itu akan isim yang diajarkan oleh Kutubul alam itu, di perbuat tangkal Tuan Puteri itu, supaya jangan dicuri oleh jin itu balik. Maka kepada ketika yang baik, Pak Belalang pun bermohon hendak balik kenegerinya dihantar oleh putera baginda itu kedua laki isteri hingga kekapal serta dipasangkan meriam alamat tanda kebesaran diatas ahlun nujum itu. Setelah sampai kapal. Putera baginda itu pun berpeluk bercium denga ahlun nujum Belalang, bertangis-tangisan. Lalu berangkat kembali keistananya. Maka ahlun nujum Belalang pun belayarlah pulang kenegerinya.

SYAIR KEHIDUPAN

By : AHMAD ALBAR







Disaat ini inginku terlena lagi

Terbang tinggi di awan

Tinggalkan bumi di sini….



Disaat ini inginku mencipta lagi

Kan kutuliskan lagu

Sambil kukenang wajahmu…….



Malam panjang……..(malam panjang)

Remang-remang……(U….woo……..)



Didalam gelap aku tinggalkan

(dalam gelap aku tinggalkan)

Syair lagu kehidupan

24 February 2011

PUSAT KAJIAN KEBUDAYAAN MELAYU: SARANA PENYELAMATAN KHASANAH BUDAYA MELAYU

Berbicara mengenai Riau, baik itu Riau Kepulauan maupun Riau Daratan dan pantai timur Sumatera, maka pembicaraan kita akan menyangkut pada suku bangsa Melayu dan kebudayaannya. Itulah fakta yang sehari-hari dapat didengar. Orang Riau dan juga sukubangsa Melayu yang mendiami belahan barat Nusantara bangga akan budayanya, terutama budaya yang intangible (budaya tak benda), seperti tari-tarian dan seni berpantun. Kemudian, bagaimana dengan budaya yang tangible (budaya materi) ?
Tanggal 7 Maret yang lalu, pada Harian KOMPAS terdapat berita yang berjudul �Mengkhawatirkan, Kondisi Situs Budaya Melayu Terbesar Abad Ke-19�. Berita ini kemudian disusul keesokan harinya dengan dua artikel yang isinya tentang perubahan-perubahan nilai/moral pada masyarakatnya, dan kondisi naskah-naskah kuna yang tersimpan di Masjid Raya Penyengat. Memang tidak dapat disangkal kebenaran berita itu. Itulah kenyataan pahit yang harus diderita oleh benda-benda tinggalan budaya masa lampau di manapun benda itu berada, serta kondisi moral masyarakatnya. Berita itu tentang benda cagar budaya mengingatkan pernyataan tokoh masyarakat Riau dalam kaitannya dengan Otonomi Daerah menjadi kenyataan, �tidak perduli dengan kebesaran sejarah masa lampau, yang penting bagaimana mendapatkan dua per tiga pendapatan hasil bumi/tambang Riau dari Pemerintah Pusat�.
Karya Sastra
Orang Melayu boleh berbangga karena pada masa lampau banyak anggota masyarakatnya yang mahir dalam menulis naskah yang terkenal dan penyebarannya cukup luas di bumi nusantara ini. Sebut saja, misalnya Raja Ali Haji yang hidup pada sekitar tahun 1809-1873. Ia dikenal sebagai pujangga terbaik dari Penyengat, bersama ayahnya menulis kompilasi Tuhfat al-Nafis, paparan sejarah Melayu dan Bugis yang saling mempengaruhi selama hampir dua abad. Karya sastra sejarah ini dapat dikatakan luar biasa karena mencantumkan sumber baik tertulis maupun lisan, dan memperhatikan susunan materi secara runut dan sistematis. Tentu saja menggunakan bahasa Melayu yang baik dan benar.
1
Karya tulis lain yang ditulis pada kala itu, misalnya pedoman administrasi kerajaan, puisi penuntun moral, tata-bahasa Melayu, dan semacam ensiklop�di bahasa dan budaya Melayu. Pedoman administrasi kerajaan dapat dikatakan merupakan �pemodernan� administrasi kerajaan, sebab pada kala itu buku petunjuk semacam itu dapat dikatakan belum pernah ada. Dalam hal pengetahuan budaya, masyarakat dapat membaca karyanya pada ensiklop�di budaya Melayu berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis pada tahun 1858. Dari karya-karyanya, dapat diketahui tingkat kesadaran bahwa hancurnya suatu kerajaan/negara dapat disebabkan oleh pengabaian bahasa dan adat yang telah mapan, serta ketertiban administrasi.
Ajaran moral, seperti yang dituliskan dalam puisi Gurindam Duabelas merupakan suatu ajaran/tuntunan moral setiap insani. Ajaran-ajarannya tentu saja mengikuti ajaran agama Islam yang kala itu sedang giat-giatnya dipelajari oleh kalangan masyarakat dan elite kerajaan. Ia percaya bahwa hal itu dapat bermanfaat bagi raja untuk menyediakan bahan dan keadaan batin rakyatnya agar memperhatikan seluruh ajaran Islam dan mempersiapkan diri untuk dunia akhirat.
Karya-karya sastra banyak dihasilkan di kerajaan Riau-Lingga (Penyengat). Sebetulnya, ide penulisan karya sastra tersebut kebanyakan diambil dari ajaran Islam. Para pujangga mempelajari budaya dan agama untuk karya sastranya. Dari karya-karya yang dihasilkan itu, tentu saja mengakibatkan timbulnya modernisasi dunia Islam. Pada sekitar tahun 1880 kelompok pujangga Penyengat membentuk organisasi Rusydiyah. Melalui organisasi ini seluruh karya para pujangga dicetak dan diterbitkan oleh percetakan sendiri di Pulau Lingga, kemudian diedarkan ke seluruh masyarakat Melayu di Nusantara. Tidak heran jika hampir diseluruh nusantara banyak ditemukan naskah budaya Melayu.
Penelitian dan Pelestarian
Riau, baik Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau-Lingga dengan pusatnya di Pulau Penyengat. Tinggalan-tinggalan budaya itu ada yang berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak seperti bangunan masjid, istana, benteng, dan makam raja-raja Riau-Lingga.
2
Usaha penelitian dan pelestarian di Situs Pulau Penyengat sudah lama dilakukan dan mulai intensif sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 1981-1983 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan �cole Fran�aise d�Extr�me-Orient (Perancis) melakukan penelitian arkeologi dan naskah di Pulau Penyengat dan Pulau Bintan. Sementara itu Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, serta Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar, telah melakukan pemugaran di Pulau Penyengat sejak tahun 1982/1983 hingga sekarang dilanjutkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.
Penelitian arkeologi yang mengambil lokasi di Situs Kota Lama Penyengat berhasil mengidentifikasikan beberapa buah bangunan, antara lain bangunan istana, masjid, benteng, perkantoran, dan makam raja-raja Riau-Lingga. Di antara bangunan-bangunan itu terdapat tiga macam ukuran jalan, yaitu besar (lebar 8 meter), sedang (lebar 6 meter), dan kecil (di bawah 4 meter). Bangunan Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Abdurahman Muazham Shah pada tahun 1833 merupakan bangunan yang kondisinya terbaik karena merupakan living monumen.
Usaha penelitian dan pelestarian terhadap tinggalan budaya tersebut bukan tidak menghadapi kendala. Anggaran yang terbatas merupakan kendala utama, apalagi untuk pelestarian suatu areal yang luasnya sekitar 20 ha. Bagaimana mungkin dapat terpelihara dengan baik kalau untuk areal seluas itu hanya terdapat 6/7 juru pelihara. Namun, meskipun dengan keterbatasan dana perhatian terhadap pelestarian benda cagar budaya di Penyengat hingga sekarang tidak pernah surut. Berbagai perbaikan dan pelestarian terus dilakukan.
Tulisan tentang tinggalan budaya masa lampau di Penyengat (Kompas, 7-8 Maret 2005) secara tersurat dan tersirat menggugat usaha pelestarian bentuk fisiknya saja, tetapi sebetulnya yang harus �dipugar� dan dilestarikan adalah nilai-nilai budaya masyarakatnya yang sedang mengalami degradasi. Mengapa demikian ? Kita kembali kepada pesan yang tersurat dan tersirat dalam Gurindam Duabelas dimana disebutkan ajaran-ajaran moral, yaitu Pemimpin yang baik akan memberikan contoh moral yang baik pula kepada yang dipimpinnya. Dikaitkan dengan tinggalan budaya materi, dapat diibaratkan bahwa tinggalan yang ada di Penyengat bagaikan onggokan sampah. Kemudian sampah ini dipugar dengan biaya yang cukup besar. Tetapi karena moral masyarakatnya tidak juga dipugar, 3
