11 January 2011

Sintaksis Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal dapat dibedakan lagi berdasarkan kategori predikatnya menjadi (1) kalimat berpredikat verbal, (2) kalimat berpredikat adjektival, (3) kalimat berpredikat nominal (termasuk pronominal), (4) kalimat berpredikat numeral, dan (5) kalimat berpredikat frasa preposisional (Alwi, 2003: 336)
Dalam skripsi ini akan dibahas kalimat berpredikat verbal yang diperluas dengan “cara yang menerangkan predikat itu terjadi”. Dari perluasan itu, diperolehlah suatu bentuk yang disebut keterangan cara. Perlu untuk diketahui, unsur kalimat dapat dibedakan atas unsur wajib dan unsur tak wajib (manasuka). Unsur wajib itu terdiri dari konstituen kalimat yang harus ada, sedangkan unsur tak wajib terdiri dari konstituen kalimat yang tidak harus ada. Pada kenyataannya, suatu kalimat seringkali tidak hanya terdiri dari unsur wajib saja, tetapi juga unsur tak wajib. Alwi berpendapat bahwa dari segi struktur, kehadiran unsur tak wajib memperluas kalimat dan dari segi makna unsur tak wajib itu membuat informasi yang terkandung dalam kalimat menjadi lebih lengkap (2003: 365-366). Hal ini mengantarkan penulis untuk memperluas unsur wajib predikat dengan suatu unsur tak wajib keterangan (keterangan cara).
Selain dalam kalimat tunggal, Alwi (2003: 409) menemukan hubungan cara dalam kalimat majemuk bertingkat dengan pernyataannya “Hubungan cara terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama”. Hubungan semantis “cara” bertalian dengan peran semantis klausa adverbial subordinatif.
Suatu perbuatan memiliki cara-cara tertentu dalam pelaksanaannya. Pengungkapan cara perbuatan itu dilaksanakan pun memiliki bentuk (konstruksi) yang bermacam-macam. Cara perbuatan terjadi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yakni secara implisit dan eksplisit. Fokker memandang hubungan (pertalian) secara implisit yaitu apabila dalam pengungkapannya, suatu konstruksi tidak mempergunakan struktur yang bersifat lahiriah (kata tugas), sedangkan pengungkapan pertalian secara eksplisit ialah sebaliknya, yaitu mempergunakan kata tugas sebagai penanda hubungan (1983: 100).
Dari cara implisit dan eksplisit yang digunakan dalam mengungkapkan makna “cara”, akan diperoleh adverbia cara yang berada dalam tataran fungsi keterangan. Dalam tataran fungsi tersebut, keterangan cara dapat berbentuk kata, frasa, atau klausa. Dari bentuk-bentuk tersebut, diperolehlah kata keterangan, frasa depan, frasa keterangan, dan klausa keterangan yang mengandung makna “cara”.
Berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat, Alwi (2003:288) membagi kata tugas menjadi lima kelompok yakni preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas. Sehubungan dengan itu, yang dipergunakan untuk membantu mengungkapkan makna “cara” hanyalah preposisi dan konjungsi.
Preposisi dan konjungsi pada umumnya tidak mengalami perubahan bentuk dan secara sintaktis tidak menduduki fungsi inti kalimat. Kedua jenis kata tugas tersebut juga tidak dapat menjadi kalimat. Preposisi dapat menduduki fungsi keterangan kalimat apabila digunakan sebagai komponen frasa preposisional (Tadjuddin, 2001: 2). Frasa preposisional (depan) terdiri dari preposisi sebagai penanda yang diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya (Ramlan, 2001:163).
Penanda makna “cara” dalam sebuah tuturan ternyata bervariasi dan tidak hanya mengandalkan preposisi dengan atau secara. Kata tugas penanda makna “cara” yang lain yakni preposisi tanpa dan konjungsi dengan, melalui, tanpa, sambil, sembari, dan seraya. Dalam menjalankan perannya untuk menandai hubungan makna antarkonstituennya, kata tugas tersebut dapat dipakai secara bergantian. Sebagai contoh, kata dengan dan secara dalam bahasa Indonesia memiliki kemiripan makna akibat berdistribusi dalam konstruksi gramatika. Kedua kata tersebut dapat saling menggantikan tanpa mengganggu kegramatikalan kalimat.
Contoh:
(1) Secara diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah. (MK-24)
(2) Dengan diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah.
(3) Diam-diam saya mengambil lebih dari satu buah.
Preposisi dengan dan secara menimbulkan hubungan makna. Dalam contoh (1) dan (2) di atas, keduanya menjelaskan “cara mengambil”. Namun, dalam contoh (3) menunjukkan bahwa untuk menerangkan cara predikat berlangsung, sebuah konstruksi tidak harus menggunakan kata tugas.
Kata tugas yang digunakan untuk membantu menghadirkan makna “cara” bukan semata-mata penanda makna “cara”, melainkan juga digunakan dalam menghadirkan makna lain. Oleh karena itu, perlu diadakan klasifikasi yang jelas mengenai keterangan cara agar pemakai bahasa Indonesia dapat membedakannya dari keterangan lain, misalnya:
(i) Saya bekerja dengan kemauan besar.
(ii) Saya bekerja dengan orang besar.
(iii) Saya bekerja dengan kapak besar.
Wujud lahir (luar) ketiga keterangan dalam contoh (i-iii) di atas sama. Akan tetapi, apabila diperhatikan benar-benar jenis nomina yang berada di belakang preposisi, akan tampak bahwa contoh (i) kemauan adalah wujud sifat sehingga dengan kemauan besar merupakan keterangan cara, contoh (ii) orang adalah wujud bernyawa sehingga dengan orang besar merupakan keterangan penyerta (komitatif), dan (iii) kapak merupakan wujud tak bernyawa sehingga dengan kapak besar merupakan keterangan alat (instrumental) (Alwi, 2003: 373).
Sehubungan dengan keterangan cara, Samsuri (1994: 254) menyebutkan bahwa tiap keadaan, peristiwa, atau perbuatan dapat diterangkan cara, tempat, dan waktunya. Kata atau kelompok kata yang dipakai untuk keperluan ini disebut keterangan predikat atau adverba. Lebih lanjut, Alwi dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003:205), mengemukakan “Adverbia kecaraan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi.”
Pemarkah tanya bagaimana dipakai untuk menanyakan ‘keadaan’ atau ‘cara’. Namun, pertanyaan yang memakai bagaimana caranya dapat dipastikan akan mengundang hadirnya adverbia cara. Muslich berpandangan bahwa makna adverbia dapat ditinjau dalam kaitannya dengan unsur lain dari suatu struktur (kaitan relasional). Makna relasional tersebut bisa diamati pada satuan frasa dan klausa. Pada satuan frasa, adverbia secara semantis bergantung pada satuan leksikal lain. Kebergantungan ini merupakan hubungan antara pewatas dan inti, misalnya dalam frasa sangat baik, baik merupakan inti dan sangat merupakan pewatas. Pada satuan klausa atau kalimat, jangkauan makna adverbia meliputi seluruh klausa atau kalimat. Dengan demikian, adverbia tersebut bisa berpindah posisi dalam kalimat. Misalnya dalam kalimat seenaknya dia pergi, adverbia seenaknya bisa berpindah posisi di depan subjek, di antara subjek dan predikat, maupun di belakang predikat (1990: 99-100).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu satuan sintaksis dapat dikenali, apakah keterangan cara atau bukan, ialah dari hubungan makna dengan satuan sintaksis yang lain, sisi acuan kata, dan segi bentuk. Dari sisi acuan kata, adverbia cara mengacu pada cara perbuatan itu terjadi, sedangkan dari segi bentuk suatu unsur (konstituen) memiliki bentuk yang tertentu sehingga bisa dikenali bahwa adverbia tersebut benar-benar merupakan adverbia cara. Biasanya, suatu adverbia (keterangan) cara juga bisa berpindah letak karena ia memiliki sifat yang bebas.
Setiap pembicaraan mengenai tata bahasa tentu melibatkan pembicaraan tentang penggolongan kata. Tanpa penggolongan kata, struktur frasa, klausa, dan kalimat tidak mungkin dapat dijelaskan (Ramlan melalui Lestari, 2005: 2). Pembicaraan tentang penggolongan kata tersebut akan sangat bermanfaat dalam mengklasifikasikan bentuk keterangan cara yang terdapat dalam kalimat bahasa Indonesia.
Penentuan kategori atau kelas kata selain berdasarkan makna yang dikandung oleh kata, juga harus berdasarkan bentuk gramatika, sifat kata, dan perilakunya dalam konstruksi sintaksis (Ramlan melalui Lestari, 2005: 2). Penggolongan kata dapat dilakukan dengan cara memasukkan kata ke dalam konstruksi gramatika, sehingga bersifat sintaksis. Konsep perilaku sintaksis tersebut sangat penting dalam pemerian kategori kata. Dalam bab pembahasan dikupas mengenai jenis (kategori) kata yang mengisi unsur-unsur keterangan cara.

B. Rumusan Masalah
Untuk lebih jelasnya, permasalahan keterangan cara diperinci sebagai berikut.
1. Bagaimanakah mengklasifikasikan bentuk keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia?
2. Bagaimanakah perilaku sintaksis keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah sebagai berikut.
1. Memperoleh klasifikasi yang lengkap mengenai bentuk keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia.
2. Memperoleh deskripsi yang memadai tentang perilaku sintaksis keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia.

D. Sumber Data
Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Merujuk pendapat Sudaryanto, data primer adalah data yang berupa pemakaian bahasa oleh penutur bahasa lisan maupun tulisan, sedangkan yang disebut data sekunder adalah data yang berupa data kebahasaan yang pernah digunakan oleh linguis lain dalam pembahasannya (1993: 10). Sumber-sumber data primer diambil penulis secara substantif. Substantif adalah bahan mentah data yang dalam bentuk konkret tampak sebagai segenap tuturan apa pun yang dipilih oleh peneliti karena dipandang cukup mewakili (Sudaryanto melalui Tim Fakultas Sastra Undip, 1995: 21). Sumber-sumber data primer tersebut, sebagai berikut.
1. Surat kabar dan majalah
a. Hawe Pos (edisi 12/ IV/ Juni 2005)
b. Nuansa (edisi 117/ TH XVIII 2006)
c. Media Semarang (edisi 8 tahun 2007)
d. Gaul (edisi 12 tahun VII, 24-30 Maret 2008)
e. Suara Merdeka (edisi 10 Juni 2008)
f. Semarang Metro (edisi 10 Juni 2008)
2. Biografi Masa Kecilku karya Sudharmono, S. H.
Selain sumber data primer di atas, juga diambil data dari buku-buku beberapa tata bahasawan yang membahas topik serupa serta intuisi penulis asli.
E. Metode dan Teknik Penelitian
Metode adalah cara kerja yang digunakan untuk memahami objek yang bersangkutan, sedangkan teknik adalah jabaran metode yang sesuai dengan alat dan sifat alat yang dipakai (Sudaryanto, 1993: 9).
Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif, maksudnya metode pengkajian atau metode penelitian terhadap suatu masalah yang tidak dirancang dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik (Subroto: 1992: 6). Menurut Subroto (1992: 4-7), penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri: (1) peneliti berperan sebagai instrumen kunci, (2) bersifat deskriptif, (3) lebih mengutamakan proses daripada hasil, dan (4) menganalisis data secara induktif. Penelitian bersifat deskriptif apabila di dalam analisis bahasa bertujuan untuk memerikan cara orang sesungguhnya menggunakan (dan menuliskan) bahasanya, bukan untuk menetapkan bagaimana seharusnya berbicara dan menulis (Ba’dulu dan Herman, 2005: 62).
Dalam penelitian keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia ini digunakan tiga tahapan metode, sebagai berikut.

1. Tahap Pengumpulan Data
Metode yang digunakan pada tahap pengumpulan data ialah metode pustaka dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Dalam metode pustaka, digunakan sumber-sumber tertulis, seperti: majalah, surat kabar, buku bacaan umum, dsb (Subroto: 1992: 41-43). Dari sumber data, data dikumpulkan dengan mencari kalimat yang mengandung keterangan cara. Selanjutnya, kalimat-kalimat data tersebut dicatat ke dalam kartu data, disaring, kemudian diklasifikasikan (dikelompok-kelompokkan). Proses penyaringan dimaksudkan untuk menyaring data yang benar-benar mengandung keterangan cara.

2. Tahap Analisis Data
Pada tahap analisis data, penulis menggunakan metode agih, yaitu metode yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa itu sendiri, seperti: kata, fungsi sintaksis, klausa, dan sebagainya (Sudaryanto, 1993: 15-16). Pelaksanaan metode agih ini dijabarkan dalam suatu teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang dimaksud yaitu teknik bagi unsur langsung (BUL) yang mengandalkan intuisi peneliti. Teknik bagi unsur langsung merupakan teknik analisis dengan cara membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur yang dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 1993: 31). Adapun teknik lanjutan yang dipergunakan untuk membahas masalah-masalah dalam keterangan cara ini, sebagai berikut.

a. Teknik ganti (substitusi)
Teknik ganti (substitusi) digunakan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori unsur terganti dengan unsur pengganti. Apabila unsur-unsur tersebut saling menggantikan, berarti kedua unsur itu berada dalam kelas atau kategori yang sama. Contoh:
(4) Mbah Siten secara bijaksana memberikan petuahnya. (MK-79)
dengan
Dari hasil substitusi kata secara dan dengan dalam contoh (4), diperoleh kalimat yang tetap gramatikal (berterima).

b. Teknik lesap (delisi)
Teknik lesap (delisi) digunakan untuk mengetahui kadar keintian unsur yang dilesapkan. Apabila pelesapan itu menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal, berarti unsur yang bersangkutan kadar keintiannya tinggi, artinya sebagai unsur pembentuk satuan lingual, unsur yang bersangkutan mutlak diperlukan. Contoh:
(5) Masalah itu akhirnya mereka selesaikan secara kekeluargaan.
Apabila kata secara dalam contoh (5) tersebut dilesapkan, akan diperoleh kalimat yang tidak gramatikal, seperti yang terlihat pada kalimat di bawah ini.
(5a) *Masalah itu akhirnya mereka selesaikan (…) kekeluargaan.
Namun, terkadang pelesapan kata secara dapat menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Contoh:
(6) Pungutan liar dibiarkan tumbuh secara ilegal. (SM-3/ 10-06-2008)
Apabila kata secara pada contoh (6) tersebut dilesapkan, akan diperoleh kalimat yang tetap gramatikal, seperti yang terlihat pada kalimat di bawah ini.
(6a) Pungutan liar dibiarkan tumbuh (…) ilegal.

c. Teknik permutasi
Teknik permutasi dilakukan dengan cara mengubah letak unsur kalimat untuk dibandingkan dengan kalimat sebelumnya. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kemungkinan kata tugas (dengan, secara, melalui, tanpa, sambil, sembari, dan seraya) dapat diubah letaknya atau tidak (bersifat longgar atau tidak). Contoh:
(7) Saya dengan malu-malu melaksanakan petunjuk itu. (MK-51)
Apabila keterangan cara dalam contoh (7) tersebut dipermutasi, akan diperoleh kalimat yang tetap gramatikal, seperti yang terlihat pada kalimat di bawah ini.
(7a) Dengan malu-malu saya melaksanakan petunjuk itu.
(7b) Saya melaksanakan petunjuk itu dengan malu-malu.
Dari hasil permutasi dalam contoh (7a) dan (7b) di atas, keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang objek. Posisi keterangan cara dalam contoh (7a) dan (7b) tersebut bersifat longgar.

3. Tahap Pemaparan Hasil Analisis Data
Pada tahap pemaparan hasil analisis data, penyajiannya menggunakan teknik informal meskipun penulis juga menggunakan tanda-tanda dan lambang-lambang. Teknik informal adalah perumusan dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:144-146). Tanda-tanda yang dimaksud, yaitu: tanda kurung kurawal ({}), tanda bintang asterisk (*), dan tanda tanya (?), sedangkan lambang yang dimaksud, yaitu: lambang huruf (N, V, adj, adv, num, pron, mod, prep, konj, dll.).




F. Sistematika Penulisan
Pembahasan keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia, dapat dilihat pada sistematika berikut.
BAB I : Pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, sumber data, metode dan teknik penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori dan Tinjauan Pustaka berisi landasan teori yang digunakan penulis dalam penelitian, deskripsi singkat mengenai fungsi, kategori, dan peran, pendapat para ahli tata bahasa mengenai keterangan cara, dan simpulan pendapat para ahli tata bahasa mengenai keterangan cara.
BAB III : Klasifikasi Bentuk Keterangan Cara dalam Kalimat Bahasa Indonesia berisi klasifikasi bentuk keterangan cara berdasarkan satuan gramatisnya.
BAB IV : Analisis Perilaku Sintaksis Keterangan Cara dalam Kalimat Bahasa Indonesia yang berisi analisis sifat kehadiran, kemampuan substitusi, dan letak keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia.
BAB V : Penutup berisi simpulan dan saran.





BAB II
LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA


A. Landasan Teori
Teori dipergunakan sebagai landasan berpikir untuk memahami, menjelaskan, menilai suatu objek atau data yang dikumpulkan, sekaligus sebagai pembimbing yang menuntun dan memberi arah di dalam penelitian. Subroto memandang teori sebagai landasan untuk menentukan metode dan teknik penelitian (1992: 32).
Landasan teori yang digunakan penulis untuk membahas keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia ini ialah linguistik struktural. Mengenai struktural, Alwasilah mengatakan “Bahasa adalah satu struktur dengan tahapan yang saling berkaitan, satu kesinambungan yang bisa dianalisis” (1993: 44). Lebih lanjut, Subroto berpendapat strukturalisme berarti memerikan serta menerangkan segi-segi tertentu mengenai struktur bahasa berdasarkan fakta-fakta kebahasaan yang dijumpai dalam pertuturan (1992: 32). Jadi, teori struktural membahas bahasa dari segi strukturnya.
Berpijak pada teori tersebut, pembahasan keterangan cara dilakukan dengan mendasarkan penelitian pada fungsi, kategori, dan peran keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia. Dalam kalimat itulah, perilaku keterangan cara akan terlihat.
Pembahasan keterangan cara tidak terlepas dari aspek makna karena pertemuan fungsi-fungsi dalam suatu kalimat menimbulkan hubungan makna. Selain itu, mengingat bahasa merupakan paduan antara aspek bentuk (formal aspect) dan aspet arti (semantic aspect), maka dalam analisis struktural juga dibicarakan segi semantisnya. Hal ini sesuai dengan pandangan kaum strukturalis yang menekankan pada analisis struktural, tetapi tidak meninggalkan arti.
Teori struktural memandang bahwa makna merupakan fenomena bahasa, maka penentuannya juga berdasarkan ciri-ciri yang terdapat dalam bahasa (Ramlan melalui Purwani, 2002: 6). Mengenai keterkaitan antara struktural dengan makna, Alwasillah berpendapat
“Teori struktural memiliki ciri-ciri:
1) Dapat membedakan antara makna leksis dan makna struktur;
2) Pemeriannya harus berbentuk gramatikal formal atau tidak nosional yaitu berdasarkan bukti-bukti sintaksis morfologis;
3) Dalam menganalisis bergerak dari bentuk menuju makna;
4) Menggunakan metode unsur bawah langsung …” (1993: 167).


Berlandaskan pada teori struktural ini, diharapkan akan diperoleh hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan karena teori struktural berusaha menggambarkan fakta atau objek secara empiris.

1. Fungsi, Kategori, dan Peran
Dalam pemerian kalimat, perlu dibedakan antara fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan peran semantis unsur-unsur kalimat. Berikut ini dibahas pengertian fungsi, kategori, dan peran serta hubungan antara fungsi, kategori, dan peran.



a. Pengertian fungsi, kategori, dan peran
Verhaar (1995: 70) membagi sintaksis menjadi tiga tataran, yakni fungsi menduduki tataran teratas, kategori berada di bawah fungsi, dan peran berada pada tataran terendah. Mengenai pengertian fungsi, kategori, dan peran, Verhaar memberikan pendapat sebagai berikut.
“Yang termasuk dalam fungsi adalah istilah seperti subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap. Yang termasuk dalam tataran kategori adalah istilah-istilah kata benda, kata kerja, kata sifat, kata depan, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam tataran peran adalah istilah-istilah seperti pelaku, penderita, penerima, aktif, pasif, dan sebagainya” (1995:70-71).


Tataran fungsi, kategori, dan peran mempunyai hubungan yang erat. Hal itu dapat diketahui dari pendapat Verhaar yang mengatakan
“Setiap fungsi dalam kalimat konkret adalah tempat yang kosong yang harus diisi oleh dua pengisi, yaitu pengisi kategorial (menurut bentuknya) dan pengisi semantis (menurut perannya). Jadi, fungsi itu sendiri tidak memiliki bentuk dan makna tertentu, tetapi harus diisi oleh bentuk tertentu, yaitu kategori dan harus diisi oleh makna tertentu, yaitu peran” (1995:72).



b. Fungsi
Alwi (2003: 36) menyebutkan fungsi sintaksis dalam bahasa yaitu predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Di bawah ini berturut-turut dibicarakan fungsi predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan menurut Alwi (2003: 326-332) dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.



1) Fungsi predikat
Predikat merupakan konstituen pokok yang disertai konstituen subjek di sebelah kiri, dan jika ada, konstituen objek, pelengkap dan/ atau keterangan yang berada di sebelah kanan.

2) Fungsi subjek
Subjek merupakan konstituen kalimat yang memiliki ciri-ciri: pada umumnya berupa nomina, terletak di sebelah kiri predikat, dan menjadi objek akibat pemasifan kalimat.

3) Fungsi objek
Objek merupakan konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif, letaknya selalu langsung setelah predikatnya, dan menjadi subjek akibat pemasifan kalimat.

4) Fungsi pelengkap
Pelengkap merupakan fungsi sintaksis yang memiliki ciri-ciri: bersifat wajib hadir untuk melengkapi suatu perbuatan, terletak di belakang predikat jika tidak ada objek dan di belakang objek kalau unsur ini ada, dan tak dapat menjadi subjek akibat pemasifan kalimat.



5) Fungsi keterangan
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam yang memiliki ciri-ciri: biasanya berupa frasa nominal, frasa preposisional, atau frasa adverbial, paling mudah berpidah letak, dan kehadirannya dalam kalimat bersifat manasuka.

c. Kategori (Kelas) Kata
Pemerian kategori atau kelas kata yang mendasarkan pada konsep perilaku sintaksis, oleh Kridalaksana dinyatakan sebagai berikut.

“Dalam pemerian mengenai kelas kata, konsep yang amat penting ialah konsep perilaku sintaksis. Bagi kami perilaku sintaksis mencakup:
1) Posisi satuan gramatikal yang mungkin atau nyata-nyata dalam satuan yang lebih besar;
2) Kemungkinan satuan gramatikal didampingi atau tidak didampingi oleh satuan lain dalam konstruksi;
3) Kemungkinan satuan gramatikal disubstitusikan dengan satuan lain;
4) Fungsi sintaksis, seperti subjek, predikat, dan sebagainya…” (2005: 44).

Untuk mendeskripsikan tata bahasa secara memadai, dibutuhkan pengklasifikasian (pengkategorian) kata yang selanjutnya menghasilkan kategori (kelas) kata. Kelas kata yaitu perangakat kata yang sedikit banyak berperilaku sintaksis sama (Kridalaksana, 2005: 45). Klasifikasi ini dapat memperlihatkan bagaimana satuan-satuan gramatikal dengan berbagai cirinya berperilaku dalam satuan gramatikal yang lebih besar.
Kridalaksana (2005: 51-123) membagi kategori sintaksis menjadi 13 macam, yaitu: verba, nomina, adjektiva, adverbia, pronomina, numeralia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, fatis, dan interjeksi.
Keterangan cara biasanya berupa adjektiva, frasa adjektiva, adverbia, frasa adverbia, dan klausa adverbia. Hubungan “cara” tersebut ada yang dinyatakan secara implisit dan ada juga yang eksplisit. Hubungan “cara” secara implisit biasanya terbentuk dari gabungan kata yang berasal dari kelas kata tertentu. Sehubungan dengan kelas kata tersebut, berikut ini dibahas beberapa kelas (kategori) kata yang berhubungan dengan keterangan cara ataupun digunakan untuk mengungkapkan makna “cara”.

1) Verba
Alwi (2003:87) menerangkan bahwa verba secara umum dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva, karena memiliki ciri-ciri: memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat, mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat (kualitas), dan tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna “kesangatan”. Contoh verba di antaranya: lihat, meledak, suka, dsb.

2) Adjektiva (kata sifat)
Alwi (2003:171) menerangkan bahwa adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif. Adjektiva juga dapat mengungkapkan kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Contoh adjektiva di antaranya: kecil, senang, bundar, dsb.

3) Adverbia (kata keterangan)
Kridalaksana (2005: 81) menjelaskan bahwa adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi verba, adjektiva, numeralia, atau preposisi dalam konstruksi sintaksis. Alwi (2003:199-206) mengatakan bahwa dalam bahasa Indonesia ada banyak adverbia. Semuanya dapat diklasifikasikan dengan melihat bentuk adverbia, struktur sintaksis adverbia, dan makna adverbia. Berdasarkan maknanya, dapat dibedakan delapan jenis adverbia, yakni adverbia kualitatif, kuantitatif, limitatif, frekuentatif, kewaktuan, kecaraan, kontrastif, dan keniscayaan. Contoh adverbia: hanya, hampir, sangat, dua-dua, habis-habisan, secepatnya, seikhlas-ikhlasnya, dsb.

4) Preposisi (kata depan)
Kridalaksana menyebutkan preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frasa eksosentris direktif (2005: 95). Apabila ditinjau dari perilaku semantisnya, preposisi menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan konstituen di belakangnya. Apabila ditinjau dari perilaku sintaksisnya, preposisi berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbia sehingga terbentuk frasa yang dinamakan frasa preposisional. Contoh preposisi di antaranya: akan, dari, di, ke, daripada, dengan, menjelang, sekitar, terhadap, sejak … sampai, dsb.

5) Konjungsi (kata sambung)
Menurut Kridalaksana, konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaksis dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (2005: 102). Konjungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran maupun tidak setararan.
Sesuai dengan makna satuan-satuan yang dihubungkan oleh konjungsi, dapat dibedakan tugas-tugas konjungsi, seperti: penambahan, pilihan, gabungan, perlawanan, temporal, perbandingan, sebab, akibat, syarat, tak bersyarat, pengandaian, harapan, perluasan, pengantar objek, cara, perkecualian, dan pengantar wacana (Kridalaksana, 2005: 104-105). Contoh konjungsi di antaranya: agar, asalkan, baik … maupun, bahwa, gara-gara, maka, sambil, tanpa, walaupun demikian, dsb.
Berbeda dengan keempat kelas kata utama (nomina, verba, adjektiva, adverbia), kata tugas (preposisi dan konjungsi) hanya mempunyai arti gramatikal (tidak memiliki arti leksikal). Ini berarti bahwa arti kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frasa atau kalimat (Alwi, 2003: 287). Dengan demikian, kata tugas penanda makna “cara” (dengan, secara, melalui, tanpa, sambil, sembari, dan seraya) baru memiliki arti bila dirangkaikan dengan satuan gramatis lain.

d. Peran
Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peran semantis tertentu. Alwi menyatakan bahwa pada dasarnya tiap kalimat memerikan suatu peristiwa atau keadaan yang melibatkan satu peserta atau lebih, dengan peran semantis yang berbeda-beda sehingga dikenal peran semantis pelaku, sasaran, peruntung, pengalam, atribut. Selain itu, juga ada peran keterangan (2003: 334-335).
Keterangan diisi oleh peran semantis lokatif, temporal, cara, benefaktif, peserta, instrumental, kausal, agentif, perbandingan, dan perkecualian (Ramlan, 2001: 83-91). Wahyuningsih (1997: 28) membedakan peran pengisi fungsi keterangan menjadi 13 macam, yakni: agentif, benefaktif, lokatif, reseptif, instrumental, temporal, kausal, metodikal, purposif, komitatif, ekseptif, idratif, dan fundamental.
Sudah jelas, bahwa peran semantis yang dibahas dalam penelitian ini ialah cara (metodikal). “Metodikal merupakan peran yang mengacu pada cara melakukan tindakan” (Wahyuningsih, 1997: 45).

2. Satuan gramatis
Dalam sintaksis dapat dijumpai satuan gramatis yang disebut frasa, klausa, dan kalimat. Ketiga satuan gramatis tersebut mempunyai permasalahan yang berbeda satu sama lain. Sebagai bagian dari ilmu bahasa, sintaksis berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan antara unsur-unsur itu dalam suatu satuan, baik hubungan fungsional maupun hubungan maknawi (Ramlan, 2001: 19).

a. Frasa
Frasa ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa (Ramlan, 2001:138). Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frasa dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, dan frasa adverbial. Akan tetapi, ada juga frasa yang tidak memiliki distribusi yang sama dengan golongan kata, yaitu frasa depan. Frasa depan ialah frasa yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya (Ramlan, 2001: 168).

b. Klausa
Menurut Ramlan (2001:79), klausa ialah satuan gramatik yang terdiri dari subjek, predikat, (O), (Pel), (Ket). Tanda kurung menandakan bahwa apa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, maksudnya boleh ada, boleh tidak.

c. Kalimat
Menurut Ramlan (2001: 21), yang menentukan satuan kalimat bukan banyaknya kata yang menjadi unsurnya, melainkan intonasinya. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. “Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh” (Alwi, 2003:311).

B. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini ditinjau dari segi sintaksis. Dalam analisis sintaksis, penulis mengacu pada konsep-konsep yang dikemukakan beberapa ahli tata bahasa Indonesia, di antaranya: Samsuri (1985) Tata Kalimat Bahasa Indonesia, Ramlan (2001) Sintaksis: Ilmu Bahasa Indonesia, dan Alwi (2003) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Sejauh yang penulis ketahui, belum ada yang membahas keterangan cara dalam bahasa Indonesia secara khusus. Referensi yang penulis gunakan untuk melengkapi tulisan didapat dari buku-buku tata bahasawan besar Indonesia yang membahas keterangan cara secara sekilas yang tercakup dalam pembahasan kategori dan fungsi keterangan yang mengandung peran (makna) “cara” dalam kalimat bahasa Indonesia.

1. Pendapat Para Ahli Tata Bahasa Mengenai Keterangan Cara
Berikut ini dipaparkan hasil pembahasan yang telah dilakukan para ahli tata bahasa Indonesia mengenai keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia.

a. A. A. Fokker
Dalam Pengantar Sintaksis Indonesia (1983:120), dikatakan relasi sirkumstansiil ialah bagian kalimat yang menyatakan keadaan, tempat, atau cara terjadinya sesuatu dari bagian kalimat lainnya. Relasi sirkumstansiil yang diungkapkan secara implisit dalam kalimat majemuk, seperti terlihat dalam contoh berikut.
(1) Tak terdengar langkahnya, tiba-tiba ia di muka kita sudah. (PSI-120)
(2) Dipimpin oleh bapaku, turunlah aku ke sekoci. (PSI-120)
Bentuk kalimat majemuk secara eksplisit dipakai kata penghubung dengan. Kata maka juga dapat dipakai sebagai kombinasinya, misal:
(3) Dengan tidak dibaca lagi, surat itu dibungkusnya. (PSI-120)
Dalam hubungan kalimat majemuk setara, relasi sirkumstansiil dicontohkan seperti dalam kalimat berikut.
(4a) Ini menjadi tuntutan pemerintah.
(4b) Dengan seluruh rakyat berdiri di belakangnya. (PSI-120)
Fokker mengatakan ada relasi bagian-bagian predikat, maksudnya ada unsur-unsur yang menerangkan predikat. Dalam (1983:133) dipaparkan contoh-contoh kalimat yang menurut hemat penulis merupakan contoh keterangan cara, yaitu:
(5) Air sungai perlahan-lahan mengalir. (PSI-140)
(6) Permintaan itu patut dipertimbangkan masak-masak. (PSI-140)
(7) Ia memikirkan langkahnya dengan sehabis-habisnya. (PSI-140)
(8) Kita menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan. (PSI-140)
(9) Anak itu menangis dengan sedihnya. (PSI-140)


b. M. Ramlan
Dalam Sintaksis: Ilmu Bahasa Indonesia (2001:76), Ramlan menjelaskan bahwa terdapat hubungan makna “cara” apabila klausa bawahan menyatakan bagaimana perbuatan yang disebutkan dalam klausa inti dilakukan. Kata penghubung yang digunakan untuk menandai hubungan makna ini secara jelas ialah kata dengan, tanpa, sambil, seraya, dan sembari. Misal:
(1) Narti duduk di tempat tidur dengan kedua kakinya ditumpangkan di sebuah bangku kecil. (S-76)
(2) Tubuhmu yang suci dijamah mereka secara kurang ajar tanpa engkau bisa berbuat apa-apa. (S-76)
(3) Aku mencoba tersenyum sambil menggelengkan kepala. (S-76)
Dari penelitian terhadap makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi keterangan, Ramlan menemukan “makna cara”. Penanda unsur pengisi keterangan yang menyatakan makna “cara” yakni dengan dan secara. Selain dua penanda tersebut, juga ditunjukkan bahwa bentuk [R. adj] bisa digunakan sebagai unsur pengisi keterangan bermakna “cara”.
(4) Para mahasiswa belajar dengan tekun. (S-116)
(5) Koperasi mengumpulkan modal secara gotong-royong. (S-116)
(6) Orang tua itu berjalan pelan-pelan. (S-116)
Dalam bukunya Kata Depan atau Preposisi dalam Bahasa Indonesia (1987), Ramlan menyebutkan ada 115 kata depan, tetapi hanya 53 kata depan saja yang dibahas. Di antara kata depan tersebut ada beberapa kata depan yang dipakai secara bersama-sama, temasuk di dalamnya kata dengan yang dipakai untuk menandai makna “alat”, “peserta”, “cara”, “pelaku”, juga “penderita”. Selain kata dengan, dipakai juga kata secara dalam menandai makna “cara” dan kata tanpa untuk menandai makna “tidak dengan”.

c. N. F. Alieva
Dalam Bahasa Indonesia: Deskripsi dan Teori (1991:423), Alieva menjelaskan bahwa penepatan merupakan anggota sekunder kalimat, yang bertugas menyampaikan ciri, tindakan, atau proses yang dinyatakan oleh kata-kata predikatif. Alieva membedakan penepatan menjadi dua jenis, yaitu penepatan kualitatif dan penepatan temporal.
Menurut Alieva, dalam penepatan kualitatif, adjektiva secara sintaksis berkaitan dengan verba, masuk ke dalam gatra verba tersebut dan memberikan karakteristik tindakan atau proses. Hubungan sintaksis antaranya dapat dinyatakan dengan bantuan kata tugas (dengan atau secara) atau pun secara implisit, yaitu hanya dengan masuknya adjektiva ke dalam gatra verba. Adjektiva tersebut dapat berdampingan langsung di depan atau di belakang verba, atau pun berjauhan dengan verba (1991: 424).
Penepatan kualitatif yang dinyatakan oleh adjektiva yang berdampingan langsung dengan verba, memiliki bentuk yang paling beragam. Keberagaman itu ditunjukkan oleh bentuk reduplikasi, bentuk [se-], bentuk [se- + R + -nya], serta pelbagai kompleks dengan penegas-penegas gramatikal yang khas bagi adjektiva, misalnya:
(1) Kami mau hidup damai. (DDT-424)
(2) Tiba-tiba angin bertiup agak lebih keras daripada biasa. (DDT-424)
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa adjektiva sering mengambil tempat secara langsung di belakang verba tanpa putus hubungannya dari verba. Namun, adjektiva dapat terpisah dari verba oleh satu atau dua kata (terasing dari gatranya), misalnya:
(3) Mereka semuanya menarik napasnya panjang-panjang. (DDT-424)
(4) Ia meneruskan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, makin cepat dari semula. (DDT-424)
Dalam posisi penepatan di belakang verba, sering dijumpai kata ganti adjektiva, seperti demikian dan begitu, seperti yang terlihat dalam contoh berikut.
(5) Sampai hatikah ia berbuat demikian? (DDT-424)
Adjektiva yang dipakai di belakang verba dapat diantarkan dengan preposisi dengan dan secara. Dua penepatan sejenis dalam konstruksi biasanya diantarkan dengan bantuan kata tugas, misalnya dengan. Dengan bantuan kata dengan, kadang-kadang dimasukkan adjektiva berakhiran –nya. Adjektiva yang menerangkan kualitas tindakan atau proses juga dapat menempati posisi di depan verba.
(6) Orang laki-laki itu lesu duduk di atas bangku. (DDT-424)
Dari sembilan jenis keterangan yang dibedakan Alieva (1997: 427-434), dijelaskan keterangan cara tindak (sirkumstansial). Sebuah nomina atau gatra nominal berpreposisi dengan dapat menerangkan bagaimana atau dengan cara apa berlangsungnya suatu tindakan (peristiwa).
(7) Mereka bertolaklah dengan perahu besar. (DDT-432)
(8) Dengan ini kesalahan yang kita buat dibetulkan. (DDT-432)
Gabungan preposisi dengan dengan nomina atau adjektiva dapat menyatakan gejala, peristiwa, dan perasaan yang menyertai tindakan (peristiwa) yang dinyatakan dalam kalimat, seperti yang terlihat dalam contoh:
(9) Dengan perkataan itu ia pun nyah. (DDT-432)
(10) Mereka turun dengan sangat letih dan lesu. (DDT-432)
Tidak adanya peristiwa atau gejala yang menyertai, dinyatakan dengan nomina atau dengan gatra nominal yang memakai kata-kata dengan tiada, tidak dengan, tanpa, sonder (Belanda zonder), misalnya:
(11) Dan bukan karena mau memberi dia makan tiap hari tanpa kerja apa-apa. (DDT-433)
Pola [dengan + adj + gabungan N], dengan adjektiva bermakna “penuh” (penuh, segenap, segala), dipakai untuk menyatakan perasaan yang menyertai subjek dalam melakukan tindakan yang dinyatakan dalam kalimat.
(12) Ia pun akan menerima perubahan itu dengan segala tulus dan ikhlas hati. (DDT-433)
Gabungan preposisi dengan atau secara dengan kata bantu modalitas sepatutnya, patutnya, semestinya, seharusnya juga dapat dipakai dalam fungsi keterangan cara tindak, misalnya:
(13) Daerah ini dikuatkan oleh Surapati secara semestinya. (DDT-433)
Sebagai keterangan, dipakai pula satuan-satuan fraseologis bukan buatan, bukan main, bukan kepalang, bukan alang-kepalang, yang biasanya menyatakan makna keintensifan, derajat tinggi dari perasaan, penderitaan, seperti terlihat dalam contoh berikut.
(14) Ibu marah bukan main. (DDT-433)
Sebagai keterangan cara tindak, dipakai juga kata-kata dan ungkapan hati-hati, barang serambut, barang sedikit, satu sama lain, satu demi satu, dan numeralia distributif lainnya.
Jika gatra verbal menyatakan tindakan, peristiwa, atau proses yang menyertai tindakan utama, maka gatra itu biasanya dibuka dengan salah satu preposisi dengan, sambil, seraya, dengan tidak.
(15) Dan katanya lagi seraya menyebarkan isi gelas ke badan si Baju Biru. (DDT-433)
Verba atau gatra verbal yang menyampaikan makna “cara” tindakan, diawali dengan kata secara. Sering dijumpai pula fungsi sirkumstansial dari gatra verbal yang sudah jelas tanpa pemakaian kata tugas, seperti terlihat dalam contoh berikut.
(16) Penghabisannya Pim dan Hamzah datang, masing-masing membawa cangkul serta sebuah bungkusan. (DDT-434)

d. Samsuri
Samsuri (1994: 256-257) dalam Analisis Bahasa menjelaskan bahwa tiap keadaan, peristiwa, atau perbuatan dapat diterangkan tentang cara, tempat, dan waktunya. Kata atau kelompok kata yang dipakai untuk keperluan ini pada kalimat disebut keterangan predikat atau adverba.
Pada bahasa Indonesia keterangan cara dinyatakan dengan beberapa macam bentuk. Dari beberapa macam bentuk itu, agaknya mudah diduga dari bentuk predikat itu, yaitu apakah sebuah gatra benda, gatra kerja, gatra sifat, gatra bilangan, atau lainnya, yang dipakai sebagai keterangan cara. “Gatra adalah satuan sintaksis bersama fungsinya yang merupakan pemadu” (Samsuri, 1994: 226). Samsuri menjelaskan “Pemadu adalah bagian sebuah konstruksi, baik kalimat atau frasa, yang bersama bagian lain membentuk konstruksi itu” (1994: 224). Gatra benda terbatas sekali dalam pemakaian keterangan cara, yaitu dengan memakai pemadu seperti: hanya, cuma, hanya … saja, masih, masih … saja, masih juga, dsb. Gatra sifat memakai pemadu, seperti: bukan main …nya, luar biasa …nya, cukup, kurang, lebih, dsb. Sukar diperoleh keterangan cara bagi gatra bilangan dan gatra depan, kecuali dengan pemadu hanya, cuma, memang (Samsuri, 1994: 256).
Beliau mengakui agak sukar memisahkan antara “modal” dengan “cara”, lebih-lebih bagi peristiwa dan perbuatan karena orang dapat terkecoh oleh bentuk keterangan-keterangan itu yang sama-sama [R. adj] atau [se- + adj + -nya]. Perlu diketahui, modal menerangkan sikap (suasana) pembicara yang menyangkut perbuatan, peristiwa, keadaan, atau sifat (Kridalaksana, 1990:82). Apabila dilihat dari segi bentuk dan lingkungannya saja, akan terdapat keraguan tentang keterangan yang ada pada sebuah kalimat. Oleh karena itu, mesti dipertanyakan pada diri sendiri, pemadu itu menerangkan apa, predikatnya saja atau seluruh kalimat. Jika yang pertama, sesuai dengan intuisi kebahasaan, maka keterangan itu itu ialah “cara”, dan jika yang kedua, keterangan itu ialah “modal”.
Dalam Tata Kalimat Bahasa Indonesia (1985:133-134), dalam pembahasannya mengenai frasa, dibahas frasa yang sifatnya manasuka, yaitu yang memberi keterangan tambahan pada seluruh kalimat (dasar) dan yang lain memberikan keterangan tambahan pada predikat saja. Frasa-frasa itu sebut saja modalitas, cara, alat, tempat, waktu, aspek, dan suasana. Frasa cara kemudian disebut keterangan cara oleh Samsuri. Contoh keterangan cara itu sebagai berikut.
(1) Tiba-tiba kapal terbang itu jatuh. (TKBI-134)
Bentuk lainnya ialah dengan menggunakan preposisi dengan dan pengulangan adjektiva.
(2) Pejabat itu kaya dengan mendadak. (TKBI-134)
(3) Gadis itu lambat-lambat mengayuh sepedanya. (TKBI-134)
Terdapat kecenderungan pada pemakai bahasa Indonesia untuk memakai adjektiva saja sebagai “cara”. Hanya, perlu diingat bahwa hal itu tidak selalu dapat diterima atau mungkin mempunyai pengertian yang berbeda.
(4) Dokter itu cepat memeriksa pasiennya. (TKBI-134)
(5) *Bu guru mengajar kami sabar. (TKBI-134)
Dalam (1985: 238-245) dijelaskan mengenai keterangan cara dalam bab transformasi keterangan. Adjektiva berfungsi sebagai “cara” apabila dapat berpindah letak, didahului preposisi dengan atau secara, atau memperoleh pengulangan. Tiap adjektiva mempunyai sifat sendiri-sendiri sehingga dalam hal tertentu dapat berfungsi sebagai “cara” dan ada juga yang tidak dapat.
Keterangan cara, yang merangkum keterangan alat, tidak saja terdiri dari [dengan + adj], melainkan juga dapat berwujud [dengan + FN/ FV].
(6) Di zaman Hindia-Belanda dulu aku mencari makan dengan menggesek biola. (TKBI-242)
(7) Mereka merokok dengan berdiam diri. (TKBI-242)
(8) Anak-anak mendengarkan dengan mulut ternganga. (TKBI-242)
(9) Kedua sahabat itu merokok sebatang seorang. (TKBI-242)
(10) Ia menyapu bibirnya dengan kain serbet. (TKBI-242)
(11) Pikiran Dali merentang panjang. (TKBI-242)
Keterangan cara yang hanya berupa adjektiva saja, sebenarnya telah mengalami transformasi kedua, yaitu pelesapan preposisi dengan. Pelesapan preposisi dengan tidak saja dapat diterapkan pada “cara” yang berbentuk [dengan+ F. adj], tetapi juga yang berbentuk [dengan + FV], asalkan verba yang intransitif (tidak membutuhkan objek), misal:
(12) Petani itu hidup dengan bercocok tanam.
(12a) Petani itu hidup bercocok tanam.
Selain bentuk-bentuk tersebut, terdapat sekelompok keterangan cara yang berbentuk [se- + adj + -nya], [se- + adj + mungkin] dan [se- + R. adj + -nya].
Partikel hanya, cuma, sekedar, dan saja tidak dapat dimasukkan ke dalam “cara” karena hanya merupakan pembatas (penanda) frasa saja (Samsuri, 1985: 241).

e. Hasan Alwi
Dalam bukunya Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003: 204-205), Alwi membedakan delapan adverbia dari segi semantisnya. Alwi dengan singkat menjelaskan “adverbia kecaraan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi”. Yang termasuk adverbia kecaraan ini yakni bentuk-bentuk seperti: diam-diam, secepatnya, dan pelan-pelan.
Selanjutnya, beliau juga memaparkan keterangan cara secara khusus. Di situ dijelaskan keterangan cara adalah keterangan yang menyatakan jalannya suatu peristiwa berlangsung (2003: 370-372). Keterangan cara dapat berupa kata tunggal ataupun frasa preposisional. Kata tunggal yang menyatakan cara, misalnya: seenaknya, semaumu, secepatnya, sepenuhnya, dan sebaliknya. Letak keterangan itu pada umumnya sesudah predikat atau objek (kalau ada), tetapi ada juga yang muncul di awal atau akhir kalimat, misal:
(1) Kamu boleh mengambil kue semaumu. (TBBBI-370)
Ada pun frasa preposisional yang menyatakan “cara” biasanya terdiri dari preposisi dengan, secara, tanpa, dan adjektiva (frasa adjektival) atau nomina (frasa nominal) sebagai komplemen. Preposisi tanpa biasanya hanya bisa diikuti nomina sebagai komplemennya. Jika komplemen preposisi itu berupa bentuk ulang adjektiva, maka preposisi yang mendahuluinya dapat dilesapkan.
(2) Kereta itu pun meninggalkan stasiun dengan pelan-pelan. (TBBBI-370)
(2a) Kereta itu pun meninggalkan stasiun pelan-pelan.
Jika komplemen preposisi adalah nomina, maka preposisi dengan, secara, atau tanpa dapat dipakai meskipun tidak selamanya dapat dipertukarkan.
Keterangan cara juga dapat dibentuk dengan menambahkan se- dan –nya pada bentuk ulang kata tertentu. Bentuk ulang dengan [se-…-nya] itu menyatakan makna elatif. Makna elatif itu dapat pula dinyatakan dengan [se-… mungkin], misalnya:
(3) Kami sudah mencoba sekeras mungkin. (TBBBI-371)
Bentuk keterangan cara lainnya berwujud pengulangan kata tertentu kemudian diikuti oleh afiks –an. Kadang-kadang dapat pula didahului preposisi.
(4) Dia terang-terangan menolak ajakan damai kami. (TBBBI-371)
Bentuk terakhir keterangan cara berupa partikel se- yang diikuti kata tertentu. Seringkali demi dipakai sebagai kombinasinya.
(5) Silakan maju setapak. (TBBBI-371)
Hubungan cara juga terdapat dalam kalimat yang klausa subordinatifnya menyatakan cara pelaksanaan dari apa yang dinyatakan oleh klausa utama (2003:409). Subordinator yang dipakai yakni dengan dan tanpa.
(6) Elly Pical mencoba bertahan dengan menghindar. (TBBBI-409)
(7) Pencari intan bekerja tanpa menghiraukan bahaya di sekelilingnya. (TBBBI-409)

f. Lusia Tri Hapsari Wahyuningsih
Dalam skripsinya yang berjudul “Peran Pengisi Keterangan dalam Kalimat Tunggal” (1997), Wahyuningsih membahas 13 macam keterangan pada kalimat tunggal. Salah satu di antaranya yaitu keterangan metodikal (1997: 45-46).
Peran metodikal adalah peran yang mengacu pada cara melakukan tindakan. Peran ini diisi oleh fungsi keterangan yang berbentuk frasa preposisi. Preposisi dengan, secara, tanpa dapat dipakai sebagai penanda peran metodikal yang biasanya diikuti nomina. Selain menggunakan penanda, peran ini dapat berwujud (1) gabungan se- dan –nya dengan kata adjektiva tertentu. Kata-kata yang mengikuti partikel ini biasanya diulang; (2) pengulangan kata tertentu diikuti afiks –an. Kadang-kadang bentuk ini didahului preposisi; dan (3) Partikel se- diikuti kata tertentu. Kata demi sering dipakai dalam kombinasinya.
Dalam skripsinya tersebut dijelaskan peran instrumental, yakni peran yang mengacu kepada alat dan peran komitatif, yakni peran yang mengacu pada peserta dalam suatu tindakan. Beberapa penanda yang digunakan untuk mengisi peran instrumental dan komitatif sama dengan yang digunakan untuk mengisi peran metodikal, yakni dengan dan tanpa.
Dalam (1997: 39) dijelaskan bahwa untuk membedakan ketiga peran (instrumental, komitatif, dan metodikal) yang sama-sama menggunakan penanda dengan dan tanpa yaitu dengan membuat pertanyaan dengan apa, dengan siapa, dan bagaimana. Pemarkah tanya dengan apa menghasilkan peran instrumental, dengan siapa menghasilkan peran komitatif, dan bagaimana menghasilkan peran metodikal.

2. Simpulan Pendapat Para Ahli Tata Bahasa
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan persamaan dan perbedaan pendapat para ahli tata bahasa terhadap pertalian “cara” dalam bahasa Indonesia.



a. Persamaan
Para ahli tata bahasa Indonesia mengkategorikan kata dengan, secara, tanpa, sambil, sembari, seraya dengan pendekatan sintaksis dan semantis (berdasarkan bentuk dan makna).
Secara sintaksis, kata secara dikategorikan sebagai kata depan (preposisi), sedangkan kata tanpa, sambil, sembari, seraya sebagai kata sambung (konjungsi) subordinatif, yaitu kata sambung yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama. Kata dengan dan tanpa dapat dikategorikan sebagai kata depan dan kata sambung. Secara semantis, kata dengan, secara, tanpa, sambil, sembari, seraya berfungsi sebagai kata tugas yang menyatakan hubungan “cara”, di samping tugasnya dalam menyatakan makna lain, yaitu makna alat, komitatif, atau waktu yang bersamaan.
Fokker, Ramlan, Alieva, Alwi, dan Samsuri sama-sama mengungkapkan makna “cara” dalam bentuk kata, frasa, dan klausa. Menurut penulis, dalam contoh keterangan cara yang berbentuk klausa, Ramlan dan Alieva sama-sama mempergunakan penanda sambil, seraya, seraya yang bukan bermakna “cara”, melainkan bermakna “waktu bersamaan”. Maksud waktu bersamaan di sini ialah keterangan yang menunjukkan bahwa peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utama dan klausa subordinatif terjadi pada waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan (Alwi, 2003: 405). Pendapat Alwi dalam pembahasan hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat tersebut disetujui oleh penulis.
Samsuri agaknya sama dengan Alieva yang menandai makna “cara” dengan pemakaian bukan main … nya. Alieva menambahkan bukan buatan, bukan kepalang, bukan alang kepalang yang menyatakan keintensifan perbuatan. Namun, penulis tidak sependapat dengan beliau berdua. Menurut penulis, satuan fraseologis tersebut digunakan untuk menerangkan kualitas adjektiva, bukan “cara” verba terjadi.

b. Perbedaan
Dalam bukunya Analisis Bahasa, Samsuri terhitung paling sederhana dalam mengulas makna “cara” karena beliau hanya membahas makna “cara” dalam topik adverbia cara. Dalam kalimat tunggal, penulis kurang setuju dengan pendapat Samsuri yang menandai adverbia cara dengan hanya, cuma, hanya … saja, masih, masih … saja, masih … juga. Hal tersebut dilakukan Samsuri karena beliau berpendapat bahwa bukan hanya predikat yang berkategori kerja (verba) saja yang dapat diterangkan mengenai cara tindaknya, melainkan nomina, adjektiva, serta numeralia. Namun, dalam bukunya Tata Kalimat Bahasa Indonesia, beliau menyanggah pendapatnya yang demikian. Beliau berpanjang lebar mengemukakan gagasannya mengenai keterangan cara dalam buku tersebut. Beliau membahas frasa yang memberikan keterangan tambahan pada predikat maupun seluruh kalimat, di antaranya pembahasannya mengenai keterangan cara. Contoh-contoh keterangan cara yang dipaparkan pada kalimat tunggal, ada yang disertai kata tugas dan ada juga yang tidak disertai kata tugas. Namun, contoh yang disebutkan Samsuri dicampuradukkan dengan contoh keterangan alat. Alieva pun melakukan hal tersebut.
Alieva berbeda dengan Fokker dalam mengungkapkan keterangan cara secara implisit dalam bentuk kalimat majemuk. Bila Fokker mengungkapkannya dengan cara pelesapan kata dengan dengan letak klausa bawahan (klausa keterangan cara) berada di urutan pertama, Alieva mencontohkannya dengan klausa keterangan cara berada di urutan kedua. Fokker memberi contoh keterangan cara dalam bentuk klausa majemuk setara dan klausa majemuk bertingkat, tetapi beliau hanya membedakan keduanya dengan contoh saja. Penulis tidak sependapat dengan contoh yang diutarakan Fokker dalam tataran klausa majemuk setara karena dalam contohnya tidak mencerminkan kalimat majemuk setara yang mengandung keterangan cara. Berbeda dengan dua ahli tersebut, Alwi tidak membahas keterangan cara dalam bentuk kalimat majemuk bertingkat secara implisit.
Pembahasan keterangan cara dalam skripsi Wahyuningsih kurang begitu mendalam karena terlihat unsur keterangan cara secara implisit dalam kalimat tunggal yang dicontohkannya hanya berupa reduplikasi adjektiva, padahal masih banyak lagi bentuk lainnya.






BAB III
KLASIFIKASI BENTUK KETERANGAN CARA
DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA

A. Pengantar
Kalimat pada umumnya terdiri dari unsur wajib seperti subjek dan predikat. Perluasan kalimat dari segi struktur dapat dilakukan dengan penambahan unsur tak wajib berupa keterangan, salah satunya yakni keterangan cara yang dibahas dalam skripsi ini. Keterangan cara bisa terdiri dari kata, frasa, atau pun klausa.
Dalam keterangan cara, dua kata, frasa, ataupun klausa dapat dihubungkan dengan atau pun tanpa kata penghubung. Hubungan makna yang diungkapkan dengan pertolongan kata penghubung berarti diungkapkan secara eksplisit, sedangkan yang diungkapkan tanpa kata penghubung berarti diungkapkan secara implisit. Fokker menjelaskan bahwa relasi makna implisit dapat diketahui dari intonasi dan posisi bagian-bagian sesamanya. Dari segi posisi bagian-bagian sesamanya, dapat dimengerti bahwa bagian-bagian itu memang tergabung bersama-sama. Dengan demikian, bermacam relasi dapat dibedakan bukan oleh ciri formal saja, melainkan oleh intuisi kebahasaan (1983: 100). Selain dari intonasi dan posisi bagian-bagiannya, relasi makna implisit dapat diketahui dari hubungan makna antara sesamanya saja.


