11 January 2011

Tradisi Masyarakat Melayu Riau Menyambut Idul Fitri

Perahu Bagandung
Tradisi Masyarakat Melayu Riau
Menyambut Idul Fitri

Jumat, 18 September 2009
Belum banyak yang tahu bahwa masyarakat Melayu di Riau menyimpan tradisi yang unik-unik dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Setiap kabupaten di Riau memiliki tradisi tersendiri yang terus dilestarikan hingga kini.

Salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup unik di Riau dilakukan oleh masyarakat Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing. Tradisi merayakan Idul Fitri di daerah ini menggunakan perahu hias yang mereka sebut dengan "Perahu Bagandung".

Tradisi Perahu Bagandung ini mereka lakukan di pinggir Sungai Kuantan dan Jembatan Lubuk Jambi. Saat tradisi ini digelar, ribuan warga Lubuk Jambi yang berada di perantauan biasanya pulang ke kampung halamannya untuk lebur dalam mengikuti tradisi ini.

Tradisi masyarakat Lubuk Jambi ini sudah berumur ratusan tahun. Tradisi itu selalu ditunggu-tunggu pelaksanaannya. Jika di Bangkinang ada Balimau Kasai menjelang Ramadhan, maka masyarakat Lubuk Jambi justru "berlimau" dan menyucikan diri menyambut Idul Fitri.

Oleh karena itu, tradisi Perahu Bagandung ini diiringi dengan Manjompuik Limau (menjemput limau). Perahu Bagandung sendiri berarti perahu bergandeng. Perahu ini untuk menjemput limau yang akan digunakan untuk mandi membersihkan diri menghadapi Idul Fitri.

Memang, tradisi yang berlaku di Lubuk Jambi, Perahu Bagandung dan Manjompuik Limau, ini dilaksanakan pagi sebelum shalat Id. Namun, karena kini difestivalkan, maka ditunda pelaksanaannya hingga setelah Idul Fitri.

Perahu Bagandung ini bermula dari sekelompok muda-mudi yang mengantar Limau ke rumah seorang perempuan dengan menggunakan perahu yang digandengkan. Acara mengantar limau ini sama dengan seseorang yang ingin melamar seorang perempuan yang disukainya tetapi sedikit berbeda dengan tunangan.

Mengantar limau dilakukan oleh pihak lelaki sebelum shalat Idul Fitri. Setelah lima hari acara pengantaran limau, maka baru tiba saat perlombaan perahu. Sebelum hari perlombaannya, muda-mudi akan menggandengkan dua buah perahu dan menghiasinya dengan daun kelapa, kain panjang, dan memunyai kubah di puncaknya.

Kubah tersebut dibuat berbentuk bulan yang melambangkan penyambutan Hari Raya Idul Fitri. Perlombaan ini dilaksanakan pada hari keenam dan diikuti pula dengan talempong, randai, saluong, tari-tarian dan lainnya.

Kini acara tersebut difestivalkan oleh masyarakat untuk merayakan Idul Fitri. Agar meriah lagi, tradisi Perahu Bagandung ini biasanya dihadiri pula oleh pejabat daerah, misalnya setingkat gubernur atau bupati.

Dalam acara ini, para rombongan pejabat dipersilakan naik ke atas perahu yang telah disediakan dan bergerak dari hulu Sungai Kuantan, tepatnya dari Desa Koto Lubuk Jambi dan berlabuh di tempat acara tersebut, dan disambut oleh penari-penari.

Selanjutnya, barulah acara pertandingan dimulai dengan ledakan-ledakan "berdir" (semacam meriam dari bambu yang bisa mengeluarkan suara dentuman keras). Penilaian dilakukan oleh ninik-mamak di setiap desa.

Biasanya, acara Perahu Bagandung ini diikuti lebih kurang 15 desa yang ada di Kecamatan Kuantan Mudik. Sistem penilaian dilihat dari kerapian dan keindahan perahunya. Bagi perahu yang paling rapi dan paling indah, maka akan ditunjuk sebagai pemenangnya.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal, yang pernah mengikuti tradisi tersebut, mengatakan, Perahu Bagandung merupakan salah satu khazanah kebudayaan Melayu yang harus terus dipelihara. Karena merupakan salah satu potensi wisata yang luar biasa. "Potensi lainnya dapat habis, tapi potensi wisata tidak. Kita harus terus mengembangkan ini," kata Rusli. Menurutnya, kepala dinas dan stake holders perlu merumuskan pemikiran yang komprehensif dan kontinu untuk kemajuan pariwisata di Riau.

Diakuinya juga, masalah yang masih membentang adalah transportasi. Karena itu, diperlukan pembenahan infrastruktur untuk membuka daerah-daerah terisolir, terutama yang memiliki potensi pariwisata yang bagus. "Ini juga sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat secara umum," katanya. (Adrizas)

No comments: