THE BUGIS MAKASSAR POLOBESSI CLUB Orang-Makassar bebas merantau, mengikuti arah angin. Ketika musin angin barat, arah perahunyake timur. Sebaliknya pada musim angin timur, mereka ke barat. Jelajah mereka ke segala arah, mengukitu arah mata angin. Di daerah rantau, mereka membentuk kelompok sosial, ekonomi dan kebuadayaan. Dari jejak sejarah jelajah dan petualangannya, mereka berkelompok dan menjadi polisi perairan, atau bahkan menjadi perampok, atau bajak laut yang disegani kawan dan lawan. Tidak jarang, di antara tokoh-tokohnya, ada yang menempati tata susunan politik daerah rantau, melalui perkawinan atau kekuasan senjata, peperangan dan politik.
Dicatat dalam sejarah bahwa, ketika pusat kerajaan Siak, dipindkahkan ke Pekanbaru, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1723-1724) mengangkat bangsawan Bugis menjadi Yang Dipertuan Muda di Riau. Pada saat penahbisan yang Dipertuan Muda Pertama, diucakan ikatan sumpah (kontrak sosial politik), dan kembali diucapkan oleh Yang Dipertuan Muda berikutnya, bahwa Puak Melayu dan Bugis adalah satu, ibarat mata hitam dan putih.
Interaksi dan saling pengaruh mempengaruhi, terjalin demikian eratnya, dalam bilangan generasi ke generasi yang berlangsung, berabad-abad lamanya. Buah hubungan dan keterikatan itu, melahirkan perkembangan terhadap nilai budaya, di antaranya, norma sosial tentang baik dan buruk, pepatah petitih, cara berpakaian, makanan dan kuliner. Bahkan salah satu bukti hubungan itu, ialah dikenal adanya "keris bugis-melayu" dan norma yang berkaitan dengannya.
Oleh Sebab itu, sama sekali tidak aneh, jika karya tempa besi dan pamor, melahirkan teknik tempa dan motif bilah serta pamor yang sama. Transformasi tersebut itulah yang disebut keris/badik Bugis Malay
Dicatat dalam sejarah bahwa, ketika pusat kerajaan Siak, dipindkahkan ke Pekanbaru, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1723-1724) mengangkat bangsawan Bugis menjadi Yang Dipertuan Muda di Riau. Pada saat penahbisan yang Dipertuan Muda Pertama, diucakan ikatan sumpah (kontrak sosial politik), dan kembali diucapkan oleh Yang Dipertuan Muda berikutnya, bahwa Puak Melayu dan Bugis adalah satu, ibarat mata hitam dan putih.
Interaksi dan saling pengaruh mempengaruhi, terjalin demikian eratnya, dalam bilangan generasi ke generasi yang berlangsung, berabad-abad lamanya. Buah hubungan dan keterikatan itu, melahirkan perkembangan terhadap nilai budaya, di antaranya, norma sosial tentang baik dan buruk, pepatah petitih, cara berpakaian, makanan dan kuliner. Bahkan salah satu bukti hubungan itu, ialah dikenal adanya "keris bugis-melayu" dan norma yang berkaitan dengannya.
Oleh Sebab itu, sama sekali tidak aneh, jika karya tempa besi dan pamor, melahirkan teknik tempa dan motif bilah serta pamor yang sama. Transformasi tersebut itulah yang disebut keris/badik Bugis Malay
No comments:
Post a Comment