B. Klasifikasi Bentuk Keterangan Cara berdasarkan Satuan Gramatisnya
1. Kata
Keterangan cara yang satuan gramatisnya berupa kata merupakan keterangan cara yang diungkapkan secara implisit. Keterangan cara tersebut dapat berupa kata dasar maupun kata jadian. Kata dasar adalah kata yang berupa morfem dasar bebas, sedangkan kata jadian ialah kata yang telah mengalami proses morfologis. Proses morfologis itu dapat berupa afiksasi, reduplikasi, atau pun pemajemukan.
Ramlan dalam Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif dalam Bahasa Indonesia (2001: 63) menyebutkan bahwa reduplikasi merupakan hasil pengulangan. Proses pengulangan ialah pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada satu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata (Ramlan, 2001: 54). Proses pemajemukan adalah peristiwa bergabungnya dua kata sebagai unsurnya yang menimbulkan suatu kata baru (Ramlan, 2001: 76).
Berikut ini merupakan klasifikasi bentuk keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia yang berupa kata.

a. Kata Dasar
1) Pola 1: adjektiva dasar
Keterangan cara yang berbentuk kata adektiva dasar dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(1) Malam itu saya tidur nyenyak ... . (MK-81)
adj
(2) Wartawan akan bekerja optimal … . (N-2)
adj
(3) Beliau hanya berkata singkat, “Dasar anak, tidak tahu tanggung
adj
jawab.” (MK-96)
(4) Dokter itu sigap memeriksa pasiennya.
adj
Keterangan cara dalam contoh kalimat (1-3) yaitu kata nyenyak, optimal, dan singkat. Kata nyenyak dalam contoh (1) menerangkan cara verba tidur terjadi, begitu pula dengan optimal dan singkat dalam contoh (2 dan 3) yang dengan berurutan menerangkan cara verba bekerja dan berkata terjadi. Dalam contoh kalimat (4), walaupun sigap berada di depan predikat, tetap berfungsi sebagai keterangan cara yang menerangkan verba memeriksa. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(1a) Malam itu saya tidur dengan nyenyak.
(2a) Wartawan akan bekerja secara optimal.
(3a) Beliau hanya berkata dengan singkat, “Dasar anak, tidak tahu tanggung jawab.”
(4a) Dokter itu dengan sigap memeriksa pasiennya.
Bentuk keterangan cara dengan menggunakan kata adjektiva dasar juga berlaku untuk kalimat pasif, seperti yang terlihat dalam contoh kalimat berikut.
(5) Di Yogya kami disambut hangat oleh keluarga dik Kartono. (MK-109)
adj

(6) Buih-buih itu dapat terlihat jelas. (N-10)
adj
Keterangan cara dalam contoh kalimat (5 dan 6) yaitu kata hangat dan jelas yang masing-masing menerangkan verba disambut dan terlihat. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(5a) Di Yogya kami disambut dengan hangat oleh keluarga dik Kartono.
(6a) Buih-buih itu dapat terlihat dengan jelas.
Keekplisitan dalam menyatakan “cara” dalam contoh (1a-6a) ini menjadikan keterangan cara yang sebelumnya berbentuk kata berubah menjadi bentuk frasa depan.
Dalam bentuk keterangan cara yang demikian (bentuk tanpa proses morfologis), adjektiva tersebut memiliki mobilitas yang terbatas (hanya dapat berdampingan langsung dengan verba), ada yang hanya bisa diletakkan di belakang verba, di depan verba, tetapi ada juga yang dapat diletakkan di depan dan di belakang verba.
(1b) *Malam itu saya nyenyak tidur.
(3b) Beliau hanya singkat berkata, “Dasar anak, tidak tahu tanggung jawab.”

2) Pola 2: Kata Pengganti Adjektiva
Keterangan cara dengan menggunakan kata pengganti adjektiva dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(7) Sampai hatikah ia akan berbuat demikian? (DDT-424)
KPA
(8) Janganlah ia dikasari begitu. (DDT-425)
KPA
Keterangan cara dalam contoh kalimat (7 dan 8) yaitu kata demikian dan begitu yang dengan berurutan menerangkan verba berbuat dan dikasari. Mobilitas demikian dan begitu memiliki sifat yang terbatas sehingga keterangan tersebut harus berada langsung di belakang verba.
(7a) *Sampai hatikah demikian ia akan berbuat?
(8a) ?Janganlah ia begitu dikasari.
Dalam contoh (7a) kalimat menjadi tidak gramatikal, sedangkan dalam contoh (8a) kalimat menjadi tidak berterima. Kalimat tersebut menjadi tidak berterima karena tidak menyatakan hubungan “cara” lagi. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(7b) Sampai hatikah ia akan berbuat dengan cara demikian?
(8b) Janganlah ia dikasari dengan cara begitu.

3) Pola 3: verba dasar
Keterangan cara dengan menggunakan verba dasar dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(9) Bangunan tersebut dibongkar paksa oleh Satpol PP. (SMtr-B/ 10-06-2008)
V
Keterangan cara dalam contoh kalimat (9) yaitu kata paksa yang menerangkan verba dibongkar. Pengunaan verba dasar sebagai keterangan cara sangat terbatas jumlahnya. Mobilitas paksa memiliki sifat yang terbatas sehingga keterangan tersebut harus berada langsung di belakang verba. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(9a) Bangunan tersebut dibongkar dengan paksa oleh Satpol PP.
secara

b. Kata jadian (afiksasi)
1) Pola 1: se- + N
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(10) Gadis cantik itu memutuskan kekasihnya sepihak.
se + N
Keterangan cara dalam contoh kalimat (10) yaitu kata sepihak yang menerangkan verba memutuskan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(10a) Gadis cantik itu memutuskan kekasihnya secara sepihak.

2) Pola 2: ber- + N
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(11) Sebaiknya pembongkaran dilakukan bertahap. (SMtr-A/ 10-06-2008)
ber- + N
Keterangan cara dalam contoh kalimat (11) yaitu kata bertahap yang menerangkan verba dilakukan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(11a) Sebaiknya pembongkaran dilakukan secara bertahap.

3) Pola 3: ter- + V
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(12) Mereka berdua ditempatkan terpisah.
ter- + V
(13) Gadis pembawa bendera pusaka itu mundur teratur.
ter- + V
Keterangan cara dalam contoh kalimat (12 dan 13) yaitu kata terpisah dan teratur yang dengan berurutan menerangkan verba ditempatkan dan mundur. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(12a) Mereka berdua ditempatkan secara terpisah.
(13a) Gadis pembawa bendera pusaka itu mundur secara teratur.

4) Pola 4: ekstra + adj
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(14) Obama bersama tim suksesnya harus bekerja ekstrakeras.
ekstra + adj
(SM-15/ 10-06-2008)
Keterangan cara dalam contoh kalimat (14) yaitu kata ekstrakeras yang menerangkan verba bekerja. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(14a) Obama bersama tim suksesnya harus bekerja secara ekstrakeras.

5) Pola 5: se - + V + pron
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(15) Kamu boleh mengambil kue semaumu. (TBBBI-370)
se- + V + pron
(16) Aku telah mengerjakan tugas ini sebisaku.
se- + V + pron
Keterangan cara dalam contoh kalimat (15 dan 16) yaitu kata semaumu dan sebisaku yang dengan berurutan menerangkan verba mengambil dan mengerjakan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(15a) ?Kamu boleh mengambil kue dengan semaumu.
(16a) ?Aku telah mengerjakan tugas ini dengan sebisaku.
Keeksplisitan keterangan tersebut menjadikan kalimat tidak berterima. Apabila diujarkan, kalimat dalam contoh (15a dan 16a) terasa janggal. Ini membuktikan bahwa keterangan cara pola ini lebih lazim digunakan secara implisit.

6) Pola 6: se - + V + -nya
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(17) Kami menggunakan uang saku ini seperlunya.
se- + V + -nya

(18) Laki-laki itu menolong siapa saja sedapatnya. (TKBI-244)
se- + V + -nya
Keterangan cara dalam contoh kalimat (17 dan 18) yaitu kata seperlunya dan sedapatnya yang dengan berurutan menerangkan verba menggunakan dan menolong. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(17a) ?Kami menggunakan uang saku ini dengan seperlunya.
(18a) ?Laki-laki itu menolong siapa saja dengan sedapatnya.
Keeksplisitan seperlunya dan sedapatnya menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.

7) Pola 7: se - + adj + -nya
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(19) Kita bertindak sewajarnya dan tidak melenceng dari jalurnya. (HP-22)
se- + adj + -nya
(20) Secepatnya pihak Ditjen Dikti mengadakan peninjauan akreditasi ke
se- + adj + -nya
Unnes. (N-7)
(21) Dalam agama Theistik, keberadaan Tuhan, Ilah, atau Dewa tidak dapat
dipahami sepenuhnya oleh manusia. (KM-49)
se- + adj + -nya
Keterangan cara dalam contoh kalimat (19-21) yaitu kata sewajarnya, secepatnya, dan sepenuhnya yang dengan berurutan menerangkan verba bertindak, mengadakan, dan dipahami. Seperti sifat keterangan pada umumnya, keterangan cara dapat diletakkan di mana pun, kecuali di antara predikat dan objek dalam kalimat berverba transitif. Hal itu terlihat dalam contoh berikut.
(20a) Pihak Ditjen Dikti mengadakan peninjauan akreditasi ke Unnes secepatnya.
(20b) *Pihak Ditjen Dikti mengadakan secepatnya peninjauan akreditasi ke Unnes.
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(19c) ?Kita bertindak dengan sewajarnya dan tidak melenceng dari jalurnya.
(20c) ?Dengan secepatnya pihak Ditjen Dikti mengadakan peninjauan akreditasi ke Unnes.
(21c) ?Dalam agama Theistik, keberadaan Tuhan, Ilah, atau Dewa tidak dapat dipahami dengan sepenuhnya oleh manusia.
Dalam contoh (19c-21c) terlihat bahwa keekplisitan bentuk kata keterangan [se- + adj + -nya] menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal. Ini berarti bahwa bentuk tersebut lebih lazim diungkapkan secara implisit. Bentuk [¬se-…-nya] biasanya merupakan modal. Namun, dengan menggunakan intuisi kebahasaan, suatu bentuk (konstruksi) dapat dibedakan apakah bentuk tersebut merupakan modal ataukah adverbia cara seperti dalam contoh (19-21) di atas. Contoh sebenarnya gadis itu tidak suka kepadanya bila dilihat dari letak (lingkungannya) dan bentuknya, contoh ini sama dengan contoh (20). Namun, secepatnya merupakan keterangan cara, sedangkan sebenarnya merupakan modal. Hal itu dapat diketahui dari peran kehadirannya dalam kalimat. Seenaknya menerangkan “cara mengadakan”, sedangkan sebenarnya merupakan sikap/ saran dari si pembicara terhadap mereka. Singkatnya, seenaknya menerangkan predikat sedangkan sebenarnya menerangkan seluruh kalimat. Jadi, untuk membedakan “cara” dengan “modal” dalam bentuk yang semacam ini ialah dengan menanyakan kepada diri sendiri, menerangkan apakah konstituen tersebut, predikatnya saja ataukah seluruh kalimat.

8) Pola 8: ber- + V + -an
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(22) Kami berdesakan masuk ke gedung bioskop itu.
ber- + V + -an
(23) Mbah Siten menyambut kedatangan kami…, memeluk dan menciumi kami berdua bergantian…(MK-50)
ber- + V + -an
(24) Saat musim kemarau tiba, daun-daun jatuh berterbangan.
ber- + V + -an
Keterangan cara dalam contoh kalimat (22-24) yaitu kata berdesakan, bergantian, dan berterbangan yang dengan berurutan menerangkan verba masuk, menciumi, dan jatuh. Contoh (22) merupakan bentuk lain dari pola [ber- + R.V + -an], seperti yang terlihat dalam contoh kalimat berikut.
(22a) Kami berdesak-desakan masuk ke gedung bioskop itu.
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(22b) Kami dengan berdesakan masuk ke gedung bioskop itu.
(23b) Mbah Siten menyambut kedatangan kami…, memeluk dan menciumi kami berdua secara bergantian….
(24b) ?Saat musim kemarau tiba, daun-daun jatuh dengan berterbangan.
Keeksplisitan contoh (24b) menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal. Ini berarti tidak semua keterangan cara yang diungkapkan secara implisit dapat dieksplisitkan atau dengan kata lain berterima apabila dieksplisitkan.

9) Pola 9: num per num
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat diihat dalam contoh kalimat berikut.
(25) ...saya dapat melepaskan kambing-kambing itu satu per satu…. (MK-42)
num+ per +num
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam contoh kalimat (25) yaitu satu per satu. Morfem per- dalam contoh tersebut juga dapat disubstitusikan dengan demi. Konstituen ini lebih lazim (berterima) apabila diletakkan di belakang predikat (pada verba intransitif) atau di belakang objek (pada verba transitif).
(25a) *… saya satu per satu dapat melepaskan kambing-kambing itu.

c. Kata Jadian (Reduplikasi)
1) Pola 1: R. penuh
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.

(26) Saya berpegang erat-erat kepada Mbak Siti. (MK-39)
R. adj
(27) Ia berusaha sungguh-sungguh agar lukanya dapat segera sembuh.
R. adv
(MK-69)
(28) Anak-anak berbaris tiga-tiga.
R.num
(29) UKM-BEM dan UKM-HMJ seperti berjalan sendiri-sendiri. (HP-6)
R. pron
Keterangan cara dalam contoh (26-29) yaitu kata erat-erat, sungguh-sungguh, tiga-tiga, dan sendiri-sendiri. Masing-masing kata tersebut merupakan reduplikasi penuh kata yang berkategori adjektiva, adverbia, numeralia, dan pronomina tak takrif. Keempat bentuk tersebut merupakan adverbial (kata keterangan) yang dengan berurutan menerangkan verba berpegang, berusaha, berbaris, dan berjalan. Dua adverbia cara pertama dengan susunan ini dapat diletakkan di mana pun, yakni di awal kalimat, antara subjek dan predikat, dan setelah predikat/ objek, kecuali di antara predikat dengan objek, maupun di belakang keterangan lain. Hal ini dapat terlihat dalam contoh berikut.
(27a) Ia sungguh-sungguh berusaha agar lukanya dapat segera sembuh.
(27b) *Ia berusaha agar lukanya dapat segera sembuh sungguh-sungguh.
Adverbia tiga-tiga hanya dapat diletakkan di belakang predikat.
(28a) *Tiga-tiga anak-anak berbaris.
(28b) *Anak-anak tiga-tiga berbaris.
Dalam contoh (26-29) di atas, secara implisit terkandung keterangan cara. Keterangan cara yang tersembunyi itu, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(26c) Saya berpegang dengan erat kepada Mbak Siti
(27c) Ia berusaha dengan sungguh-sungguh agar lukanya dapat segera sembuh.
(28c) ?Anak-anak berbaris dengan tiga-tiga.
(29c) ?UKM-BEM dan UKM-HMJ seperti berjalan dengan sendiri-sendiri.
Keeksplisitan keterangan cara pada contoh (26c dan 27c) berbeda bentuk karena keeksplisitan bentuk erat-erat lebih berterima bila tidak disertai pengulangan, tetapi keeksplisitan contoh sungguh-sungguh tetap berterima walaupun disertai pengulangan. Namun, keekplisitan pada contoh (28c dan 29c) menjadikan kalimat tidak berterima. Bila diperhatikan, pengulangan penuh yang berkategori bukan nomina ataupun verba seperti dalam contoh (27-29) disebut adverbia yang mengandung makna “cara”. Namun, perhatikan konstruksi murid itu akan lulus kira-kira. Walaupun bentuknya merupakan pengulangan penuh, kira-kira bukan merupakan adverbia bermakna “cara”. Pada umumnya, “modal/ modalitas” memiliki bentuk [se- + adj + -nya], tetapi ada juga yang berupa pengulangan penuh. Kata kira-kira tidak menerangkan akan lulus, tetapi merupakan sikap pembicara terbadap pernyataannya “murid itu akan lulus”. Jadi, kira-kira dalam contoh kalimat tersebut merupakan “modal” walaupun bentuknya reduplikasi.


2) Pola 2: R. (sebagian)
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(30) Saya menangis tersedu-sedu. (MK-27)
R. adj
(31) Di Indonesia, peranan Ibu dalam sastra dihilangkan perlahan-lahan.
R. adj
(KM-18)
(32) Setelah berlangsung kurang lebih dua bulan, keadaan Mbak Siti
berangsur-angsur membaik. (MK-68)
R. V
Keterangan cara dalam contoh kalimat (30-32) yaitu kata terisak-isak, perlahan-lahan, dan berangsur-angsur yang dengan berurutan menerangkan verba menangis, dihilangkan, dan membaik. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(30a) Saya menangis dengan tersedu-sedu.
(31a) Di Indonesia, peranan Ibu dalam sastra dihilangkan secara perlahan-lahan.
(32a) Setelah berlangsung kurang lebih dua bulan, keadaan Mbak Siti secara berangsur-angsur membaik.

3) Pola 3: R. adj + -an
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(33) Dia terang-terangan menolak ajakan damai kami. (TTBI-372)
R. adj + -an
(34) Waktu itu kami mempertahankannya mati-matian. (TTBI-372)
R. adj + -an
(35) Hal ini kemudian ditentang habis-habisan oleh kaum feminis. (KM-10)
R. adj + -an
(36) Depdiknas dan LPTK sering asal-asalan menyelenggarakan sertifikasi.
R. adj + -an
(N-20)
Kata terang-terangan, mati-matian, dan habis-habisan dalam contoh kalimat (33-35) merupakan keterangan cara berbentuk kata yang menyatakan makna “cara yang dilakukan sampai ke titik yang paling tuntas”, sedangkan pada contoh (36) tidak demikian. Asal-asalan menyatakan verba dilakukan dengan cara “tidak sungguh-sungguh”. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(33a) Dia dengan terang-terangan menolak ajakan damai kami.
secara
(34a) Waktu itu kami mempertahankannya dengan mati-matian.
secara
(35a) Hal ini kemudian ditentang secara habis-habisan oleh kaum
feminis.
(36a) Depdiknas dan LPTK sering secara asal-asalan menyelenggarakan sertifikasi.


4) Pola 4: se- + R. Adj + nya
Keterangan cara dengan susunan seperti ini menyatakan makna “derajat yang paling tinggi”. Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(37) Tolong Ibu terangkan sejelas-jelasnya.
se- + R. adj + nya
(38) …anak-anak terus belajar sebaik-baiknya… . (MK-45)
se- + R. adj + nya
Kata sejelas-jelasnya dan sebaik-baiknya dalam contoh kalimat (37 dan 38) merupakan keterangan kalimat yang menjelaskan bagaimana verba terangkan dan belajar dilakukan. Keterangan yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(37a) Tolong Ibu terangkan dengan sejelas-jelasnya.
(38a) …anak-anak terus belajar dengan sebaik-baiknya.
Namun demikian, pola [se- + R. adj + nya] tidak serta merta merupakan bentuk adverbia cara. Pada contoh panitia ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, kata sebanyak-banyaknya tidak menerangkan cara verba mendapatkan, tetapi menerangkan jumlah keuntungan. Pola [se- + R. adj + -nya] dapat disubstitusikan dengan pola [se- + adj + mungkin]. Contoh:
(37b) Tolong Ibu terangkan sejelas mungkin.
(38b) …anak-anak terus belajar sebaik mungkin…
Sejelas mungkin dan sebaik mungkin dalam contoh (37b dan 38b) merupakan keterangan kalimat yang menjelaskan bagaimana verba terangkan dan belajar dilakukan. Jadi, keterangan cara dalam contoh (37b dan 38b) yaitu sejelas mungkin dan sebaik mungkin.