maka uang yang dikeluarkan untuk pemugaran fisik tadi menjadi sampah lagi. Dengan demikian bangunan-bangunan yang telah dipugar tidak ada gunanya.
Di Tanjung Pinang ada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) untuk wilayah Jambi dan Riau. Tugasnya adalah melakukan kajian terhadap tinggalan budaya yang intangible (budaya tak benda) yang datanya antara lain diperoleh dari sumber yang tangible (budaya benda, naskah). Hasil kajian dari BKSNT ini semestinya disosialisasikan untuk dapat diimplementasikan pada masyarakat, bukan masuk ke perpustakaan atau gudang. Kemudian siapa yang �memugar� moral masyarakatnya? Tentu saja anggota masyarakat itu melalui pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakatnya, seperti yang telah dipesankan oleh Raja Ali Haji melalui Gurindam Duabelas.
Tanggungjawab benda tinggalan budaya masa lampau di Penyengat, baik benda tak bergerak maupun benda bergerak, tidak sepenuhnya dibebankan pada Balai Penyelamatan Peninggalan Purbakala wilayah Riau dan Sumatera Barat. Ada kesan saling melempar tanggungjawab jika sudah menyangkut masalah pengadaan dana. Tuntutan datang dari kelompok yang merasa dikesampingkan, dalam arti tidak diikutsertakan dalam proyek kegiatan.
Pusat Budaya Melayu
Beberapa waktu yang lalu, 2-4 Desember 2003, ketika para Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berkumpul di Beijing dalam rangka Asia-Europe Meeting Ministerial on Cultures and Civilizations, berlangsung suatu pembicaraan bilateral antara Minister for Information, Communication and the Arts Singapura dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Dalam pembicaraan itu antara lain disepakati bahwa Indonesia diminta untuk membantu terbentuknya Pusat Kebudayaan Melayu (Malay Heritage Centre) di Singapura. Sementara itu, di Malaysia telah ada semacam pusat kajian Melayu dalam bentuk institut, yaitu Institut Alam dan Tamadun Melayu (Institut ATMA) yang mengkaji peradaban (tamadun) Melayu dengan segala macam aspeknya, dan Singapura telah memiliki Institute of Southeast Asia Study (ISEAS) yang juga mengkaji bidang-bidang Sosial, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan Asia Tenggara.
ATMA merupakan pusat penyelidikan dan pengkajian Melayu di Malaysia yang dibina khusus untuk menghimpun peneliti dan sarjana dari seluruh dunia
4
dalam suatu usaha besar untuk membina suatu khazanah dan pengetahuan yang lengkap tentang dunia dan peradaban Melayu. Institut ini secara organisasi berada di bawah naungan Universiti Kebangsaan Malaysia. Pada awal berdirinya (tahun 1972) institut ini bernama Institut Bahasa, Kesusasteraan dan Kebudayaan Melayu (Institut BKKM). Kemudian sejak tahun 1993 namanya diubah menjadi Institut ATMA.
Tanggal 28 Juli � 1 Agustus 2004 yang baru lalu, di Tanjung Pinang ada perhelatan budaya yang mengambil tema �Revitalisasi Budaya Melayu�. Perhelatan semacam ini diselenggarakan setiap tahun di tempat yang sama dan dihadiri oleh para pakar dan juragan birokrat pemerintahan. Revitalisasi Budaya Melayu hendak menghidupkan kembali sesuatu yang pernah ada, tetapi sudah lama dilupakan masyarakat. Taufik Ikram Jamil berpendapat, upaya merevitalisasi budaya Melayu tidak lain memberi pemaknaan kembali atau mereposisi kebudayaan Melayu dalam konteks kekinian.
Pendapat dari Taufik Ikram Jamil mungkin perlu digaris bawahi. Raja Malik Hasrizal (seorang pemerhati budaya Melayu) menegaskan: �kondisi Tanjung Pinang saat ini adalah sebuah penurunan moral yang sangat tajam. Bobroknya moral akibat terkikisnya budaya menyebabkan masyarakat hancur� (Kompas, 8 Maret 2005). Rupanya generasi sekarang sudah melupakan budayanya, sudah melupakan pesan-pesan dari Gurindam Duabelas-nya Raja Ali Haji. Jadi pesan dari Gurindam Duabelas untuk memberi pemaknaan kembali kebudayaan Melayu harus dimulai dari pihak yang menjadi panutan, seperti tokoh-tokoh masyarakat dan para juragan di pemerintahan. Rupa-rupanya ada salah persepsi mengenai revitalisasi. Di satu fihak mengacu kepada moral, dan di lain fihak mengacu kepada materi (pemugaran bangunan). Saya lebih suka menterjemahkannya sebagai merevitalisasi moral masyarakat di Tanjung Pinang dan sekitarnya yang sudah mengalami degradasi dan tidak menunjukkan identitas kemelayuannya.
Melihat kekayaan budaya Melayu di Penyengat, aktivitas Pekan Budaya Melayu yang setiap tahun diselenggarakan, dan pernah menjadi pusat kajian Melayu pada sekitar abad ke-19, sudah sepantasnya di Tanjung Pinang atau di Penyengat dibangun Pusat Kajian Kebudayaan Melayu, atau memaksimalkan (revitalisasi) tugas dan fungsi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Mungkin ini dapat dikatakan sangat penting dan perlu disegerakan pembangunannya, karena 5
dikhawatirkan dalam waktu dekat tinggalan-tinggalan naskah segera berpindah tangan. Seorang sahabat di Johor sering menginformasikan bahwa Muzium Johor baru saja membeli naskah dari Tanjung Pinang. Tidak mustahil hal yang sama juga dilakukan oleh ISEAS Singapura. Apalagi Singapura berniat membuat Malay Heritage Centre. Dengan demikian, sebaiknya kita tidak perlu membantu Singapura dalam membangun Malay Heritage Centre, karena berarti sama saja mempelajari budaya sendiri di negeri orang. Kalaupun ada kerjasama, tidak perlu naskah aslinya dibawa ke Singapura, tetapi dalam bentuk mikrofilm misalnya.
Entah apa dasar filosofinya Pemerintah Kota Tanjung Pinang telah berani mencanangkan kotanya dengan sebutan Kota Gurindam. Tentunya dengan sebutan itu mereka harus berani mempertanggungjawabkan pemakaiannya. Dapatkah para tokoh masyarakat dan juragan di pemerintahan mempertanggungjawabkan sesuai dengan yang telah dipesankan oleh Raja Ali Haji melalui Gurindam Duabelas-nya?

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

11 January 2011

BAGIAN II KILASAN SEJARAH HUBUNGAN KETURUNAN RAJA-RAJA MELAYU DAN BUGIS

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Upu Tandru Daeng Rilaka mempunyai 5 orang putra yang berasal dari Negeri Luwuk ( Wa Jo ) lalakaja, yaitu :
1. Daeng Perani
2. Daeng Menambun (Hijrah ke Mempawah)
3. Daeng Merewah
4. Daeng Celak
5. Daeng Kemasi
Kelima panglima laut ini dengan orang tuanya berlayar menuju ke Pulau Jawa (betawi) untuk menemui saudaranya yang bernama Upu Daeng Biasa yang menjadi Mayor Betawi, kemudian dari sana mereka membeli sebuah kapal untuk berlayar ke Melaka. Oleh karena sesuatu hal kapal layar tersebut kandas di Pulau Siantan, tetapi tidak ada kerusakan terhadap kapal tersebut. Setelah beberapa bulan di Pulau Siantan barulah mereka dapat berlayar menuju Negeri Melaka, kemudian ke Negeri Kemboja, kemudian kembali lagi ke Pulau Siantan untuk bertemu dengan nakhoda Alang yang berasal dari bugis juga. Disanalah Daeng Perani memperoleh anak yang bernama Daeng Kemboja setelah menikahi anak Nakhoda Alang yaitu Encik Fatimah. Ketika berada di Pulau Siantan, Upu – Upu tersebut mendapat kabar dari Sultan Abdul jalil R’yat Syah IV sedang berperang dengan Raja Kecik dari Siak sehingga beliau terpaksa mundur ke Kuala Pahang dan terbunuh disana. Oleh karena itu lima bersaudara dari bugis ini segera memburu musuh dari Siak untuk menolong putra Sultan Abdul Jalil yang bernama Sulaiman dan dibawanya putra Sultan Abdul Jalil tersebut untuk diselamatkan dan kemudian Sulaiman dilantik menjadi sultan dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I. Sebagai balas jasa kepada kakak beradik dari bugis ini, maka Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I mengangkat Daeng Merewah sebagai Yang Dipertuan Muda Riau ke I dengan gelar ”Kelana Jaya”.

Sejak itulah pengaruh bugis sangat besar dalam Kesultanan Riau karena jabatan Yang Dipertuan Muda memegang kekuasaan dalam pemerintahan sedangkan sultan hanyalah sebagai Raja di Negeri Riau. Yang sebelum adanya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau maka yang berkuasa atas roda pemerintahan adalah sultan dibantu oleh Bendahara dan Temenggung. Setelah masuknya Bugis di Riau, bendahara pindah ke Pahang dan Temenggung pindah ke Johor, dan orang-orang besar melayu di Bintan sudah membaur dengan keturunan bugis sehingga diberi gelar ”Penggawa Suluatang”. Maka tersebutlah bahwa Yang Dipertuan Muda Riau I (Daeng Merewah) beristrikan Cik Ewa saudara dari Sultan Sulaiman (putri dari Sultan Abdul Jalil). Dari pernikahan Daeng Merewa dengan Cik Ewa ini, beliau di karuniai 2 orang anak yaitu :
1. Raja Fatimah, yang menjadi istri Daeng Kemboja Yang Dipertuan Muda Riau III yang bergelar Sultan Alaudin.
2. Kelana Cik Umun, bersuamikan Salaudin, Sultan Selangor yang pertama.

Daeng Celak (Daeng Pali) diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau ke-II (mangkat pada tahun 1745) beristrikan Tengku Mandak binti Sultan Abdul Jalil (saudara dari Sultan Sulaiman) dan mempunyai 2 orang anak yaitu :
1. Tengku Putih, bersuamikan Sultan Abdul jalil V (raja dibaroh) yang mangkat pada tahun 1760 dan almarhum mempunyai putra bernama Raja Ahmad yang mangkat pada waktu masih kecil.
2. Tengku Hitam, bersuamikan Tuan Syed Hussin dan mempunyai putra : Tengku Syarifah yang bersuamikan Engku Syed Muhammad Zain Al-Qudsidan dan dikaruniai beberapa orang anak, yaitu Tengku Andak, Tengku Ngah, Tengku Ni, Tengku Irang, Tengku Luk dan Tengku Nung.

Adapun Sultan Mahmud Syah III pindah ke Lingga tahun 1792 dan mempunyai 2 putra, yaitu :
1. Husin Syah yang menjadi Sultan di Tumasik (singapura)
2. Abdurrahman, yang menjadi Sultan di Lingga, selanjutnya Sultan Abdurrahman I ini mempunyai 2 orang putra, yaitu :
a. Sultan Mahmud, beliau mempunyai putra bernama Sultan Mahmud IV marhum Pahang.
b. Sultan Sulaiman II

Sistem Pemerintahan Dalam Kesultanan
Pemegang pemerintahan dalam Kesultanan yang ditaklukkan oleh Sultan pada masa itu bergelar Sultan Sri Paduka Dipertuan Besar dan sebelum Bugis masuk ke Riau kesultanan masih dipegang oleh yang berdarah melayu. Untuk memudahkan mengawasi Kesultanan-Kesultanan itu maka diangkatlah Sultan yang ada hubungan darah atau hubungan keluarga dengan Sultan Kemaharajaan Melayu. Dengan sistem keluarga ini, Kemaharajaan Melayu pada masa itu persatuan dan kesatuan kemaharajaan melayu dapat bertahan dan kekal.

Susunan pemerintahan dalam Kesultanan tersebut dapat dipertahankan sampai tahun 1723 dan setelah itu terjadi perubahan-perubahan struktur Pemerintahan Kesultanan, seperti :
1. Sultan : disamping keturunan Sultan sebelumnya, dapat pula menjadi sultan asal ada darah melayu dengan gelar Sultan Sri Paduka Yang Dipertuan Besar.
2. Yang Dipertuan Muda : adalah orang kedua dari sultan yang tidak ada Datuk Bendahara lagi, tapi Yang Dipertuan Muda yang berasal dari keturunan Bugis.
Disamping itu terdapat juga jabatan Laksemana dan Datuk Bendahara serta Hulubalang Kesultanan.

Berikut ini adalah Sultan-Sultan yang pernah memangku jabatan Sultan di Kesultanan Riau, Johor dan Pahang :
1. Sultan Mahmud Syah I 1513 – 1528
2. Sultan Ali Gelar Sultan Alaudin Ri’yat Syah 1530 – 1528
3. Sultan Muzafar Syah II 1564 – 1571
4. Sultan Abdul Jalil Syah I 1571 – 1580
5. Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II 1580 – 1597
6. Sultan Alauddin Ri’yat Syah III 1597 – 1615
7. Sultan Abdul Jalil Muayat Syah 1615 – 1623
8. Sultan Abdul Jalil Syah III 1623 – 1677
9. Sultan Ibrahim Syah 1677 – 1685
10. Sultan Mahmud Syah II 1685 – 1699
11. Sultan Abdul Jalil Ri’yat Syah 1699 – 1719
12. Sultan Abdul Lalil Rahmat Syah 1719 – 1722
13. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah 1722 – 1761
14. Sultan Mahmud Syah III 1761 – 1812
15. Sultan Abdur Rahman Muazam Syah 1812 – 1832




1. Makam Daeng Merewah, YDM RIAU I
Upu Daeng Merewa adalah anak ketiga dari Upu Daeng Rilaka. Setelah Upu Daeng Merewah diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau I barulah beliau beristrikan Encik Ayu (Encik Ewa) anak dari Temenggung Johor. Dari pemikiran beliau dengan Temenggung Johor, maka dikaruniai tiga orang anak, yaitu :
a. Raja Said
b. Kelana Encik Enok
c. Raja Fatimah

Setelah beliau diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau I, tak lama kemudian datanglah kabar dari Negeri Kedah bahwa Raja Kedah meminta bantuan kepada lima orang Upu dari Bugis untuk mengamankan kerusuhan yang terjadi di Negeri Kedah. Kerusuhan ini adalah kerusuhan di dalam lingkungan keluarga istana sendiri, yaitu pertikaian antar anggota keluarga Kesultanan untuk saling berkuasa di Kesultanan Kedah. Hal ini tentu merusak citra Negeri Kedah yang semula dalam keadaan tentram dan aman.

Dengan kedatangan lima orang Upu dari Bugis ini, tak lama kemudian Negeri Kedah dapat diamankan dari pertikaian antar anggota keluarga Kesultanan. Raja Kedah yang lama dinobatkan kembali menjadi Yang Dipertuan Muda Kedah dan para Upu kembali ke Riau dengan membawa hadiah dari Raja Kedah.

Daeng Merewah memerintah Kesultanan Riau pada tahun 1722 sampai dengan 1728. Beliau dikenal juga dengan gelar Kelana Jaya Putra Beliau meninggal di Pusat Pemerintahan Kesultanan – Kesultanan Riau di Hulu Sungai Riau (Sungai Carang). Beliau dimakamkan di Hulu sungai Riau atau saat ini orang lebih mengenal Hulu Sungai Riau tersebut dengan nama Sungai Carang.

2. Daeng Celak
Daeng Celak dikenal juga dengan gelar Daeng Pali atau Raja Muda. Gelar ini diberikan kepada beliau ketika beliau masih berumur belia. Beliau adalah putra ke empat dari lima bersaudara yang merantau ke Kesultanan Riau. Daeng Celak adalah putra dari Upu Daeng Rilaka.