5) Pola 5: ber- + R.V + -an
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(39) Kami berdesak-desakan masuk ke gedung bioskop itu.
ber- + R.V + -an
(40) Banyak orang berkejar-kejaran memperoleh gelar dan jabatan dengan
ber- + R.V + -an
pengetahuan yang mereka punyai. (KM-42)
(41) Rombongan demonstran berjalan berarak-arakan dari arah selatan
ber- + R.V + -an
menuju gedung Dekopinda. (SMtr-H/ 10-06-2008)
Keterangan cara dalam contoh kalimat (39-41) yaitu kata berdesak-desakan, berkejar-kejaran, dan berarak-arakan yang dengan berurutan menerangkan verba masuk, memperoleh, dan berjalan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(39a) ?Kami dengan berdesak-desakan masuk ke gedung bioskop itu.
(40a) ?Banyak orang dengan berkejar-kejaran memperoleh gelar dan jabatan dengan pengetahuan yang mereka punyai.
(41a) Rombongan demonstran berjalan secara berarak-arakan dari arah selatan menuju gedung Dekopinda.
Keekplisitan dalam contoh (39a dan 40a) menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.

6) Pola 6: ber- + R. num +-an
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(42) Mereka duduk berdua-duaan di belakang rumah.
ber- + R. num + an
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam contoh kalimat (42) di atas yaitu kata berdua-duaan. Keterangan cara yang implisit ini menjadi janggal apabila dieksplisitkan.
(42a) ?Mereka duduk dengan berdua-duaan di belakang rumah.
Keeksplisitan berdua-duaan dalam contoh (42a) menjadikan kalimat tersebut tidak berterima.

d. Kata jadian (Pemajemukan)
Keterangan cara dengan menggunakan kata majemuk dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(43) Mereka membabi buta menyabetkan parang-parang mereka ke tubuh
adj
simbah kakung saya. (N-18)
(44) Neva mesti berlapang dada menerima kekalahannya. (G-33)
adj
(45) Surat pengaduan ini ditulis panjang lebar.
adj
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam contoh kalimat (43-45) di atas yaitu kata membabi buta, berlapang dada, dan panjang lebar yang dengan berurutan menerangkan verba menyabetkan, menerima, dan ditulis. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(43a) Mereka dengan membabi buta menyabetkan parang-parang mereka ke tubuh simbah kakung saya.
(44a) ?Neva mesti dengan berlapang dada menerima kekalahannya.
(45a) Surat pengaduan ini ditulis dengan panjang lebar.
secara
Keeksplisitan berlapang dada menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal. Apabila kata majemuk tersebut tidak mendapatkan awalan ber-, keekplisitan dalam contoh kalimat tersebut akan tetap berterima.

2. Frasa
Keterangan cara yang berupa frasa dibagi menjadi dua jenis, yakni frasa keterangan yang dinyatakan secara implisit dan frasa keterangan yang dinyatakan secara eksplisit. Frasa keterangan yang implisit berupa gabungan kata dari dua kategori atau lebih, sedangkan frasa keterangan secara eksplisit terdiri dari frasa depan.
Berikut ini merupakan klasifikasi bentuk keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia yang berupa frasa.

a. Implisit
1) Pola1: tak + R. V + -nya
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(46) Pakde Sosro tak henti-hentinya berkomat-kamit … . (MK-84)
tak + R.V + -nya
Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam contoh kalimat (46) yaitu frasa tak henti-hentinya yang menerangkan verba berkomat-kamit. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(46a) ?Pakde Sosro dengan tak henti-hentinya berkomat-kamit.
Keeksplisitan tak henti-hentinya dalam contoh (46a) tersebut menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.

2) Pola 2: se- + adj + mungkin
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(47) Dia diajari mengasah pisau setajam mungkin. (HP-15)
se- + adj + mungkin
(48) …luka eksem itu sebelum diberi obat yang dari dokter itu dicuci
dulu sebersih mungkin dengan dikucuri air susur. (MK-69)
se- + adj + mungkin
(49) Pihak PGKSD sudah berusaha semaksimal mungkin. (N-7)
se- + adj + mungkin
Keterangan cara dalam contoh kalimat (47-49) yaitu frasa setajam mungkin, sebersih mungkin, dan semaksimal mungkin yang dengan berurutan menerangkan verba mengasah, dicuci, dan berusaha. Ketiganya merupakan bentuk frasa adjektiva atributif yang menduduki fungsi keterangan. Pola keterangan yang demikian dapat dipertukarkan dengan bentuk kata keterangan dengan pola [se- + R. adj + -nya] di atas.
(47b) Dia diajari mengasah pisau setajam-tajamnya.
(48b) …luka eksem itu sebelum diberi obat yang dari dokter itu dicuci dulu sebersih-bersihnya dengan dikucuri air susur.
(49b) ?Pihak PGKSD sudah berusaha semaksimal-maksimalnya.
Bila dilihat dari hasil substitusi di atas, terlihat contoh (47a dan 48a) tetap berterima, tetapi tidak demikian dengan contoh (49a). Hal ini membuktikan bahwa substitusi seperti ini hanya berlaku untuk kata yang berasal dari bahasa Indonesia asli. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(47b) ?Dia diajari mengasah pisau dengan setajam mungkin.
(48b) ?…luka eksem itu sebelum diberi obat yang dari dokter itu dicuci dulu dengan sebersih mungkin dengan dikucuri air susur.
(49b) ?Pihak PGKSD sudah berusaha dengan semaksimal mungkin.
Keeksplisitan keterangan cara dalam contoh (47b-49b) menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.



3) Pola 3: demon + kata tertentu
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(50) Dalam melaksanakan program sertifikasi kita atur sedemikian rupa.
demon + N
(N-7)
(51) Saya harus menunggu ketua jurusan hanya untuk meminta tanda tangan, sedemikian lama. (KM-2)
demon + adj
Keterangan cara dalam contoh kalimat (50 dan 51) yaitu frasa sedemikian rupa dan sedemikian lama yang dengan berurutan menerangkan verba atur dan menunggu. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(50a) Dalam melaksanakan program sertifikasi kita atur dengan sedemikian rupa.
(51a) Saya harus menunggu ketua jurusan hanya untuk meminta tanda tangan, dengan sedemikian lama.

4) Pola 4: sebagaimana + mod
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(52) Saya akan mempergunakan surat ini sebagaimana mestinya.
sebagaimana + mod
Keterangan cara dalam contoh kalimat (52) yaitu frasa sebagaimana mestinya yang menerangkan verba mempergunakan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(52a) Saya akan mempergunakan surat ini dengan sebagaimana mestinya.

5) Pola 5: [se - + V + pron] + pron tak takrif
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(53) Dia berbuat semaunya sendiri.
[se- + V + pron] + pron tak takrif
Keterangan cara dalam contoh kalimat (53) yaitu frasa semaunya sendiri yang menerangkan verba berbuat. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(53a) ?Dia berbuat dengan semaunya sendiri.
Keeksplisitan dalam contoh (53a) menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.

6) Pola 6: [se - + N] demi [se - + N]
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(54) Selangkah demi selangkah kami pun bergerak terus. (TBBBI-372)
[se- + N] demi [se- + N]
(55) Setahap demi setahap Anton pun berubah. (N-14)
[se- + N] demi [se- + N]
Keterangan cara dalam contoh kalimat (54 dan 55) yaitu frasa selangkah demi selangkah dan setahap demi setahap. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(54a) ?Dengan selangkah demi selangkah kami pun bergerak terus.
(55a) ?Dengan setahap demi setahap Anton pun berubah
Keeksplisitan pola keterangan ini menjadikan kalimat tidak berterima karena terasa janggal.

7) Pola 7: [se- + …] + kata tertentu
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(56) Ia mencintai istrinya sepenuh hati.
se- + penuh + N
(57) Pebulu tangkis itu berusaha sekuat tenaga.
se- + penuh + N
Keterangan cara dalam contoh kalimat (56 dan 57) yaitu frasa sepenuh hati dan dan sekuat tenaga. Dalam pola (susunan) seperti ini, keterangan cara memiliki makna “penuh”. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(56a) Ia mencintai istrinya dengan sepenuh hati.
(57a) Pebulu tangkis itu berusaha dengan sekuat tenaga.



8) Pola 8: F. adj
Keterangan cara dengan susunan seperti ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(58) Mereka beraksi cepat sekali. (SM-13)
F. adj
(59) Kami harus berusaha lebih keras. (SM-13)
F. adj
(60) Feminisme baru ini perlahan tapi pasti menghilangkan sisi
F. adj
kemanusiaan kaum perempuan. (KM-19)
(61) Renungan yang diikuti sekitar 50 orang itu berjalan penuh khitmad dan hening. (SM-13)
F. adj
(62) Saya harus berjalan di depan beliau, agak pelan-pelan dan
F. adj
beliau memegangi pundak saya. (MK-56)
Dalam contoh (58-62) di atas, yang merupakan keterangan cara yaitu frasa cepat sekali, lebih keras, perlahan tapi pasti, penih khitmad dan hening, dan agak pelan-pelan yang masing-masing berupa frasa adjektiva. Keterangan cara tersebut dengan berurutan menerangkan verba beraksi, berusaha, menghilangkan, berjalan, dan berjalan. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(58a) Mereka beraksi dengan cepat sekali.
(59a) Kami harus berusaha dengan lebih keras.
(60a) Feminisme baru ini secara perlahan tapi pasti menghilangkan sisi kemanusiaan kaum perempuan.
(61a) Renungan yang diikuti sekitar 50 orang itu berjalan dengan penuh khitmad dan hening.
(62a) Saya harus berjalan di depan beliau, dengan agak pelan-pelan dan
beliau memegangi pundak saya.

b. Eksplisit
1) Penanda dengan
Keterangan cara dengan penanda (pemarkah) preposisi dengan dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(63) Tentara Jepang menindak dengan tegas mereka yang mengacau.
prep + adj
(MK-83)
(64) Maia berdandan dengan cekatan.
prep + adj
(65) Saya mengawali tahun dengan buruk. (SM-8/ 10-06-2008)
prep + adj
Keterangan cara dalam contoh kalimat (63-65) yaitu frasa dengan tegas, dengan cekatan, dan dengan buruk yang dengan berurutan menerangkan verba menindak, berdandan, dan mengawali. Sebagai penanda makna “cara”, preposisi dengan tersebut diikuti adjektiva dasar. Preposisi dengan yang diikuti adjektiva, juga dapat divariasi dengan penambahan –nya di belakang adjektiva, contoh:
(66) Bapak makan pecel dengan lahapnya.
prep + adj + -nya
Preposisi dengan yang diikuti adjektiva, dapat divariasi dengan proses morfologis, contoh:
(67) Saya dengan malu-malu melaksanakan petunjuk itu. (MK-51)
prep + R. adj
(68) Pendidikan yang ia peroleh, ia gunakan dengan sebaik-baiknya. (K-42)
prep + se- + R. adj + -nya
(N7)
(69) Perpin mendukung dengan sepenuhnya… . (HP-6)
prep + se- + adj + -nya
(70) Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi
prep +KM
Lucynda. (G-28)
Keterangan cara dalam contoh (67-70) yaitu frasa dengan malu-malu, dengan sebaik-baiknya, dengan sepenuhnya, dan dengan susah payah. Kata yang mengikuti preposisi dengan merupakan kata yang telah mengalami proses morfologis. Kata yang mendampingi penanda dengan dalam contoh (67-69) sudah merupakan bentuk adverbia (kata keterangan).
Contoh lain:
(71) Ia menerima orang kulit putih itu dengan tangan terbuka. (KDBI-60)
prep + F. adj
(KM-42)
(72) Semua itu saya laksanakan dengan senang hati. (MK-62)
prep + F. adj
(73) Anak itu berteriak dengan sekuat tenaga.
prep + F. adj

(74) Semua menerima dengan penuh ketabahan, … . (MK-79)
prep + F. adj
Keterangan cara dalam contoh (71-74) yaitu frasa dengan tangan terbuka, dengan senang hati, dengan sekuat tenaga, dan dengan penuh ketabahan. Adjektiva yang mengikuti dengan dalam contoh (73 dan 74) tersebut divariasi dengan penambahan kata tertentu yang bermakna “penuh”.
Selain diikuti adjektiva, preposisi dengan sebagai penanda makna “cara” dapat pula diikuti kategori lainnya, seperti nomina ataupun verba, seperti yang ditunjukkan dalam contoh berikut.
(75) Penjarahan itu dilakukan dengan kekerasan.
prep + N
(76) Perempuan itu aku gumuli dengan paksa. (N-21)
prep + V
(77) Kami mohon dengan hormat. (N-15)
prep + V
Preposisi dengan sebagai penanda makna “cara” juga dapat diikuti kategori lain, seperti dalam contoh kalimat berikut.
(78) Pekerjaan itu dilakukan dengan segera.
prep + adv
(79) Yunan meminta dengan sangat kepada dosen agar diijinkan
prep + adv
masuk.
(80) Dengan sendirinya, struktur morfologis kata Indonesia yang
prep + adv
berasal dari sumber asing itu berubah pula.
Keterangan cara dalam contoh (78-80) yaitu frasa dengan segera, dengan sangat, dan dengan sendirinya. Bila dalam contoh (79) adverbia sangat dapat menjadi keterangan cara setelah bergabung dengan preposisi dengan, sangat tidak dapat menjadi keterangan cara apabila langsung bergabung dengan verba. Hal ini terlihat dalam contoh saya sangat berharap Bapak sudi menerima saya menjadi karyawan di perusahaan Bapak. Sangat di sini mensifati kadar berharap.
Keterangan cara dengan pemarkah dengan dapat divariasi dengan penambahan cara yang, seperti yang terlihat dalam contoh kalimat berikut.
(81) Tim sukses Sukawi-Sudharto melakukan kampanye dengan cara yang unik. (SM-2/ 10-06-2008)
prep + yang + adj
Keterangan cara dalam contoh (81) yaitu frasa dengan cara yang unik. Frasa dengan cara yang selalu diikuti adjektiva, walaupun tidak dibenarkan bentuk seperti:
(70a) ?Dengan cara yang susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi Lucynda.
Variasi penanda dengan juga dapat penambahan cara (jalan) saja. Penggunaan penanda dengan cara (dengan jalan) dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(82) Perbanyakan tanaman Jarak Pagar dapat dilakukan dengan cara pembibitan, stek, okulasi, penyambungan, maupun kultur jaringan.
prep + N
(K-46)
(83) Dia menghentikan kendaraan yang melintas dengan cara manual.
prep + adj
(HP-29)
(84) Kedua warga desa Kebon Harjo itu dapat menyelesaikan masalah dengan cara damai.
prep + adj
Keterangan cara dalam contoh (82-84) yaitu frasa dengan cara pembibitan, stek, okulasi, penyambungan, maupun kultur jaringan, dengan cara manual, dan dengan cara damai yang dengan berurutan menerangkan verba dilakukan, menghentikan, dan menyelesaikan.
Kata depan dengan, selain berfungsi sebagai penanda makna “cara”, juga dipakai sebagai pertalian hubungan alat, peserta, dan penderita. Misalnya dalam contoh kulit muka yang sudah bersih harus dilindungi dengan bahan pelembab dan mereka disambut dengan lambaian tangan. Dengan dalam contoh tersebut menandai hubungan makna “alat”. Dengan yang menandai hubungan makna “peserta” terlihat pada contoh dengan adik-adiknya dia hidup dalam pelukan kesayangan. Dengan yang menandai hubungan makna “penderita” terlihat pada kalimat apakah kalian tak percaya dengan aku?. Keempat pertalian (termasuk “cara”) yang menggunakan preposisi yang sama ini dapat dibedakan dengan membuat pertanyaan dengan pemarkah tanya yang berbeda. Untuk mendapatkan makna “cara”, dapat dipakai pemarkah tanya bagaimana, untuk mendapatkan makna “alat”, dapat dipakai pemarkah tanya dengan apa, untuk mendapatkan makna “peserta”, dapat dipakai pemarkah tanya dengan siapa, sedangkan untuk mendapatkan makna “penderita”, dapat dipakai pemarkah tanya dengan (oleh) siapa.
2) Penanda secara
Keterangan cara dengan penanda (pemarkah) secara dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(85) Mbah Siten secara bijaksana memberikan petuahnya. (MK-79)
prep + adj
(86) Dia tidak mengetahui secara jelas duduk perkaranya.
prep + adj
(SMtr-H/ 10-06-2008)
(87) Kedua pemuda itu menyelesaikan masalah secara jantan.
prep + adj
(88) Otak jadi enteng dan kembali berfungsi secara optimal. (G-16)
prep + adj
Keterangan cara dalam contoh (85-88) yaitu frasa secara bijaksana, secara jelas, secara jantan, dan secara optimal. Preposisi secara dalam contoh (85-88) diikuti adjektiva. Kategori adjektiva yang berbentuk kata jadian juga dapat mengikuti preposisi secara, seperti yang terlihat contoh berikut.
(89) Telur memang kaya akan gizi, tapi jika dimakan secara berlebihan tetap
prep + adj
saja tidak baik. (SM-3/ 19-06-2008)
(90) Polisi mengiznkan ratusan anggota FPI menemui ketuanya secara bergantian. (SM-15)
prep + adj
(91) Swedia banyak melakukan latihan secara tertutup. (SM-7)
prep + adj
Kategori adverbia dan kata majemuk juga dapat mengikuti penanda secara, seperti halnya dalam contoh penanda dengan, seperti yang terlihat dalam contoh berikut.
(92) Secara diam-diam kami masuk dan berenang di bak air yang
prep + R.adj
sejuk itu. (MK-59)
(93) Remaja masjid ini secara blak-blakan mengakuinya. (HP-22)
prep + R.adj
(94) Sikap dan harapan semacam itu tidak dinyatakannya secara terang-terangan. (MK-88)
prep + R.adj
(95) Dia secara membabi buta menikam orang-orang di sekelilingnya.
prep + KM
(SM-14)
Sebagai penanda makna “cara”, preposisi secara dapat pula diikuti kategori nomina atau pun verba, seperti yang ditunjukkan dalam contoh kalimat berikut.
(96) Dua aparatur negara itu membawa pedagang kaki lima secara paksa.
prep + V
(97) Perkara tersebut sebaiknya diselesaikan secara hukum.
prep + N
(98) Dibutuhkan pahlawan yang membela TKI di luar negeri agar mereka diperlakukan secara bermartabat dan Indonesia tidak dikenal sebagai
prep + V
negeri TKI.

(99) Daerah ini dikuatkan oleh Surapati secara semestinya. (DDT-433)
prep + mod
Keterangan cara dalam contoh (96-98) yaitu frasa secara paksa, secara hukum, dan secara bermartabat. Gabungan secara dengan kata bantu modalitas, misalnya: sepatutnya, patutnya, semestinya, seharusnya juga ditemukan penulis, seperti yang terlihat dalam contoh (99).
Namun, perhatikanlah contoh otonomi daerah secara konseptual menciptakan pola hubungan yang khas antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia; Rawa pening secara administrasi terletak di Kecamatan Banyu Biru; dan secara garis besar, produk-produk yang keunggulannya kurang bisa diobservasi umumnya lambat diadopsi. Dalam ketiga contoh tersebut, [secara + kata tertentu] yang mengikutinya tidak membawa makna “cara”, tetapi membawa makna “dalam hal atau dari segi”. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara konseptual, secara administrasi, secara garis besar, secara prinsip, secara umum, dsb. bukan merupakan keterangan cara. Selanjutnya, sekitar empat tahun belakangan ini, ditemukan juga secara yang juga bukan sebagai penanda makna “cara”, melainkan berarti “berhubung, mengingat, atau karena” dalam bahasa gaul. Kalimat berkonstruksi seperti secara udah kelas tiga, Kevin sadar harus merubah pola belajarnya ditemukan penulis di sejumlah tabloid dan majalah remaja. Ini membuktikan bahwa secara saat ini bukan tidak dipakai sebagai penanda makna “cara”.



3) Penanda tanpa
Keterangan cara dengan penanda (pemarkah) tanpa dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(100) Tanpa sengaja dia bertemu dengan Bayu. (G-12)
prep + adj
(101) Tanpa terasa kereta api yang membawa kami telah sampai di
prep + adj
Rembang. (MK-62)
(102) Rumania juga tampil tanpa greget. (SM-13)
prep + adj
(103) Tanpa kemauan besar Anda tidak akan berhasil. (TBBBI-371)
prep + F. N
(104) Tanpa banyak bicara kami pulang. (MK-66)
prep + F. adj
Dalam contoh (100-104) di atas, yang merupakan keterangan cara yaitu frasa tanpa sengaja, tanpa terasa, tanpa greget, tanpa kemauan besar, dan tanpa banyak bicara. Tanpa membawa makna “tidak dengan”. Oleh karena itu, sama halnya dengan penanda dengan yang harus dibedakan maknanya dari “alat, kesertaan, penderita”, begitu pula dengan penanda tanpa. Misalnya dalam contoh kalimat tanpa bantuan rakyat, usaha pemerintah tidak akan berhasil; tanpa perpustakaan yang lengkap, universitas tidak dapat berkembang; dan kamu boleh pergi tanpa aku, bukan merupakan keterangan cara, melainkan keterangan alat, keterangan alat, dan keterangan kesertaan.


3. Klausa
Keterangan cara yang berbentuk klausa dibagi menjadi klausa yang dinyatakan secara implisit dan klausa yang dinyatakan secara eksplisit. Klausa keterangan cara yang implisit berupa klausa bawahan tanpa konjungsi, sedangkan klausa keterangan cara yang eksplisit berupa klausa bawahan yang ditandai konjungsi tertentu.
Berikut ini merupakan klasifikasi bentuk keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia yang berupa klausa.

a. Implisit
Bentuk klausa keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(105) Tak berlama-lama di pelabuhan alam, saya susuri satu-satunya ruas
negasi + klausa
jalan di pulau itu. (SM-17 Mei 2008)
(106) Tak menunggu dipersilahkan, saya langsung melahap kue lezat itu.
negasi + klausa
(107) Dipimpin oleh bapaku, turunlah aku ke sekoci. (PSI-120)
klausa
(108) Menoleh ke kiri dan ke kanan, pencuri itu berusaha menyantroni
klausa
sebuah rumah kosong.
Dalam contoh (105 dan 16) di atas, yang merupakan keterangan cara yaitu klausa tak berlama-lama di pelabuhan alam dan klausa tak menunggu dipersilahkan yang dengan berurutan menerangkan klausa saya susuri satu-satunya ruas jalan di pulau itu dan klausa saya langsung melahap kue lezat itu. Konstruksi keterangan ini dapat dibentuk dari sebuah keterangan cara dengan konjungsi tanpa yang disubstitusi dengan tak. Dengan demikian, konjungsi yang tidak ditampilkan adalah dengan.
Dalam contoh (107 dan 108), yang merupakan keterangan cara yaitu klausa dipimpin oleh bapaku dan menoleh ke kiri dan ke kanan yang merupakan klausa positif dan menerangkan klausa utamanya. Keterangan cara yang dinyatakan secara implisit dalam pola ini, secara eksplisit dapat dinyatakan sebagai berikut.
(105a) Dengan tak berlama-lama di pelabuhan alam, saya susuri
Tanpa
satu-satunya ruas jalan di pulau itu.
(106a) Dengan tak menunggu dipersilahkan, saya langsung melahap kue
Tanpa
lezat itu.
(107a) Dengan dipimpin oleh bapaku, turunlah aku ke sekoci.
(108a) Dengan menoleh ke kiri dan ke kanan, pencuri itu berusaha menyantroni sebuah rumah kosong.
Klausa keterangan cara yang dinyatakan secara implisit, dalam bentuk lain dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(109) Penghabisannya Pim dan Hamzah datang, masing-masing membawa cangkul serta sebuah bungkusan. (DDT-434)
Klausa

(110) Mereka berdansa mengikuti alunan lagu.
klausa
(111) Setiap fungsi lembaga di BEM harus berjalan, sesuai dengan koridor masing-masing. (N-17)
klausa
Dalam contoh (109-111) di atas, yang merupakan keterangan cara yaitu klausa masing-masing membawa cangkul serta sebuah bungkusan, mengikuti alunan lagu, dan sesuai dengan koridor masing-masing yang menerangkan klausa di depannya.

b. Eksplisit
1) Penanda dengan
Keterangan cara dengan penanda konjungsi dengan dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(112) Kami harus turun dari sepeda dan memberi hormat kepada prajurit penjaga itu dengan membungkukkan badan. (MK-81)
konj + klausa
(114) Pihak universitas terkesan mengusir mereka secara halus dengan menghentikan aliran air ke sana. (N-17)
konj + klausa
(115) Para sopir menggelar protes dengan memarkir sejumlah besar truk di terminal truk kemarin. (SM-14/ 10-06-2008)
konj + klausa
(116) Cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye dengan berbelanja sayuran di Pasar Kliwon. (SM-2/ 10-06-2008)
konj + klausa
(117) Elly Pical mencoba bertahan dengan menghindar. (TTBI-409)
konj + klausa
Keterangan cara dalam kalimat (113-117) tersebut yaitu klausa dengan membungkukkan badan, dengan menghentikan aliran air ke sana, dengan memarkir sejumlah besar truk di terminal truk kemarin, dengan berbelanja sayuran di Pasar Kliwon, dan dengan menghindar. Kata dengan dalam contoh tersebut berfungsi sebagai kata sambung dalam kalimat majemuk subordinatif. Walaupun keterangan cara dalam contoh (117) bentuknya mirip frasa keterangan, sebenarnya merupakan klausa keterangan dengan pelesapan subjek dan tidak diperluas dengan unsur tak wajib. Dari contoh-contoh di atas, terlihat bahwa klausa keterangan cara berbentuk kalimat aktif. Klausa keterangan cara yang berupa kalimat pasif dapat dilihat dalam contoh berikut.
(118) Dengan dipegangi kuat-kuat oleh kedua beliau itulah, saya diobati dan
konj + klausa
memperoleh suntikan di pantat. (MK-21)
Keterangan cara dalam kalimat (118) tersebut yaitu klausa dengan dipegangi kuat-kuat oleh kedua beliau itulah. Jika diperhatikan, struktur lahir kalimat pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik multistage random sampling dan dengan memakai gembor yang terbuat dari seng, saya mengambil air dari kamar mandi sama dengan contoh-contoh yang disebutkan penulis dalam contoh (113-115). Namun, bila contoh (113-115) merupakan keterangan cara, contoh yang baru saja penulis dituliskan merupakan keterangan alat karena verba pada klausa bawahan ialah menggunakan dan memakai.
Penanda dengan sebagai klausa keterangan cara juga dapat divariasi dengan dengan cara. Keterangan cara dengan penanda konjungsi dengan cara, dengan jalan dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(119) Penghematan juga dilakukan dengan cara menunda pelaksanaan
sejumlah megaproyek. (SM-1/ 10-6-2008)
konj + klausa
(120) Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi dilakukan dengan cara
konj + klausa
mempersiapkan bibit dari biji yang akan dijadikan sebagai batang bawah. (KM-47)
(121) Ia mulai memperbaikinya dengan cara mengikuti semester pendek.
konj + klausa
(N-14)
(122) Kami harus mengantisispasi hal itu dengan cara bermain yang lebih efektif. (SM-9)
konj + klausa
(123) Bung Karno berjuang dengan cara berdiplomasi dan Jendral Sudirman
konj + klausa
dengan jalan bergerilya.
konj + klusa
Keterangan cara dalam contoh kalimat (119-123) yaitu klausa dengan cara menunda pelaksanaan sejumlah megaproyek, dengan cara mempersiapkan bibit dari biji yang akan dijadikan sebagai batang bawah, dengan cara mengikuti semester pendek, dengan cara bermain yang lebih efektif, dan dengan cara berdiplomasi, dengan jalan bergerilya. Konjungsi dengan cara (dengan jalan) yang diikuti verba (klausa) menghasilkan keterangan cara dalam bentuk klausa bawahan.

2) Penanda melalui
Keterangan cara dengan penanda (pemarkah) melalui dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(124) Kami telah meneyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi

langsung dengan beliau. (SMtr-L/ 10-06-2008)
konj + klausa
(125) Anak-anak menikmati masa liburan melalui bertamasya di pantai.
konj + klausa
Keterangan cara dalam kalimat contoh (124 dan 125) tersebut adalah klausa melalui komunikasi langsung dengan beliau dan melalui bertamasya di pantai, yang menerangkan cara klausa di depannya berlangsung.

3) Penanda sambil, sembari dan seraya
Keterangan cara dengan penanda sambil, sembari dan seraya dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(126) Sambil keras-keras mengembik, kambing-kambing itu ingin lari.
konj + klausa
(MK-41)
(127) Saya menangis sambil menjerit-jerit. (MK-19)
konj + klausa
(128) Para nelayan duduk di pinggiran rawa sambil bersantai. (N-10)
konj + klausa
(129) Mas Ham bertanya sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng
konj + klausa
Ira. (K-3)
(130) Ia mengucap syukur seraya berkata “ Ambillah dan makanlah, sebab inilah tubuhku. (KKBI-106)
konj + klausa

(131) Dia menghentikan kendaraan yang melintas seraya meniup sempritan.
konj + klausa
(HP-30)
Keterangan cara dalam contoh kalimat (126-131) yaitu klausa sambil keras-keras mengembik, sambil menjerit-jerit, sambil bersantai, sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng Ira, seraya berkata “ Ambillah dan makanlah, sebab inilah tubuhku, dan seraya meniup sempritan. Penanda makna “cara” dan satuan klausa di belakangnya merupakan anak kalimat yang menandakan makna “cara” dan berfungsi sebagai keterangan cara.
Penanda makna “cara” ini harus dibedakan dengan penanda makna “kegiatan yang dilakukan bersamaan”. Hal ini dapat kita lihat pada contoh ia tengah menonton TV bersama Haryono sambil tiduran; pria paruh baya itu menjawab sembari menunjukkan hasil tangkapannya; dan lelaki berwajah lebam itu tersenyum sinis seraya mengelap pipinya. Walaupun dalam contoh ini memiliki struktur lahir yang sama dengan contoh (128, 129, 131) tetapi anak kalimat pada contoh ini tidak menerangkan cara predikat pada induk kalimat terjadi, melainkan perbuatan yang dilakukan bersamaan dengan predikat pada induk kalimat.

4) Penanda tanpa
Keterangan cara dengan penanda (pemarkah) tanpa dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(132) Pencari intan bekerja tanpa menghiraukan bahaya di sekelilingnya.
konj + klausa
(133) Saya harus berpisah dengan teman-teman sekolah tanpa dapat menyampaikan ucapan terimakasih. (MK-84)
konj + klausa
(134) Tanpa disadari, kisah ini membawa pesan pengakuan terhadap
konj + klausa
prestasi ayah dan penghapusan prestasi ibu. (KM-18)
(135) Bagaimana saya dapat melepaskan kambing jantan itu tanpa diseruduk? (MK-43)
konj + klausa
Keterangan cara dalam contoh kalimat (132-135) tersebut yaitu tanpa menghiraukan bahaya di sekelilingnya, tanpa dapat menyampaikan ucapan terimakasih, tanpa disadari, dan tanpa diseruduk dengan penanda makna “cara” tanpa. Dari contoh (132-135) tersebut, kata sambung tanpa bergabung dengan klausa. Klausa yang mengikutinya berperan sebagai anak kalimat bermakna “cara”. Selain dalam bentuk contoh di atas, diketahui pula bentuk seperti dalam contoh berikut.
(136) Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin mengkritisi
konj + konj + klausa
sistem pengelolaan universitas ini.
Keterangan cara dalam kalimat contoh (136) yaitu dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya. Klausa bawahan dalam contoh tersebut menggunakan dua konjungsi sekaligus, yaitu dengan dan tanpa.

















BAB IV
PERILAKU SINTAKSIS KETERANGAN CARA
DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA

A. Pengantar
Pembahasan perilaku sintaksis keterangan cara dalam bab ini berkaitan dengan sifat kehadiran, kemampuan substitusi, dan letak keterangan cara dalam suatu kalimat. Hal ini dikarenakan pembahasan mengenai keterangan cara tersebut tidak dapat dilepaskan hubungannya dari satuan lingual yang lain.
Sifat kehadiran penanda keterangan cara dapat diketahui dengan cara melesapkan penanda (kata tugas) tersebut dari kalimat yang dilekati. Dengan begitu, dapat diketahui kata tugas tersebut bersifat wajib hadir atau manasuka (memiliki kadar keintian yang tinggi atau tidak). Mengenai kemampuan substitusi, dapat dilakukan dengan cara menggantikan penggunaan penanda keterangan cara tersebut dalam konteks kalimat yang sama. Cara ini digunakan untuk mengetahui kata tugas tersebut dapat saling menggantikan atau tidak. Mengenai letak keterangan cara, dapat dilakukan dengan permutasi. Cara ini digunakan untuk mengetahui keterangan cara dapat diletakkan di bagian mana saja, di awal, di tengah, maupun di akhir kalimat atau tidak.



B. Sifat Kehadiran, Kemampuan Substitusi, dan Letak Keterangan Cara
1. Sifat Kehadiran
Secara sintaksis, kehadiran penanda dengan dan secara dalam tataran frasa ada yang bersifat wajib hadir dan ada yang bersifat manasuka. Dalam tataran klausa, penanda dengan dapat bersifat wajib hadir dan dapat pula bersifat manasuka. Kehadiran penanda melalui, sambil, sembari, seraya dalam tataran klausa pada umumnya bersifat wajib hadir. Penanda tanpa dalam tataran frasa maupun klausa bersifat wajib hadir karena ketika konstituen tersebut dilesapkan, makna kalimat menjadi berubah total. Hal tersebut bergantung pada konteks kalimatnya. Jika dalam konteks kalimat tersebut penggunaan kata tugas (penanda) dapat dilesapkan dan kalimat tetap gramatikal, maka kehadiran kedua kata tersebut bersifat manasuka. Namun, jika dalam konteks kalimat tersebut penggunaan kata tugas tidak dapat dilesapkan dan kalimat menjadi tidak gramatikal, maka kehadiran kata tugas tersebut bersifat wajib hadir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kata tugas tersebut memiliki kadar keintian yang tinggi dan dapat pula memiliki kadar keintian yang tidak tinggi.
Menurut hemat penulis, penanda “cara” sambil, sembari, dan seraya mempunyai perilaku yang sama, sehingga pembahasan mengenai ketiga penanda tersebut dijadikan satu, sedangkan penanda “cara” lainnya, yakni dengan, secara, melalui, dan tanpa mempunyai perilaku sintaksis tertentu yang membedakannya dari penanda sambil, sembari, dan seraya.
Berikut ini dilakukan teknik pelesapan untuk mengetahui kadar keintian penanda keterangan cara.
a. Pola 1: dengan + {kata/ frasa}
Teknik pelesapan kata tugas dengan yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(1) Anak sulung yang ditunggu-tunggu telah datang dengan selamat. (MK-91)
(2) Tentara Jepang menindak dengan tegas mereka yang mengacau. (MK-83)
(3) Dokter itu dengan sigap memeriksa pasiennya.
(4) Dengan cepat kami saling mengenal dan merasa dalam satu lingkungan keluarga. (MK-65)
Apabila kata dengan dalam contoh (1-4) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(1a) *Anak sulung yang ditunggu-tunggu telah datang (…) selamat.
(2a) Tentara Jepang menindak (…) tegas mereka yang mengacau.
(3a) Dokter itu (…) sigap memeriksa pasiennya.
(4a) *(…) cepat kami saling mengenal dan merasa dalam satu lingkungan keluarga.
Dalam contoh (1-4) di atas, kata dengan berdampingan dengan adjektiva dasar. Pelesapan kata dengan dalam contoh kalimat (1a dan 4a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas, sedangkan dalam contoh (2a dan 3a), kalimat tetap gramatikal. Secara implisit, dalam contoh (2a dan 3a) masih terkandung makna “cara”. Ini berarti bahwa penggunaan kata dengan dalam contoh (1a dan 4a) bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi), sedangkan penggunaan kata dengan dalam contoh (2a dan 3a) bersifat manasuka (memiliki kadar keintian tidak tinggi).
Contoh lain:
(5) Perempuan itu aku gumuli dengan paksa. (N-21)
(6) Kami mohon dengan hormat. (N-15)
Apabila kata dengan dalam contoh (5 dan 6) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(5a) Perempuan itu aku gumuli (…) paksa.
(6a) *Kami mohon (…) hormat.
Pelesapan kata dengan dalam contoh (5a) menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal, sedangkan pelesapan dalam contoh (6a) menghasilkan kalimat tidak gramatikal. Jadi, dapat disimpulkan penggunaan preposisi dengan yang berdampingan dengan verba dasar dapat bersifat wajib hadir, dapat pula bersifat manasuka. Hal itu bergantung pada sifat verba itu sendiri.
Contoh lain:
(7) Pekerjaan itu dilakukannya dengan segera.
(8) Yunan meminta dengan sangat kepada dosen agar diijinkan masuk.
Apabila kata dengan dalam contoh (7 dan 8) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(7a) Pekerjaan itu dilakukannya (…) segera.
(8a) *Yunan meminta (…) sangat kepada dosen agar diijinkan masuk.
Dari hasil pelesapan kata dengan dalam contoh (7a dan 8a) di atas, kalimat contoh (7a) tetap gramatikal. Penggunaan kata dengan dalam contoh (7a) tersebut bersifat manasuka. Namun, pelesapan kata dengan dalam contoh kalimat (8a), menjadikan kalimat tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan preposisi dengan dalam contoh (8a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).
Contoh lain:
(9) Bapak makan pecel dengan lahapnya.
(10) Dengan sendirinya, struktur morfologis kata Indonesia yang berasal dari sumber asing itu berubah pula
(11) Penjarahan itu dilakukan dengan kekerasan.
Apabila kata dengan dalam contoh (9-11) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(9a) *Bapak makan pecel (…) lahapnya.
(10a) *(…) sendirinya, struktur morfologis kata Indonesia yang berasal dari sumber asing itu berubah pula
(11a) * Penjarahan itu dilakukan (…) kekerasan.
Dalam contoh kalimat (9 dan 11), kata dengan berdampingan dengan adjektiva yang telah mengalami nominalisasi. Pelesapan preposisi dengan dalam contoh (9a-11a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan kata tugas dengan dalam contoh (9a-11a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).
Contoh lain:
(12) Perpin mendukung dengan sepenuhnya … . (HP-6)
(13) Unnes akan welcome menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya. (N-7)
(14) Saya dengan malu-malu melaksanakan petunjuk itu. (MK-51)
(15) Daerah ini dikuatkan oleh Surapati dengan semestinya.
(16) Segerombolan tentara Dai Nippon menyerang para pejuang dan warga dengan membabi buta. (MS Ed. 8)
Apabila kata dengan dalam contoh (12-16) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(12a) Perpin mendukung (…) sepenuhnya.
(13a) Unnes akan welcome menjalankan amanah itu (…) sebaik-baiknya.
(14a) ?Saya (…) malu-malu melaksanakan petunjuk itu.
(15a) ?Daerah ini dikuatkan oleh Surapati (…) semestinya. (DDT-433)
(16a) *Segerombolan tentara Dai Nippon menyerang para pejuang dan warga (…) membabi buta.
Dalam contoh (12-14), kata dengan berdampingan dengan adverbia yang berasal dari adjektiva yang telah mengalami proses morfologis. Pelesapan kata dengan dalam contoh (12a dan 13a) megnhasilkan kalimat yang tetap berterima. Secara implisit, informasi dan makna yang disampaikan masih bersifat jelas. Namun, dalam contoh (14a), kalimat menjadi tidak berterima karena terasa janggal apabila diujarkan. Pelesapan dalam contoh (15a) menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena kalimat tersebut tidak menghadirkan makna “cara” lagi karena kata semestinya merupakan kategori modal. Pelesapan dalam contoh (16a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal akibat letak keterangan itu berjauhan dengan predikat. Penggunaan kata dengan dalam contoh (12a dan 13a) bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi), sedangkan dalam contoh (14a-16a) bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi). Penggunaan kata dengan yang berdampingan dengan modal, seperti dalam contoh (15a) bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi).
Contoh lain:
(17) Semua menerima dengan penuh ketabahan. (MK-79)
(18) Anak itu berteriak dengan sekuat tenaga.
(19) Semua itu saya laksanakan dengan senang hati. (MK-62)
(20) Ia dengan tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.
(KM-42)
Apabila kata dengan dalam contoh (16-20) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(17a) *Semua menerima (…) penuh ketabahan
(18a) Anak itu berteriak (…) sekuat tenaga.
(19a) *Semua itu saya laksanakan (…) senang hati.
(20a) ?Ia (…) tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.
Dalam kalimat contoh (17-20), kata dengan berdampingan dengan frasa adjektiva. Pelesapan kata dengan dalam contoh (17a dan 19a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Namun, dalam contoh (20a) kalimat menjadi tidak berterima karena informasi yang disampaikan sudah berbeda. Frasa tabah dan sabar seolah-olah berfungsi sebagai predikat kalimat. Penggunaan preposisi dengan dalam contoh (17a, 19a, dan 20a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi). Dari hasil pelesapan kata dengan dalam contoh (18a), kalimat tetap gramatikal. Penggunaan preposisi dengan dalam contoh (18a) tersebut bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi).
Dalam variasinya sebagai penanda keterangan cara, kata dengan dapat ditambahkan dengan kata cara atau cara yang. Pelesapan penanda dengan cara dan dengan cara yang dapat dilihat dalam contoh berikut.
(21) Dia menghentikan kendaraan yang melintas dengan cara manual. (HP-29)
(22) Tim sukses Sukawi-Sudharto melakukan kampanye dengan cara yang unik. (SM-2/ 10-06-2008)
Apabila dengan cara dan dengan cara yang dalam contoh (21 dan 22) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(21a) *Dia menghentikan kendaraan yang melintas (…) manual.
(22a) ?Tim sukses Sukawi-Sudharto melakukan kampanye (…) unik.
Pelesapan dengan cara dalam contoh (21a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Pelesapan dengan cara yang dalam contoh (22a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena informasi yang disampaikan menjadi berbeda. Kata unik telah menjadi bagian dari frasa nomina. Dengan demikian, penggunaan penanda dengan cara dan dengan cara yang dalam contoh (22a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi).