Daeng Celak menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau II dari tahun 1728 sampai 1745. Beliau juga dikenal dengan gelar Sultan Ala’uddin ibnu Upu dan disebut juga Marhum Mangkat di Kota.

Daeng Celak beristrikan Tengku Mandak (saudara Sultan Sulaiman, Raja Johor). Dari hasil pernikahannya dengan Tengku Mandak, beliau dikaruniai 2 orang putra dan 4 orang putri. Berikut ini adalah putra dan putri Daeng Celak dari hasil pernkahannya dengan Tengku Mandak, :
a. Raja Haji Fi Sabilillah ( Marhum Mangkat di Teluk Ketapang )
b. Marhum Salleh ( Raja Selangor Pertama )
c. Tengku Putih (Istri Marhum Abdul jalil )
d. Raja Hitam (Istri Tengku Syed Hussin )
e. Raja Aminah (Istri Arung Lenga)
f. Raja Halimah (Istri Sultan Johor)

Semasa Daeng Celak memerintah Kesultanan Riau, beliau sering berulang alik ke Selangor bersama istrinya Tengku Mandak. Dinegeri Selangor beliau memperistri anak raja Bugis Arong Pala yang bernama Daeng Ma’asik yang kemudian beliau membawa istrinya tersebut ke Kesultanan Riau.

Beliau juga pernah diminta bantuan oleh Raja Selangor untuk mengatasi kerusuhan akibat hasutan Raja Kecik dari Siak kepada Daeng Mateko. Usaha beliau mengatasi kerusuhan ini berhasil dengan gemilang, Raja Kecik kembali ke negerinya Siak karena kalah melawan pasukan Daeng Celak.

Pada masa pemerintahannya, perekonomian Kesultanan Riau maju pesat. Ini tergambar dari banyaknya aktivitas perdagangan di Hulu sungai Riau. Banyak kapal-kapal asing masuk ke Kesultanan Riau untuk melakukan perdagangan.

Komoditi andalan yang diperdagangkan oleh Kesultanan Riau pada masa ini adalah gambir. Daeng Celak mendatangkan bibit gambir dari wilayah sumatra (sumatera utara) untuk di tanam di wilayah Kesultanan Riau. Beliau juga mendatangkan pekerja-pekerja perkebunan gambir dari Cina. Oleh beliau pekerja-pekerja gambir ini di tempatkan di daerah Senggarang. Karenanya, di Senggarang terdapat kelenteng tua peninggalan pekerja gambir tersebut.












Daeng Celak mangkat di Kota – Pusat Kesultanan Riau dan dimakamkan berdampingan dengan istrinya Tengku Mandak tidak jauh dari pusat Kesultanan yaitu di Hulu sungai Riau atau masyarakat saat ini lebih mengenal sungai ini dengan nama Sungai Carang.






3. Engku Puteri – Raja Hamidah

Raja Hamidah atau yang lebih dikenal dengan nama Engku Puteri adalah anak dari Raja Haji Fi Sabilillah dengan istri bernama Raja Perak binti Daeng Kemboja. Tidak diketahui secara pasti tanggal kelahirannya, namun pada saat perang Riau mulai berkobar, sosok Engku Puteri diperkirakan memasuki usia remaja. Beliah dilahirkan di Hulu Sungai Riau, tepatnya di Istana Kota Piring, Biram Dewa.

Setelah ayahandanya wafat di Teluk ketapang (1784), Raja Hamidah beserta saudara-saudaranya dibawa oleh sepupu Raja Ali, Yang Dipertuan Muda Riau V menyingkir ke Sekudana (Kalimantan barat) akibat tekanan politik yang dilakukan oleh J.V. Van Bram. Setelah itu beliau juga lama menetap di Siantan dan sering berulang alik ke Selangor. Baru sepuluh tahun kemudian beliah kembali ke Riau setelah Inggris memulihkan Kesultanan Riau secara de facto kepada Sultan Mahmud Syah III.

Kemudian pada tahun 1803 Raja Hamidah dilamar oleh Sultan Mahmud Syah III. Oleh Sultan Mahmud Syah III, Raja Hamidah diberikan Pulau Penyengat sebagai mas kawin. Segera setelah perkawinan itu berlangsung, Pulau Penyengat yang sebelumnya hanya merupakan kubu pertahanan dijadikan tempat kediaman Raja Hamidah beserta saudara-saudaranya.

Pada saat saudara laki-laki Raja Hamidah yaitu Raja Ja’far dilantik sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VI, maka Pulau Penyengat dijadikan sebagai pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau. Sedangkan adiknya Raja Ahmad Engku Haji Tua (ayahanda Raja Ali Haji) diangkat sebagai Penasehat Kesultanan.

Gelar Engku Puteri diperoleh setelah beliau menikah dan Raja Hamidah termasuk diantara istri sultan yang Gahara karena tidak mendapatkan keturunan. Setelah pemberian gelar itu orang lebih mengenalnya dengan gelar Engku Puteri.

Dalam Kesultanan Riau Lingga, peranan Engku Puteri sangat penting, tidak hanya dikalangan pembesar Kesultanan tetapi juga sangat diperhitungkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hal ini dikarenakan, di tangan beliau diamanahkan Regilia Kesultanan. Sultan Mahmud Syah III memilih Engku Puteri untuk memegang Regilia dikarenakan beliau memiliki kharisma yang dipandang tinggi. Pentingnya kedudukan Engku Puteri pada masa itu karena Regilia Kesultanan adalah alat-alat kebesaran Kesultanan yang wajib dipakai pada saat penobatan Sultan atau Yang Dipertuan Muda Riau. Hal ini juga bermakna bahwa setiap pergantian Sultan atau Yang Dipertuan Muda Riau harus mendapat restu dari pemegang Regilia Kesultanan. Tanpa restu pemegang Regilia Kesultanan, maka status kesultanan atau Yang Dipertuan Muda Riau dianggap tidak syah atau tidak bermakna apa-apa. Diantara Regilia Kesultanan itu adalah sebuah cogan bernama ”sirih besar” yang terbuat dari emas dan bertulang perak. Cogan ini sempat diperebutkan oleh Belanda dan Inggris, karena masing-masing pihak menjagokan calon masing-masing untuk menjadi Sultan atau Yang Dipertuan Besar Riau menggantikan Sultan Mahmud Syah III yang mangkat pada tahun 1812.

Pihak Inggris mendukung Tengku Husein untuk menjadi Yang Dipertuan Besar Riau, sementara itu Belanda menjagokan Tengku Abdul Rahman yaitu adik dari Tengku Husein. Semula Engku Puteri ingin merestui Tengku Husein namu niat ini urung dilakukan karena pihak Inggris bermaksud menyuap beliau dengan 50 ribu ringgit. Engku Hamidah tidak menerima tindakan Inggris tersebut, karena dengan tindakan Inggris itu telah menurunkan marwah melayu.

Akhirnya Belanda mengambil paksa alat-alat kebesaran (regilia) Kesultanan dari tangan Engku Puteri dan melantik Tengku Abdul Rahman sebagai Yang Dipertuan Besar Riau. Inilah kali pertama pelantikan Sultan tidak dilakukan secara murni menurut adat melayu dan tidak pula mendapat restu dari pemegang regilia yang sah, sehingga pelantikan ini dianggap tidak memiliki makna berarti bagi Kesultanan Riau.

Sosok Engku Puteri selalu disebut sebagai tokoh budaya fikir di kalangan perempuan Melayu di zamannya. Beliau mewariskan pemikiran bernas yang masih bermanfaat dan relevan hingga masa kini. Diantara warisan budaya fikir beliau adalah pikiran tentang perempuan. Taarifnya tentang istilah perempuan, nilai-nilai perempuan, sifat semula jadi perempuan, mengenai kecantikan, kesehatan dan keterampilan perempuan Melayu baik secara realitas maupun secara analog yang sampai saat ini masih relevan dengan situasi dan kondisi yang selalu berkembang tiada henti.

Engku Puteri kembali kerahmatullah pada 28 Rajab 1260 H, bersamaan dengan tanggal 7 Juli 1844. Beliau dimakamkan di Pulau Penyegat berdampingan dengan makam madu beliau. Inilah tonggak sejarah yang memberitahukan bahwa wanita memegang peranan atau posisi penting di Kesultanan Riau pada masa itu.