b. Pola 2: secara + {kata/ frasa}
Pelesapan kata tugas secara yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(23) Mbah Siten secara bijaksana memberikan petuahnya. (MK-79)
(24) Dia tidak mengetahui secara jelas duduk perkaranya. (SMtr-H/ 10-06-2008)
(25) Kebijakan politik Bush diubah secara total. (HP-25)
(26) Kedua pemuda itu menyelesaikan masalah secara jantan.
Apabila kata secara dalam contoh (23-26) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(23a) ?Mbah Siten (…) bijaksana memberikan petuahnya.
(24a) Dia tidak mengetahui (…) jelas duduk perkaranya.
(25a) Kebijakan politik Bush diubah (…) total.
(26a) *Kedua pemuda itu menyelesaikan masalah (…) jantan.
Dalam contoh (23a-25a), kata secara berdampingan dengan adjektiva dasar. Dari hasil pelesapan kata secara dalam contoh (23a), kalimat menjadi tidak berterima karena bijaksana telah menjadi predikat, sedangkan dalam contoh (26a) kalimat menjadi tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Pelesapan kata secara dalam contoh (24a dan 25a) menghasilkan kalimat yang tetap berterima. Penggunaan kata secara dalam contoh (23a dan 26a) bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi), sedangkan dalam contoh (24a dan 25a) bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi).
Contoh lain:
(27) Perkara tersebut sebaiknya diselesaikan secara hukum.
(28) Dua aparatur negara itu membawa pedagang kaki lima secara paksa.
Apabila kata secara dalam contoh (27 dan 28) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(27a) ?Perkara tersebut sebaiknya diselesaikan (…) hukum.
(28a) *Dua aparatur negara itu membawa pedagang kaki lima (…) paksa.
Dalam contoh (27), kata secara berdampingan dengan nomina. Pelesapan kata secara dalam contoh (27a) kalimat menjadi tidak berterima karena hukum telah berubah menjadi pelengkap, sedangkan dalam contoh (28a), kalimat menjadi tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Hal ini dikarenakan keterangan tersebut berjauhan dengan verba. Apabila keterangan berdekatan dengan verba, akan dihasilkan kalimat yang tetap gramatikal seperti dalam contoh berikut.
(28b) Dua aparatur negara itu membawa (…) paksa pedagang kaki lima.
Contoh lain:
(29) Polisi mengizinkan ratusan anggota FPI menemui ketuanya secara bergantian. (SM-15/ 10-06-2008)
(30) Swedia banyak melakukan latihan secara tertutup. (SM-7)
Apabila kata secara dalam contoh (29 dan 30) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(29a) Polisi mengizinkan ratusan anggota FPI menemui ketuanya (…) bergantian.
(30a) ?Swedia banyak melakukan latihan (…) tertutup.
Dalam contoh (29a dan 30a) di atas, kata secara berdampingan dengan adjektiva yang terbentuk dari verba yang telah mengalami afiksasi. Pelesapan kata secara dalam contoh (29a) menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal, sedangkan pelesapan dalam contoh (30a), menjadikan kalimat tidak berterima karena tertutup telah menjadi bagian dari frasa nomina. Bila penggunaan kata secara dalam contoh (29a) bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi), sebaliknya dengan contoh (30a).
Contoh lain:
(31) Secara diam-diam kami masuk dan berenang di bak air yang sejuk itu. (MK-59)
(32) Sikap dan harapan semacam itu tidak dinyatakannya secara terang-terangan. (MK-88)
(34) Petanyaan itu dijawabnya secara awur-awuran. (TBBBI-191)
(35) Dia secara membabi buta menikam orang-orang di sekelilingnya. (SM-14/ 10-6-2008)
Apabila kata secara dalam contoh (31-34) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(31a) (…) diam-diam kami masuk dan berenang di bak air yang sejuk itu.
(32a) Sikap dan harapan semacam itu tidak dinyatakannya (…) terang-terangan.
(33a) Petanyaan itu dijawabnya (…) awur-awuran.
(34a) Dia (…) membabi buta menikam orang-orang di sekelilingnya.
Pelesapan kata secara yang berdampingan dengan adjektiva yang telah mengalami proses morfologis (sehingga membentuk adverbia) dalam contoh kalimat (31a-33a) menghasilkan kalimat yang tetap berterima. Pelesapan secara yang berdampingan dengan kata majemuk dalam contoh (34a) menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Penggunaan kata dengan dalam contoh (31a-34a) bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi).
Contoh lain:
(35) Perkembangan teknologi secara tidak langsung mempengaruhi pasang surut kehidupannya. (KM-60)
Apabila kata secara dalam contoh (39) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(35a) ?Perkembangan teknologi (…) tidak langsung mempengaruhi pasang surut kehidupannya.
Dari hasil pelesapan kata secara dalam contoh kalimat (35a) yang digabungkan dengan frasa keterangan, kalimat menjadi tidak berterima karena keterangan tersebut telah menjadi predikat kalimat. Penggunaan kata tugas secara dalam contoh (35a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi).

c. Pola 3: tanpa + {kata/ frasa}
Pelesapan kata tugas tanpa yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(36) Rumania juga tampil tanpa greget. (SM-13)
(37) Tanpa sengaja dia bertemu dengan Bayu. (G-12)
(38) Tanpa terasa kereta api yang membawa kami telah sampai di Rembang. (MK-62)
Apabila kata tanpa dalam contoh (36-38) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(36a) *Rumania juga tampil (…) greget.
(37a) ?(…) sengaja dia bertemu dengan Bayu. (G-12)
(38a) *(…) terasa kereta api yang membawa kami telah sampai di Rembang.
Dalam contoh (36 dan 37), kata tanpa berdampingan dengan adjektiva dasar, sedangkan dalam contoh (38), kata tanpa berdampingan dengan adjektiva turunan. Pelesapan tanpa dalam contoh (36a dan 38a) di atas menbghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Dalam contoh (37a), kalimat menjadi tidak berterima karena informasi yang disampaikan berlawanan dari semula. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penggunaan kata tanpa dalam contoh (36a-38a) tersebut wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).
Contoh lain:
(39) Tanpa setahu mereka saya coba belajar naik sepeda. (MK-62)
(40) Tanpa banyak bicara kami pulang. (MK-66)
(41) Tanpa kemauan besar Anda tidak akan berhasil (TBBBI-371)
Apabila kata tanpa dalam contoh (39-41) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(39a) ?(…) setahu mereka saya coba belajar naik sepeda.
(40a) *(…) banyak bicara kami pulang.
(41a) *(…) kemauan besar Anda tidak akan berhasil (TBBBI-371)
Dalam contoh (39-41), kata tanpa berdampingan dengan frasa adjektiva. Pelesapan dalam contoh (39a) menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena maknanya sudah berbeda dari semula. Pelesapan dalam contoh (40a dan 41a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan kata tugas tanpa dalam contoh (39a-41a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).

d. Pola 4: dengan + klausa
Pelesapan kata tugas dengan yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(42) Para sopir menggelar protes dengan memarkir sejumlah besar truk di terminal truk kemarin. (SM-14/ 10-6-2008)
(43) Cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye dengan berbelanja sayuran di Pasar Kliwon. (SM-2/ 10-06-2008)
Apabila kata dengan dalam contoh (42 dan 43) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(42a) *Para sopir menggelar protes (…) memarkir sejumlah besar truk di terminal truk kemarin.
(43a) *Cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye (…) berbelanja sayuran di Pasar Kliwon.
Kalimat dalam contoh (42 dan 43) di atas terdiri dari dua klausa (klausa utama dan klausa bawahan), dengan klausa bawahan (klausa keterangan cara) berada di urutan kedua. Pelesapan kata dengan dalam contoh (42a dan 43a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan kata tugas dengan dalam contoh (42a dan 43a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).
Contoh lain:
(44) Dengan berdalih akan menjemput teman-termannya, tersangka meminta angkota masuk ke perkampungan. (SMtr-A/ 26-08-2008)
(45) Dengan berpedoman pada standard nasional pendidikan di atas, diharapkan sekolah-sekolah yang terstandard akan memiliki kualitas pendidikan yang tidak jauh berbeda dengan sekolah mandiri. (N-8)
Apabila kata dengan dalam contoh (44 dan 45) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(44a) (…) berdalih akan menjemput teman-termannya, tersangka meminta angkota masuk ke perkampungan
(45a) (…) berpedoman pada standard nasional pendidikan di atas, diharapkan sekolah-sekolah yang terstandard akan memiliki kualitas pendidikan yang tidak jauh berbeda dengan sekolah mandiri.
Kalimat dalam contoh (44 dan 45) merupakan kalimat majemuk bertingkat dengan klausa bawahan (klausa keterangan cara) berada di urutan pertama. Pelesapan dengan dalam contoh (44a dan 45a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap berterima. Hal ini menjadi indikasi bahwa pelesapan dengan pada kalimat dengan posisi anak kalimat di urutan pertama, akan dihasilkan klausa keterangan cara secara implisit. Penggunaan kata tugas dengan dalam contoh (44a dan 45a) tersebut bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi).
Contoh:
(42b) *(…) memarkir sejumlah besar truk di terminal truk kemarin, para sopir menggelar protes.
(43b) (…) berbelanja sayuran di Pasar Kliwon, cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye.
Pelesapan dengan dengan disertai pembalikan susunan klausa dalam contoh (42b) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal, sedangkan contoh (43b) tetap berterima sebagai klausa keterangan cara yang implisit. Hal ini membuktikan bahwa dari pelesapan dengan pada kalimat majemuk bertingkat (klausa bawahan di urutan pertama), akan diperoleh klausa keterangan cara secara implisit walaupun hanya beberapa saja.
Pelesapan penanda dengan cara yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
(46) Penghematan juga dilakukan dengan cara menunda pelaksanaan sejumlah megaproyek. (SM-1/ 10-6-2008)
Apabila dengan cara dalam contoh kalimat (46) di atas dilesapkan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(46a) *Penghematan juga dilakukan (…) menunda pelaksanaan sejumlah megaproyek.
Pelesapan konjungsi dengan cara dalam contoh (46a) di atas menjadikan kalimat tidak gramatikal. Pelesapan tersebut menjadikan kalimat kehilangan identitasnya sebagai kalimat majemuk bertingkat. Hal ini dikarenakan dalam contoh (46a) tersebut bukan merupakan dua klausa yang saling berhubungan, melainkan dua klausa yang masing-masing klausa itu dapat berdiri bebas tanpa harus saling terikat sehingga makna dan informasi yang sampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan penanda dengan cara dalam contoh (46a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).

e. Pola 5: melalui + klausa
Pelesapan kata tugas melalui yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(47) Kami telah menyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi langsung dengan beliau. (SMtr-L/ 10-06-2008)
(48) Anak-anak menikmati masa liburan melalui bertamasya di pantai.
Apabila kata melalui dalam contoh kalimat (47 dan 48) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(47a) *Kami telah menyelesaikan masalah tersebut (…) komunikasi langsung dengan beliau. (SMtr-L/ 10-06-2008)
(48a) *Anak-anak menikmati masa liburan (…) bertamasya di pantai.
Pelesapan kata melalui dalam contoh (47a dan 48a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Pelesapan tersebut menjadikan kalimat kehilangan identitasnya sebagai kalimat majemuk bertingkat. Penggunaan kata tugas melalui dalam contoh (47a dan 48a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).

f. Pola 6: (sambil, sembari, seraya) + klausa
Pelesapan kata tugas sambil, sembari, dan seraya yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(49) Saya menangis sambil menjerit-jerit. (MK-19)
(50) Para nelayan duduk di pinggiran rawa sambil bersantai. (N-10)
Apabila kata sambil dalam contoh (49 dan 50) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(49a) ?Saya menangis (…) menjerit-jerit.
(50a) *Para nelayan duduk di pinggiran rawa (…) bersantai.
Pelesapan sambil dalam contoh (49a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena menjerit-jerit telah berubah menjadi kata keterangan. Namun, pelesapan dalam contoh (50a) menjadikan kalimat menjadi tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan kata sambil dalam contoh (49a dan 50a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi).
Contoh lain:
(51) Mas Ham bertanya sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng
Ira. (K-3)
(52) Dia menghentikan kendaraan yang melintas seraya meniup sempritan.
(HP-30)
Apabila kata sembari dan seraya dalam contoh (51 dan 52) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(51a) *Mas Ham bertanya (…) menyunggingkan senyum kepada Jeng Ira.
(52a) *Dia menghentikan kendaraan yang melintas (…) meniup sempritan.
Pelesapan dalam contoh (51a dan 52a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal karena kalimat tersebut telah kehilangan identitasnya sebagai kalimat majemuk bertingkat. Hal ini disebabkan dalam contoh (51a dan 52a) sudah bukan merupakan dua klausa yang saling berhubungan, melainkan sudah merupakan dua klausa yang masing-masing klausa itu dapat berdiri bebas tanpa harus saling terikat sehingga makna dan informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Penggunaan kata tugas sembari dan seraya dalam contoh (51a dan 52a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian yang tinggi).
Contoh lain:
(53) Sambil keras-keras mengembik, kambing-kambing itu ingin lari. (MK-41)
Apabila kata tugas sambil dalam contoh (53) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(53a) (…) keras-keras mengembik, kambing-kambing itu ingin lari.
Pelesapan kata sambil dalam contoh (53a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap berterima. Peristiwa dalam contoh (53a) juga turut mengindikasikan bahwa letak klausa bawahan di urutan pertama akan tetap berterima apabila penanda (kata sambung) itu dilesapkan, seperti halnya pada contoh penanda dengan di atas. Penggunaan kata tugas sambil dalam contoh (53a) tersebut bersifat manasuka (memiliki kadar keintian yang tidak tinggi).

g. Pola 7: tanpa + klausa
Pelesapan kata tugas tanpa yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(54) Saya harus berpisah dengan teman-teman sekolah tanpa dapat menyampaikan ucapan terimakasih. (MK-84)
(55) Bagaimana saya dapat melepaskan kambing jantan itu tanpa diseruduk?
(56) Saya belajar tanpa memperhatikan orang sekitar.
(57) Tanpa disadari, kisah ini membawa pesan pengakuan terhadap prestasi ayah dan penghapusan prestasi ibu. (KM-18)
Apabila kata tanpa dalam contoh (54-57) di atas dilesapkan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(54a) *Saya harus berpisah dengan teman-teman sekolah (…) dapat menyampaikan ucapan terimakasih.
(55a) *Bagaimana saya dapat melepaskan kambing jantan itu (…) diseruduk?
(56a) ?Saya belajar (…) memperhatikan orang sekitar.
(57a) ?(…) disadari, kisah ini membawa pesan pengakuan terhadap prestasi ayah dan penghapusan prestasi ibu.

Pelesapan dalam contoh (54a dan 55a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal sehingga informasi yang disampaikan menjadi tidak jelas. Pelesapan kata tanpa dalam contoh (56a) menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena klausa bawahan tersebut berubah menjadi pelengkap. Pelesapan kata tanpa dalam kalimat contoh (57a) menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena informasi yang disampaikan menjadi berubah total. Penggunaan kata tanpa dalam contoh (54a-57a) tersebut bersifat wajib hadir (memiliki kadar keintian tinggi).