4. Raja Ali Haji

Raja Ali Haji dilahirkan di Pulau Penyengat Indera Sakti pada tahun 1808, meninggal dunia pada tahun 1873 dan dikebumikan di Kompleks Pemakaman Engku Puteri – Raja Hamidah di Pulau Penyengat.

Beliau adalah anak dari pasangan Raja Haji Ahmad dengan Encik Hamidah. Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang cendikia, ulama, pujangga dan budayawan. Jasanya yang paling monumental bagi bangsa Indonesia adalah di bidang bahasa.

Raja Ali Haji berupaya untuk menjaga dan mengawal kemurnian bahasa Melayu yakni dengan melalui karya tulis. Pada tanggal 16 April 1685 Kesultanan Johor mengadakan perjanjian dengan VOC. Sejak saat itu penggunaan bahasa melayu mulai terjadi perbedaan baik dalam kata-kata maupun arti. Hal ini sangat merisaukan Raja Ali Haji. Beliau sadar bahwa kesultanan-kesultanan Riau sejak dikalahkan oleh Belanda setelah terjadi peperangan besar antara Belanda dengan Yang Dipertuan Muda Riau IV – Raja Haji Fi Sabilillah dalam kurun waktu 1777-1784, mestilah diperjuangkan terus tidak hanya melalui kekuatan fisik. Maka beliau berupaya membangkitkan cinta tanah air melalui karya tulis khususnya bahasa dan sastra. Melalui bahasa yang sama, yakni bahasa Melayu Riau, persatuan dan kesatuan bangsa akan terwujud. Beliaupun memanfaatkan media tulis untuk menyebarluaskan karya-karyanya yang penuh semangat kemerdekaan dan tidak hidup dalam kungkungan penjajah.

Raja Ali Haji menulis, kemudian dikirimkannya kepada majalah Tjidschriff voor Nederlanddisch Indie. Tulisannya yang berjudul Syair Abdul Muluk dimuat di majalah tersebut pada tahun 1847. Melalui karyanya ini, nama Raja Ali Haji dikenal luas di dalam dan di luar negeri. Karya-karyanya terus dipublikasikan antara tahun 1847 – 1850. Karya-karyanya penuh semangat kebangsaan, sehingga bangsa penjajah tidak menyukainya.

Raja Ali Haji terus berjuang melalui bahasa. Beliau sadar bahwa penggunaan bahasa Melayu Riau yang semakin tidak teratur akan mengarah kepada bahasa rendah (tidak bermutu). Akhirnya hal itu membuat Raja Ali Haji terpanggil dan bekerja keras menyusun panduan atau acuan Bahasa Melayu Riau yang telah dipergunakan sebagai bahasa lingua franca di Nusantara. Acuan tersebut berupa buku Pelajaran Tata Bahasa, yakni Bustabul Al-Katibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Dengan dua buku itu, Raja Ali Haji menjadi orang pertama (putra pribumi) yang menulis kamus bahasa (kamus monolingual).

Dengan kemampuannya, beliau telah menghasilkan beberapa karya monumental sebagai pengabdian dan perjuangannya kepada bangsa dan negara. Yang merupakan mahakarya beliau yang terkenal adalah Gurindam duabelas, yang mampu memukau dunia dalam bidang kesusastraan. Berikut ini adalah karya-karya Raja Ali Haji yang disenaraikan oleh E. Ulrich Kratz pada tahun 1996 berdasarkan tahun tulis dan tahun terbitnya, yaitu sebagai berikut :
J U D U L TAHUN
TULIS TAHUN
TERBIT
Gurindam duabelas 1847 1853
Bustanu’l –katibin 1857 1857
Mukaddimah fi intizam waza’if
Haji al – malik 1857 1887
Kitab pengetahuan bahasa 1857 1886
Silsilah Melayu dan Bugis 1859 1886
Tuhfat al nafis 1865 1911
Syair kitab/hukum al-nikah – syair suluh pegawai 1865 1932
Syair Siti Sianah / Jawhrat al makmunah 1866 1923
Syair sinar gemala mestika alam - 1893
Syair hukum faraid - 1893
Syair awai - 1863

Atas jasa – jasa beliau dibidang bahasa dan kesusastraan, pada tanggal 6 November 2004, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional atas jasa beliau sebagai ”Tokoh Pemurnian Bahasa Melayu Riau Menjadi Bahasa Indonesia”.







5. Masjid Raya Sultan Riau

a) Sejarah Pembangunan
Masjid yang menjadi kebanggaan orang Melayu ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di Kesultanan Riau, yang bekerja siang dan malam secara bergiliran.
Didalam Masjid tersimpan kitab-kitab kuno (terutama yang menyangkut Agama Islam), bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda menarik lainnya yang terdapat dalam masjid adalah mimbar indah dan kitab suci Al-Quran yang ditulis dengan tangan.

b) Lokasi
Masjid ini terletak di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kepulauan Riau, Indonesia. Pulau Penyengat berukuran 2 x 1 km, berjarak sekitar 2 km dari Tanjungpinang dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dengan perahu motor (pompong).

Masjid ini terletak di pelataran. Kemungkinan lokasi ini adalah bekas bukit kecil yang diratakan, dengan tinggi sekitar tiga meter dari permukaan jalan. Untuk naik masjid ini dibuat tangga yang cukup tinggi.

c) Luas
Masjid ini berukuran 18 x 19,80 meter sementara luas lahan yang digunakan untuk masjid ini adalah berukuran 55 x 33 meter.

d) Arsitektur
Dalam kompleks Masjid, dari tangga hingga mihrab terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah, masing-masing dalam posisi simetris. Dari tangga terdapat jalan setapak dari sumbu tengan dari unit bangunan simetris tersebut. Dihalaman kiri dan kanan masjid terdapat bangunan berdinding beratap limasan batu. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut dengan nama sotoh. Tempat ini berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para cendekiawan dan ulama pada masa itu.
Selain itu, terdapat juga bangunan kembar disisi kiri dan kanan, masing-masing berbentuk persegi empat panjang. Sisi terpanjang sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini semacam gardu, tapi besar, panjang dan tidak berdinding, mempunyai kolong dan terbuat dari konstruksi kayu.
Pintu utama masuk masjid berada di tengah, menjorok ke depan seperti beranda dan diatapi kubah. Disetiap sudut terdapat pilaster. Denah dan semua elemen yang ada dalam masjid berada dalam susunan simetris.
Atap ruang utama sangat unik dan menunjukkan adanya pengaruh india, dimana arsiteknya berasal. Keunikan ini berupa deretan melintang dan membujur dari kubah-kubah.
Kubah berbentuk bawang berbaris empat mengarah kiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang. Secara keseluruhan kubahnya berjumlah 12 dan jika ditambah dengan kubah diatas beranda depan pintu masuk utama maka jumlahnya menjadi 13 kubah.
Masjid ini memiliki 4 buah menara, posisinya berada disetiap sudut ruang utama sholat dengan bentuk yang hampir sama. Puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil. Tampaknya menara-menara ini dipengaruhi oleh menara-menara masjid di Turki, yang sebenarnya berasal dari gaya arsitektur Bizantium. Hal yang sedikit membedakan bahwa menara masjid di Turki runcing, tinggi dan ramping, sementara menara masjid Sultan Riau di Penyengat hanya runcing, namun tidak tinggi dan tidak ramping.

e) Perencana
Berdasarkan cerita turun temurun masyarakat setempat, konon arsitek masjid ini adalah seorang keturunan india yang bermukim di Singapura. Namun tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa nama arsitek dimaksud.

6. Balai Adat Indera Perkasa
Gedung dengan arsitektur tradisional Melayu Kepulauan ini dijadikan Balai Adat untuk memperagakan berbagai bentuk upacara adat Melayu. Letaknya di tepi pantai menghadap laut lepas, amatlah mempesona.
Di dalam gedung ini dapat dilihat tata ruangan dan beberapa benda kelengkapan adat Resam Melayu atau beberapa atraksi kesenian yang diadakan untuk menghormati tamu tertentu.
7. Raja Ja’far
Raja Ja’far - Yang Dipertuan Muda Riau VI - adalah putra Raja Haji Sahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Raja Ja’far menjadi Yang Dipertuan Muda Riau VI tahun 1806-1833. Ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Ladi.

Kompleks makam almarhum Raja Ja’far seluruhnya dibuat dari beton, indah dan kokoh. Pada makam ini terdapat pilar-pilar, kubah-kubah dari beton yang dihiasi ornamen yang menarik. Sebelumnya bangunan ini berfungsi sebagai mushalla yang sering digunakan oleh Raja Ja’far untuk ber-i’tikaf. Di luar cungkup makam ini, dalam kompleks makam terdapat pula kolam air yang dilengkapi tangga batu tempat berwuduk. Di kompleks makam ini terdapat pula makam-makam keluarga bangsawan lainnya.
Di sebelah kompleks makam Raja Ja’far ini berdiri dengan megah gedung yang disebut Gedung Tengku Bilik. Bangunan ini bertingkat dua, dan sudah direnovasi oleh pemerintah daerah. Bangunan ini belum dibuka untuk umum karena proses renovasi dan penataan interior belum selesai. Bentuk bangunannya merupakan ciri-ciri kesukaan para bangsawan Melayu akhir abad XIX, karena seni bangunan seperti itu masih ditemui di Singapura (istana Kampung Gelam), di Johor dan tempat-tempat lain di semenanjung Malaysia. Bangunan ini masih ditempati sampai masa Perang Dunia II dan sekarang masih menarik pengunjung yang datang ke pulau Penyengat.

8. Raja Haji Fi Sabilillah
Raja Haji-Yang Dipertuan Muda Riau IV-adalah pahlawan Melayu yang amat termashur. Beliau berperang melawan penjajah Belanda sejak berusia muda sampai akhir hayatnya dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang tahun 1784.
Raja Haji yang hidup antara tahun 1725-1784 itu telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin, hulubalang dan ulama. Para penulis sejarah mencatat, terutama pada tahun 1782-1784 cukup berpengaruh terhadap stabilitas sosial politik dan ekonomi di wilayah Nusantara dan negeri-negeri Belanda yang sangat tergantung terhadap sumber perekonomiannya di Timur. Beliau menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV dari tahun 1777 sampai dengan 1784.
Pihak Belanda bahkan menganggap bahwa perang yang dipimpin Raja Haji adalah peperangan yang cukup besar dan sempat menggoncangkan kedudukan Belanda di Nusantara. Karena kepahlawanannya itulah, Raja Haji diagungkan masyarakat Melayu, disebut dengan gelar Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang.
Ketika beliau mangkat dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang, jenazahnya kemudian dibawa ke Malaka dan dikebumikan disana. Baru beberapa tahun kemudian jenazah beliau dibawa ke pulau Penyengat dan disemayamkan dalam makam yang terletak di Bukit Selatan pulau Penyengat, bersebelahan dengan makam Habib Syekh, seorang ulama terkemuka di Kesultanan Riau-Lingga.
9. Benteng Bukit Kursi
Benteng Bukit kursi ini hanyalah salah satu benteng yang dijadikan kubu pertahanan untuk menghalau musuh Kesultanan Riau. Benteng pertahanan ini mulai di bangun di Pulau Penyengat oleh Yang Dipertuan Muda Riau IV – Raja Haji Fi Sabilillah. Benteng

ini digunakan oleh Raja Haji Fi Sabilillah untuk melindungi Kesultanan Riau dari serangan musuh terutama Belanda selama Perang Riau yang berkecamuk dari tahun 1782 sampai 1784. Saat ini masih dapat kita jumpai meriam-meriam tua peninggalan Kesultanan Riau semasa perang tersebut.
Sebelum sampai di Benteng Bukit Kursi kita akan melihat satu bangunan yang dibangun dengan beton tebal. Gedung yang dimaksud adalah gedung Mesiu yang digunakan untuk menyimpan bubuk mesiu.
Tak jauh dari Gedung Mesiu juga terdapat makam Raja Abdurrahman. Raja Abdurrakhman - Yang Dipertuan Muda Riau VII - ketika mangkatnya digelar Marhum Kampung Bulang. Raja Abdurrakhman menjadi Yang Dlpertuan Muda Riau tahun 1832-1844. Beliau terkenal aktif dalam menggalakkan pembangunan di pulau ini, serta taat beribadah. Salah satu hasil upaya beliau yang utama adalah pembangunan Mesjid Raya Penyengat. Karena jasanya itutah, ketika beliau meninggal dunia jenazahnya dikebumikan hanya beberapa ratus meter di bagian belakang mesjid, terdapat pada sebuah lereng bukit.








BAGIAN IV
REKONSTRUKSI ISTANA KOTA PIRING
DI BIRAM DEWA

A. Istana Kota Piring sebagai Pusat Pemerintahan
Situs adalah lahan yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan situs tersebut. Menurut pedoman pengelolaan peninggalan sejarah dan purbakala 1991, penyelamatan situs ini merupakan upaya teknis arkeologis untuk menanggulangi dan mencegah rusaknya peninggalan sejarah dan purbakala karena pengaruh alam dan perbuatan manusia.
Artifak yang terlihat diatas permukaan harus tetap dijaga, sementara bagian artifak yang terpendam di dalam tanah diupayakan untuk dapat dikuak. Karena diatas situs Istana Kota Piring terdapat bangunan rumah tinggal masyarakat pendatang, sedangkan dibawah bangunan tersebut mungkin masih terdapat bentuk atau artifak yang ada kaitannya dengan Istana Kota Piring, maka kepada penghuninya harus ditumbuhkan kesadaran untuk tidak menambah luasan dan merubah konstruksi bangunannya yang akan berdampak pada rusaknya artifak yang berada di bawah bangunan.
Tahapan pelaksanaan penyelamatan situs bersejarah Istana Kota Piring meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Merancaang tindakan teknis yang terkait dengan kegiatan ekskavasi (pembukaan) bagian bawah permukaan tanah.
2. memeriksa peninggalan yang ada di situs
3. melakukan pendokumentasian data
4. menilai data secara arkeologis
5. mengemas temuan arkeologis untuk dasar pelaksanaan penelitian lanjutan.
6. menentukan batas wilayah konservasi
Penyelamatan situs Istana Kota Piring telah dimulai sejak adanya perjanjian antara Kesultanan Riau dan VOC pada tahun 1899. Dari surat-surat perjanjian tersebut dapat diketahui bahwa ” .......kedua pulau kecil Beram Dewa, Kampung Melayu ......tidak boleh diduduki tanpa seijin pemerintah negeri di Tanjungpinang dan Raja-raja.....”. Peraturan khusus tersebut telah melestarikan Pulau Biram Dewa yang terdiri dari pulau tempat Istana Kota Piring berada dan pulau kecil yang berada di depannya. Keberadaan Kampung Melayu Kota Piring menegaskan letak Kampung Melayu telah lama berada di sekitar Pulau Biram Dewa.
Kegiatan ekskavasi merupakan penelitian lapangan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Pembukaan situs pada bagian-bagian yang diperkirakan terdapat lanjutan lajuran pondasi akan menghadapi kendala apabila diatasnya terdapat rumah tinggal berkonstruksi permanen.
B. Rekonstruksi Istana Kota Piring
Untuk dapat merekonstruksi Istana Kota Piring sebagaimana kondisinya pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Pahang-Riau dibawah kepemimpinan Yang Dipertuan Besar (Sultan) Mahmud Syah dan Yang Dipertuan Muda IV (Perdana Menteri) Raja Haji Fi Sabilillah pada tahun 1777 – 1784 memerlukan penelitian berkelanjutan, meliputi kegiatan ekskavasi dan penelitian arsitektur yang berkaitan dengan sistem konstruksi dan tata ruang bangunan-bangunan yang ada di kompleks Istana Kota Piring.
Temuan petak pondasi di situs Istana Kota Piring, dan dengan melihat bentuk bangunan tradisional Melayu di Johor dan Pahang, menunjukkan di atasnya akan terdapat bangunan penting berkonstruksi panggung. Apabila dikaitkan dengan bentuk bangunan rumah bumbung panjang melayu yang terdiri dari bangunan induk yang disebut dengan rumah ibu, dan bangunan dibelakangnya yang disebut dengan rumah dapur, memiliki denah berbentuk segi empat panjang. Sementara temuan pondasi petak di situs Istana Kota Piring berbentuk bujur sangkar. Kenyataan tersebut mengarah pada dugaan adanya bagian bangunan Istana Kota Piring berbentuk bangunan panggung yang pilar-pilar kayunya ditancapkan ke dalam tanah. Karenanya untuk menguak bagian artifak yang masih tersembunyi perlu diadakan ekskavasi lahan atau situs tersebut.


C. Gambar Rekonstruksi Istana Kota Piring
Gambar berikut adalah gambar rekonstruksi dan pemetaan Situs Istana Kota Piring di Pulau Biram Dewa. Rancangan gambar ini merupakan hasil riset dan perbandingan dengan bangunan-bangunan istana sejenis di beberapa Kesultanan melayu yang berhubungan dengan Kesultanan Riau.

Peta Lokasi keberadaan Situs Istana Kota Piring, Biram Dewa








Tipe Rumah Kepala Kampung Melaka pada abad ke-15






Rumah Bumbung Panjang Melaka






BAGIAN V
PENUTUP

Seorang sejarahwan yang bernama DR. Anhar Gong Gong dalam suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa peninggalan sejarah berupa fisik, baik itu makam, bangunan ataupun peninggalan lainnya, jika tidak dilihat secara dinamis maka peninggalan sejarah tersebut hanya merupakan batu atau bangunan yang tidak bermakna. Sama halnya seperti batu atau bangunan lainnya. Akan tetapi kalau dilihat bagaimana prosesnya atau peristiwa yang ada disebalik benda peninggalan sejarah itu, barulah peninggalan itu bermaknya. Ada nilai-nilai berharga yang dapat kita petik dari sana.

Nilai-nilai berharga tersebut tentulah dapat diketahui melalui peristiwa sejarah yang melekat pada benda peninggalan sejarah yang ada. Sementara peristiwa-peristiwa sejarah selalu dipakai sebagai tonggak bagi perkembangan awal suatu kawasan sehingga di dalam penelusurannya, suatu peristiwa yang terjadi dapat ditetapkan sebagai hari jadinya kawasan tersebut atau hal-hal lain yang diperlukan oleh suatu kawasan.

Menziarahi makam-makam dan tempat-tempat bersejarah tidak saja bermaksud sekedar melakukan ritual keagamaan, melainkan sejalan dengan itu adalah untuk mengenang jasa-jasa atas perjuangan yang telah dilakukan untuk negeri ini. Pemahaman terhadap nilai-nilai perjuangan pada pendahulu negeri tentu dimaksudkan sebagai evaluasi terhadap apa yang sudah dapat kita perbuat untuk perkembangan daerah ini saat ini dan di masa depan. Kita usahakan daerah Kepulauan Riau dapat berjaya seperti halnya pada zaman Kesultanan Riau dahulu, dimana daerah ini pernah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai selain Melaka.

Tradisi Masyarakat Melayu Riau Menyambut Idul Fitri

Perahu Bagandung
Tradisi Masyarakat Melayu Riau
Menyambut Idul Fitri

Jumat, 18 September 2009
Belum banyak yang tahu bahwa masyarakat Melayu di Riau menyimpan tradisi yang unik-unik dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Setiap kabupaten di Riau memiliki tradisi tersendiri yang terus dilestarikan hingga kini.

Salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup unik di Riau dilakukan oleh masyarakat Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing. Tradisi merayakan Idul Fitri di daerah ini menggunakan perahu hias yang mereka sebut dengan "Perahu Bagandung".

Tradisi Perahu Bagandung ini mereka lakukan di pinggir Sungai Kuantan dan Jembatan Lubuk Jambi. Saat tradisi ini digelar, ribuan warga Lubuk Jambi yang berada di perantauan biasanya pulang ke kampung halamannya untuk lebur dalam mengikuti tradisi ini.

Tradisi masyarakat Lubuk Jambi ini sudah berumur ratusan tahun. Tradisi itu selalu ditunggu-tunggu pelaksanaannya. Jika di Bangkinang ada Balimau Kasai menjelang Ramadhan, maka masyarakat Lubuk Jambi justru "berlimau" dan menyucikan diri menyambut Idul Fitri.

Oleh karena itu, tradisi Perahu Bagandung ini diiringi dengan Manjompuik Limau (menjemput limau). Perahu Bagandung sendiri berarti perahu bergandeng. Perahu ini untuk menjemput limau yang akan digunakan untuk mandi membersihkan diri menghadapi Idul Fitri.

Memang, tradisi yang berlaku di Lubuk Jambi, Perahu Bagandung dan Manjompuik Limau, ini dilaksanakan pagi sebelum shalat Id. Namun, karena kini difestivalkan, maka ditunda pelaksanaannya hingga setelah Idul Fitri.

Perahu Bagandung ini bermula dari sekelompok muda-mudi yang mengantar Limau ke rumah seorang perempuan dengan menggunakan perahu yang digandengkan. Acara mengantar limau ini sama dengan seseorang yang ingin melamar seorang perempuan yang disukainya tetapi sedikit berbeda dengan tunangan.

Mengantar limau dilakukan oleh pihak lelaki sebelum shalat Idul Fitri. Setelah lima hari acara pengantaran limau, maka baru tiba saat perlombaan perahu. Sebelum hari perlombaannya, muda-mudi akan menggandengkan dua buah perahu dan menghiasinya dengan daun kelapa, kain panjang, dan memunyai kubah di puncaknya.

Kubah tersebut dibuat berbentuk bulan yang melambangkan penyambutan Hari Raya Idul Fitri. Perlombaan ini dilaksanakan pada hari keenam dan diikuti pula dengan talempong, randai, saluong, tari-tarian dan lainnya.

Kini acara tersebut difestivalkan oleh masyarakat untuk merayakan Idul Fitri. Agar meriah lagi, tradisi Perahu Bagandung ini biasanya dihadiri pula oleh pejabat daerah, misalnya setingkat gubernur atau bupati.

Dalam acara ini, para rombongan pejabat dipersilakan naik ke atas perahu yang telah disediakan dan bergerak dari hulu Sungai Kuantan, tepatnya dari Desa Koto Lubuk Jambi dan berlabuh di tempat acara tersebut, dan disambut oleh penari-penari.

Selanjutnya, barulah acara pertandingan dimulai dengan ledakan-ledakan "berdir" (semacam meriam dari bambu yang bisa mengeluarkan suara dentuman keras). Penilaian dilakukan oleh ninik-mamak di setiap desa.

Biasanya, acara Perahu Bagandung ini diikuti lebih kurang 15 desa yang ada di Kecamatan Kuantan Mudik. Sistem penilaian dilihat dari kerapian dan keindahan perahunya. Bagi perahu yang paling rapi dan paling indah, maka akan ditunjuk sebagai pemenangnya.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal, yang pernah mengikuti tradisi tersebut, mengatakan, Perahu Bagandung merupakan salah satu khazanah kebudayaan Melayu yang harus terus dipelihara. Karena merupakan salah satu potensi wisata yang luar biasa. "Potensi lainnya dapat habis, tapi potensi wisata tidak. Kita harus terus mengembangkan ini," kata Rusli. Menurutnya, kepala dinas dan stake holders perlu merumuskan pemikiran yang komprehensif dan kontinu untuk kemajuan pariwisata di Riau.

Diakuinya juga, masalah yang masih membentang adalah transportasi. Karena itu, diperlukan pembenahan infrastruktur untuk membuka daerah-daerah terisolir, terutama yang memiliki potensi pariwisata yang bagus. "Ini juga sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat secara umum," katanya. (Adrizas)

Senjata tradisional Badik Tumbuk Lado

Orang-orang Kepulauan Riau sering menyebutnya Badik Tumbuk Lado. Senjata tradisional ini adalah sejenis keris khas kepulauan Riau dan Semenanjung Melayu, bilahnya mirip dengan badik dari Sulawesi tapi sarungnya berbeda karena ada ukiran tebuk tembus yang berbentuk bulat pipih di pangkal bagian belakang sarungnya. Pada pangkal sarung tumbuk lada terdapat benjolan bundar yang dihias dengan ukiran berbentuk tumbuh-tumbuhan yang dipahat. Sarung senjata ini dilapisi dengan kepingan perak yang diukir dengan pola-pola rumit.
Senjata ini tergolong dalam jenis senjata pendek untuk menikam, mengiris dan menjajah dalam pertempuran jarak pendek. Panjang bilah tumbuk lada sekitar 27 cm hingga 29 cm. Lebar bilahnya sekitar 3.5 cm hingga 4 cm. Dari tengah bilah sampai ke pangkalnya terdapat alur yang dalam.
Pada zaman dulu, badik ini menjadi menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat pria di Kepulauan Riau, Deli, Siak dan Semenanjung Tanah Melayu. Tumbuk Lada digunakan secara menikam, mengiris dan menusuk dalam pertempuran jarak dekat. Ia boleh dipegang dengan dua jenis genggaman yaitu dengan mata keatas ataupun mata ke bawah.
Sedihnya, senjata tradisional ini pun tak luput dari pengklaiman sepihak oleh Malaysia. Pada tahun 2005, situs resmi Perpustakaan Negara Malaysia menyatakan badik tumbuk lada sebagai warisan budaya Malaysia (lihat http://malaysiana.pnm.my/05/0501badik.htm). Semoga pemerintah segera bertindak terhadap tindakan pemerintah Malaysia yang semena-mena mengklaim warisan budaya Nusantara sebagai miliknya ini.


Rujukan:
-www.melayuonline.com
-http://budaya-indonesia.org

Hubungan Keris Melayu dan Badik Bugis

THE BUGIS MAKASSAR POLOBESSI CLUB Orang-Makassar bebas merantau, mengikuti arah angin. Ketika musin angin barat, arah perahunyake timur. Sebaliknya pada musim angin timur, mereka ke barat. Jelajah mereka ke segala arah, mengukitu arah mata angin. Di daerah rantau, mereka membentuk kelompok sosial, ekonomi dan kebuadayaan. Dari jejak sejarah jelajah dan petualangannya, mereka berkelompok dan menjadi polisi perairan, atau bahkan menjadi perampok, atau bajak laut yang disegani kawan dan lawan. Tidak jarang, di antara tokoh-tokohnya, ada yang menempati tata susunan politik daerah rantau, melalui perkawinan atau kekuasan senjata, peperangan dan politik.
Dicatat dalam sejarah bahwa, ketika pusat kerajaan Siak, dipindkahkan ke Pekanbaru, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1723-1724) mengangkat bangsawan Bugis menjadi Yang Dipertuan Muda di Riau. Pada saat penahbisan yang Dipertuan Muda Pertama, diucakan ikatan sumpah (kontrak sosial politik), dan kembali diucapkan oleh Yang Dipertuan Muda berikutnya, bahwa Puak Melayu dan Bugis adalah satu, ibarat mata hitam dan putih.
Interaksi dan saling pengaruh mempengaruhi, terjalin demikian eratnya, dalam bilangan generasi ke generasi yang berlangsung, berabad-abad lamanya. Buah hubungan dan keterikatan itu, melahirkan perkembangan terhadap nilai budaya, di antaranya, norma sosial tentang baik dan buruk, pepatah petitih, cara berpakaian, makanan dan kuliner. Bahkan salah satu bukti hubungan itu, ialah dikenal adanya "keris bugis-melayu" dan norma yang berkaitan dengannya.
Oleh Sebab itu, sama sekali tidak aneh, jika karya tempa besi dan pamor, melahirkan teknik tempa dan motif bilah serta pamor yang sama. Transformasi tersebut itulah yang disebut keris/badik Bugis Malay

Makna da ke Khasan Baju tradisional Melayu

Baju Melayu yang biasa di pakai di Malaysia dan negara serantau biasanya terbahagi kepada dua, iaitu baju Melayu potongan Teluk Belanga dan potongan Cekak Musang. Baju Melayu Teluk belanga biasanya lebih terkenal di selatan Malaysia sementara potongan Cekak Musang di kawasan tengah dan utara Malaysia. Potongan tersebut merujuk kepada cara jahitan pada leher baju tersebut, potongan Cekak Musang berbentuk seperti leher baju India hanya bahagian penutup atau rumah butangnya bertindan. Sementara potongan Teluk Belanga pula bahagian lehernya hanya di jahit secara sulaman. Terdapat berbagai bentuk sulaman yang dipadankan seperti Mata Lalat, Tulang Belut dan sebagainya.
Baju Melayu dijahit dalam dua cara iaitu berpesak atau potongan moden atau dipanggil potongan Cina. Di mana lengan baju tersebut disambungkan kepada badan baju.Iaitu secara di sambung terus atau di jahitkan kebahagian lain yang dinamakan pesak dan kekek.
Cara memakai baju juga terdapat perbezaan dimana bagi baju Melayu Teluk Belanga biasanya sampin dipakai diluar baju, manakala baju Melayu Cekak Musang baju di dalam sampin.
Baju Riau
Baju berbelah ini seakan-akan kebaya pendek. Baju Riau juga disebut 'Engku Puteri atau Raja Hamidah' puteri pada Raja Haji iaitu Yang Dipertuan Muda Riau yang kelima dari keturunan Bugis....
pada umumnya baju traisional melayu untuk kaum laki-laki biasanya dilengkapi dengan kain "songket",,,

Baju Belah Kebaya Panjang
Walaupun wanita Johor terkenal dengan baju kurung, tetapi dalam acara majlis, mereka muncul juga dengan memakai kebaya, sebagai warisan daripada Kerajaan Johor-Riau.
Pola baju belah panjang ini masih bersifat ‘mengurungkan’ anggota badan. Secara tradisi potongannya labuh sehingga buku lali. Cuma bezanya ia berbelah dan berpesak di hadapan baju ini, umumnya dipakai sebagai pakaian di luar rumah atau upacara rasmi. Baju belah panjang ini terkenal di Melaka, Perak, Selangor dan Kedah-Perlis. Baju kurung belah ini kemudiannya dikenali sebagai ‘baju panjang’ dan ‘kebaya panjang’. Tradisi ini berkembang menjadi kebaya dan bertangan panjang berpesak lurus di hadapan, berkekek dan berbelah dada yang ditutup dengan kancing atau kerongsang tiga.
Baju Melayu Cekak Musang
Istilah ini berhubung langsung dengan pola lingkaran leher baju, tengkuk ‘cekak’ tinggi atau leher tegak empang leher. Pengertian ‘cekak musang’ merakamkan imej alami untuk leher baju yang bercekak tinggi berdiri (2.5cm) melingkari leher. Ukuran ditentukan oleh lingkaran (bulat) yang dibuat dengan ibu jari lain yang bertemu hujungnya. Baju ini mula dipakai di Johor ketika pemerintahan Sultan Ibrahim Ibni Sultan Abu Bakar.
Baju Teluk Belanga


Baju "Cekak Musang" lengkap
Baju ini mula di perkenalkan di Teluk Belanga, Singapura dan tersebar luas sebagai ciri khas johor khususnya pada abad ke-19. Ia juga dikatakan sejenis pakaian lelaki yang dikatakan telah direka oleh Sultan Abu Bakar pada tahun 1866 untuk meraikan perpindahan ibu negeri Johor dari Teluk Belanga di Singapura ke Johor Bahru. Walau bagaimanapun istilah ini akhirnya menjadi ciri khas masyarakat Melayu hingga disebut selengkapnya ‘Baju Melayu’.
Baju Kurung
Baju kurung dianggap popular dan dipakai oleh lelaki dan perempuan. Perbezaannya terletak pada bahagian kocek iaitu lelaki mempunyai tiga kocek manakala perempuan mempunyai satu kocek serta perbezaan daripada segi pemakaian. Pengertian kurung secara tidak langsung telah membawa erti ‘mengurung atau menutup’ anggota tubuh. Cara ini menepati konsep pakaian cara Melayu setelah kedatangan Islam, sehinggalah istilah ‘kurung’ diertikan sebagai baju yang selesa dan longgar, labuh atau panjang. Sehingga disebut dengan berbagai-bagai nama misalnya ‘baju kurung bernyawa’ walaupun mempunyai pelbagai nama namun baju kurung telah menampilkan ciri-ciri tersendiri.