2. Kemampuan Substitusi
Dalam beberapa struktur kalimat, penggunaan penanda dengan dan secara dalam tataran frasa dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Namun, ada kalanya kedua leksem tersebut tidak saling menggantikan. Penanda sambil, sembari, seraya dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Penanda dengan, melalui, sambil, sembari, seraya dalam tataran klausa ada kalanya saling menggantikan, tetapi hal ini jarang terjadi. Penanda tanpa dalam tataran frasa maupun klausa dapat saling menggantikan dengan dengan tidak (tidak dengan) tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan teknik substitusi. Jika setelah disubstitusikan kalimat tetap berterima, maka kata tersebut memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak). Akan tetapi, jika setelah disubstitusikan kalimat menjadi tidak berterima, kata tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar.
Menurut hemat penulis, kata sambil, sembari, dan seraya memiliki kemampuan substitusi yang sama, sehingga pembahasannya dijadikan satu, sedangkan kata tugas penanda keterangan cara yang lain mempunyai kemampuan substitusi tertentu yang membedakannya dengan kata sambil, sembari, dan seraya.
Berikut akan dilakukan teknik substitusi untuk mengetahui kemampuan substitusi penanda-penanda keterangan cara.

a. Pola 1: dengan + {kata/ frasa}
Substitusi kata tugas dengan yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(1) Bu Juwarin meminta saya melakukan perintahnya dengan cepat. (SM-10/ 10-6-2008)
(2) Aris menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. (HP-13)
(3) Mereka tak akan mampu melayani publik dengan baik. (HP-3)
Apabila kata dengan dalam contoh (1-3) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(1a) Bu Juwarin meminta saya melakukan perintahnya secara cepat
(2a) ?Aris menjawab setiap pertanyaan secara tenang
(3a) ?Mereka tak akan mampu melayani publik secara baik.
Dari hasil substitusi dalam contoh (1a) di atas, kata dengan dan secara dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Kata tugas dengan dalam contoh (1a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak). Akan tetapi, dalam contoh (2a dan 3a), dengan dan secara tidak saling menggantikan karena dapat mengganggu keberterimaan kalimat. Kata dengan dalam contoh (2a dan 3a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar.
Contoh lain:
(4) Perempuan itu aku gumuli dengan paksa. (N-21)
(5) Kami mohon dengan hormat. (N-15)
Apabila kata dengan dalam contoh (4 dan 5) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(4a) Perempuan itu aku gumuli secara paksa.
(5a) ?Kami mohon secara hormat.
Dalam contoh (4 dan 5), kata dengan berdampingan dengan verba dasar. Dari hasil substitusi dalam contoh (4a) di atas, dengan dapat saling menggantikan dengan secara, sedangkan dalam contoh (5a), kata dengan dan secara tidak saling menggantikan. Kata tugas dengan dalam contoh (4a) memiliki kemampuan substitusi yang erat, sedangkan dalam contoh (5a), kata tugas dengan memiliki kemampuan substitusi yang longgar.
Contoh lain:
(6) Pekerjaan itu dilakukan dengan segera.
(7) Yunan meminta dengan sangat kepada dosen agar diijinkan masuk.
Apabila kata dengan dalam contoh (6 dan 7) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(6a) ?Pekerjaan itu dilakukan secara segera.
(7a) ?Yunan meminta secara sangat kepada dosen agar diijinkan masuk.
Dalam contoh (6 dan 7), kata dengan berdampingan dengan adverbia. Dari hasil substitusi dalam contoh (6a dan 7a) di atas, kata dengan tidak dapat saling menggantikan dengan secara. Kata tugas dengan dan secara dalam contoh (6a dan 7a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (tidak mutlak).
Contoh lain:
(8) Dengan sendirinya, struktur morfologis kata Indonesia yang berasal dari sumber asing itu berubah pula.
(9) Angin bertiup dengan hebatnya. (PSI-140)
(10) Penjarahan itu dilakukan dengan kekerasan.
Apabila kata dengan dalam contoh (8-10) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(8a) ?Secara sendirinya, struktur morfologis kata Indonesia yang berasal dari sumber asing itu berubah pula.
(9a) ?Angin bertiup secara hebatnya.
(10a) ?Penjarahan itu dilakukan secara kekerasan.
Dari hasil substitusi dalam contoh (8a-10a) di atas, kata dengan tidak dapat saling menggantikan dengan secara karena dapat mengganggu keberterimaan kalimat. Apabila adjektiva yang mendampinginya kata dengan, dilekati akhiran –nya, kalimat menjadi tidak efektif meskipun dengan penggantian preposisi apa pun. Kata dengan dalam contoh (8a dan 10a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (tidak mutlak).
Contoh lain:
(11) Bus dengan seenaknya berhenti. (SM-A/ 26-08-2008)
(12) Saya dengan malu-malu melaksanakan petunjuk itu. (MK-51)
(13) Peristiwa yang baru saja menimpa diriku itu kuceritakan dengan berapi-api.
(14) Pendidikan yang ia peroleh, ia gunakan dengan sebaik-baiknya. (K-42)
(15) Daerah ini dikuatkan oleh Surapati dengan semestinya.
Apabila kata dengan dalam contoh (11-15) disubstitusikan dengan secara, akan kalimat menjadi seperti di bawah ini.
(11a) ?Bus secara seenaknya berhenti
(12a) ?Saya secara malu-malu melaksanakan petunjuk itu.
(13a) Peristiwa yang baru saja menimpa diriku itu kuceritakan secara berapi-api.
(14a) ?Pendidikan yang ia peroleh, ia gunakan secara sebaik-baiknya.
(15a) ?Daerah ini dikuatkan oleh Surapati secara semestinya.
Dalam contoh (11-14) di atas, kata dengan berdampingan dengan adverbia, sedangkan dalam contoh (15), dengan berdampingan dengan modal. Dari hasil substitusi dalam contoh (11a, 12a, 14a, dan 15a), preposisi dengan dan secara tidak saling menggantikan karena dapat mengganggu keberterimaan kalimat, sedangkan substitusi pada contoh (13a), kata dengan dapat saling menggantikan dengan secara tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Kata tugas dengan dalam contoh (11a, 12a, 14a, dan 15as) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak).
Contoh lain:
(16) Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi
Lucynda. (G-28)
(17) Segerombolan tentara Dai Nippon menyerang para pejuang dan warga dengan membabi buta. (MS-26/ ed.8 2007)
Apabila kata dengan dalam contoh (16 dan 17) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(16a) ?Secara susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi Lucynda.
(17a) Segerombolan tentara Dai Nippon menyerang para pejuang dan warga secara membabi buta.
Dalam contoh (16 dan 17) di atas, kata dengan berdampingan dengan adjektiva yang berupa kata majemuk. Dari hasil substitusi pada contoh (16a), kata dengan tidak dapat saling menggantikan dengan secara, tetapi pada contoh (17a), kata dengan dapat saling menggantikan dengan secara. Kata tugas dengan dalam contoh (16a ) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak), tetapi tidak demikian dalam contoh (17a).
Contoh lain:
(18) Kami berdua mendengarkan uraian Pak de Sosro dengan penuh perhatian. (MK-79)
(19) Pak Min akan dengan senang hati membantu. (N-10)
(20) Mereka benar-benar melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati. (KM-42)
Apabila kata dengan dalam contoh (18-20) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(18a) ?Kami berdua mendengarkan uraian Pak de Sosro secara penuh perhatian. (MK-79)
(19a) ?Pak Min akan secara senang hati membantu. (N-10)
(20a) ?Mereka benar-benar melaksanakan tanggung jawab secara sepenuh hati. (KM-42)
Dalam contoh (18-20) di atas, kata dengan berdampingan dengan frasa adjektiva. Dari hasil substitusi dalam contoh (18-20a) di atas, dengan dan secara tidak dapat saling menggantikan karena dapat mengganggu keberterimaan kalimat. Kata tugas dengan dalam contoh (18a-20a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak).
Contoh lain:
(21) Dia berbicara dengan sangat keras.
(22) Ia dengan tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka. (KM-42)
Apabila kata dengan dalam contoh (21 dan 22) disubstitusikan dengna secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(21a) ?Dia berbicara secara sangat keras.
(22a) ?Ia secara tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.
Dalam contoh (21 dan 22) di atas, penanda dengan berdampingan dengan frasa adjektiva. Dari hasil substitusi contoh dalam (21a dan 22a) di atas, kata dengan dan secara tidak dapat saling menggantikan karena dapat mengganggu keberterimaan kalimat. Frasa adjektiva, yang berupa gabungan [adverbia sangat + adjektiva], tidak dapat berdampingan dengan secara. Kata tugas dengan dalam contoh (21a dan 22a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak).
Substitusi penanda dengan cara yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
(23) Dia menghentikan kendaraan yang melintas dengan cara manual.
(HP-29)
(24) Kedua warga desa Kebon Harjo itu dapat menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Apabila penanda dengan cara dalam contoh (23 dan24) disubstitusikan dengan secara, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(23a) Dia menghentikan kendaraan yang melintas secara manual.
?dengan
(24a) Kedua warga desa Kebon Harjo itu dapat menyelesaikan masalah secara damai.
dengan
Dari hasil substitusi dalam contoh (24a) di atas, penanda dengan cara dan dengan dapat saling menggantikan karena tidak mengganggu keberterimaan kalimat, sedangkan dalam contoh (23a) tidak demikian. Dalam contoh (23a dan 24a), dengan cara dan secara dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Kata tugas dengan cara dalam contoh (23a dan 24a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak).
b. Pola 2: secara + {kata/ frasa}
Substitusi kata secara yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(25) Saya secara sadar berusaha memperolehnya. (MK-75)
(26) Dia tidak mengetahui secara jelas duduk perkaranya. (SMtr-H/ 10-6-2008)
(27) Kedua pemuda itu menyelesaikan masalah secara jantan.
(28) Perkara tersebut sebaiknya diselesaikan secara hukum.
Apabila kata secara dalam contoh (25-28) disubstitusikan dengan dengan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(25a) Saya dengan sadar berusaha memperolehnya.
(26a) Dia tidak mengetahui dengan jelas duduk perkaranya.
(27a) ?Kedua pemuda itu menyelesaikan masalah dengan jantan.
(28a) ?Perkara tersebut sebaiknya diselesaikan dengan hukum.
Dalam contoh (25-28) di atas, kata secara berdampingan dengan adjektiva dasar. Dari hasil substitusi dalam contoh (25a dan 26a), secara dapat saling menggantikan dengan dengan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Dalam konteks yang demikian, secara memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak). Dalam contoh (27a dan 28) di atas, kata tugas secara memiliki kemampuan substitusi longgar (bersifat tidak mutlak).
Contoh lain:
(29) Penulis memberikan wawasannya secara kritis. (N-23)
(30) Pungutan liar itu dibiarkan tumbuh secara ilegal. (SM-3/ 10-6-2008)
(31) Dermawan itu memperlakukan seorang pengemis secara manusiawi.
Apabila kata secara dalam contoh (29-31) di atas disubstitusikan dengan dengan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(29a) ?Penulis memberikan wawasannya dengan kritis.
(30a) ?Pungutan liar itu dibiarkan tumbuh dengan ilegal.
(31a) ?Dermawan itu memperlakukan seorang pengemis dengan manusiawi.
Kata secara dalam contoh (29-31) berdampingan dengan adjektiva yang mengandung unsur serapan. Dari hasil substitusi dalam contoh (29a-31a), kata secara dan dengan tidak dapat saling menggantikan. Adjektiva yang memiliki sifat asing (berasal dari bahasa asing atau memperoleh imbuhan asing) cenderung mempergunakan preposisi secara dalam menandai keterangna cara. Kata tugas secara dalam contoh (29a-31a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak).
Contoh lain:
(32) Telur memang kaya akan gizi, tapi jika dimakan secara berlebihan tetap saja tidak baik.
(33) Rahmat Sunardi, S. H. membacakan tuntutan secara bergantian. (SM-H/ 26-8-2008)
(34) Swedia banyak melakukan latihan secara tertutup. (SM-7/ 10-6-2008)
Apabila penanda secara dalam contoh (32-34) di atas disubstitusikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(32a) ?Telur memang kaya akan gizi, tapi jika dimakan dengan berlebihan tetap saja tidak baik.
(33a) ?Rahmat Sunardi, S. H. membacakan tuntutan dengan bergantian.
(34a) ?Swedia banyak melakukan latihan dengan tertutup.
Dalam contoh kalimat (32-34), kata secara berdampingan dengan adjektiva berimbuhan. Dari hasil substitusi kata secara dengan dengan dalam contoh (32a-34a), kalimat menjadi tidak berterima. Dalam konteks demikian, secara memiliki kemampuan substitusi yang longgar (bersifat tidak mutlak).
Contoh lain:
(35) Kami secara diam-diam selalu bermain di pantai yang menyenangkan itu. (MK-65)
(36) Pesta ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran. (MK-88)
(37) Remaja masjid ini secara blak-blakan mengakuinya. (HP-22)
(38) Dia secara membabi buta menikam orang-orang di sekelilingnya. (SM-14/ 10-6-2008)
Apabila kata secara dalam contoh (35-38) disubstitusikan dengan dengan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(35a) Kami dengan diam-diam selalu bermain di pantai yang menyenangkan itu.
(36a) Pesta ulang tahunnya dirayakan dengan besar-besaran.
(37a) ?Remaja masjid ini dengan blak-blakan mengakuinya.
(38a) Dia dengan membabi buta menikam orang-orang di sekelilingnya.
Dalam contoh (35-37), kata secara berdampingan dengan adjektiva yang telah mengalami reduplikasi, sedangkan dalam contoh (38), kata denganberdampingan dengan kata majemuk. Dari hasil substitusi dalam contoh (35a dan 36a), kata secara dapat saling menggantikan dengan dengan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Begitu pula dalam contoh (38a). Dalam konteks yang demikian, secara memiliki kemampuan substitusi yang sifatnya erat. Dari hasil substitusi dalam contoh (37a), kalimat menjadi tidak berterima apabila dengan menggantikan secara yang berdampingan dengan reduplikasi adjektiva yang bermakna “cara yang dilakukan dengan tidak serius”.

c. Pola 3: tanpa + {kata/ frasa}
Substitusi kata tugas tanpa yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(39) Tanpa sengaja dia bertemu dengan Bayu. (G-12)
(40) Tanpa terasa kereta api yang membawa kami telah sampai di Rembang. (MK-62)
Apabila kata tanpa dalam contoh (39 dan 40) disubstitusikan dengan tidak dengan dan dengan tidak, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(39a) Dengan tidak sengaja dia bertemu dengan Bayu.
Tidak dengan
(40a) Dengan tidak terasa kereta api yang membawa kami telah sampai *Tidak dengan
di Rembang.
Dalam contoh (39 dan 40) di atas, kata dengan berdampingan dengan adjektiva dasar. Dari hasil substitusi dalam contoh (39a) di atas, kata tanpa dengan dengan tidak dan tidak dengan dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Dari hasil substitusi dalam contoh (40a) di atas, kata tanpa dapat saling menggantikan dengan dengan tidak, tetapi tidak dengan tidak dengan. Kata tanpa dalam contoh (39a dan 40a) memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak).
Contoh lain:
(41) Tanpa banyak bicara kami pulang. (MK-66)
(42) Tanpa kemauan besar Anda tidak akan berhasil. (TBBBI-371)
Apabila kata tanpa dalam contoh (41 dan 42) disubstitusikan dengan tidak dengan dan dengan tidak, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(41a) Dengan tidak banyak bicara kami pulang.
Tidak dengan
(42a) *Dengan tidak kemauan besar Anda tidak akan berhasil.
?Tidak dengan
Dalam contoh (41 dan 42), kata tanpa berdampingan dengan frasa adjektiva dan frasa nomina. Dari hasil substitusi dalam contoh (41a) di atas, kata tanpa dengan dengan tidak dan tidak dengan dapat saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Kata tanpa dalam contoh (41a) memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak). Namun, dalam contoh (42a), kata tanpa memiliki kemampuan substitusi yang longgar karena tidak dapat saling menggantikan dengan dengan tidak dan tidak dengan
d. Pola 4: dengan + klausa
Substitusi kata tugas dengan yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(43) Dengan mengombinasikan keahlian mendalang dan bermain gamelan, ia torehkan kehidupan manusia ke dalam dunia wayang. (N-24).
(44) Dengan merunut logika dari pernyataan-pernyataan itu, setiap posisi dapat dijelaskan secara bertanggung jawab. (N-22).
(45) Cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye dengan berbelanja sayuran di Pasar Kliwon. (SM-2/ 10-06-2008)
Apabila kata dengan dalam contoh (43-45) di atas disubtitusikan dengan melalui, sambil, seraya, dan sembari, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(43a) Melalui mengombinasikan keahlian mendalang dan bermain
?Sambil
gamelan, ia torehkan kehidupan manusia ke dalam dunia wayang.
(44a) Melalui merunut logika dari pernyataan-pernyataan itu, setiap
Sembari
setiap posisi dapat dijelaskan secara bertanggung jawab
(45a) Cawagub pasangan Tamzil-Abdul Rozaq melakukan kampanye
melalui berbelanja sayuran di Pasar Kliwon.
?seraya
Dari hasil substitusi dalam contoh (43a-45a) di atas, kata dengan dapat saling dipertukarkan dengan melalui tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Substitusi dengan dengan sambil/ sembari/ seraya dalam contoh (43a-45a), hanya contoh (44a) yang berterima. Dalam contoh (43a dan 45a), penggunaan sambil/ sembari/ seraya menjadikan kalimat menjadi tidak berterima karena dua klausa tersebut seolah-olah mempunyai hubungan “waktu”. Kata dengan dalam contoh (43a-45a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang tidak begitu erat.
Subtitusi penanda dengan cara yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
(46) Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi dilakukan dengan cara mempersiapkan bibit dari biji yang akan dijadikan sebagai batang bawah. (KM-47)
(47) Ia mulai memperbaikinya dengan cara mengikuti semester pendek. (N-14)
Apabila penanda dengan cara dalam contoh (46 dan 47) di atas disubstitusikan dengan dengan, sambil, sembari, seraya, melalui, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(46a) Perbanyakan tanaman dengan cara okulasi dilakukan dengan
melalui
?sambil
mempersiapkan bibit dari biji yang akan dijadikan sebagai batang bawah.
(47a) Ia mulai memperbaikinya dengan mengikuti semester pendek.
melalui
? sembari
efektif.
Dari hasil substitusi dalam contoh (46a dan 47a) di atas, dengan cara dapat dipertukarkan dengan dengan dan melalui. Substitusi dengan dengan sambil/ seraya/ sembari menjadikan kalimat tidak berterima karena seolah kedua klausa mempunyai hubungan makna “waktu yang bersamaan”. Konjungsi dengan cara dalam contoh (46a dan 47a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang tidak begitu erat.

e. Pola 5: melalui + klausa
Substitusi kata tugas melalui yang berdampingan dengna klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(48) Kami telah menyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi langsung dengan beliau. (SMtr-L/ 10-06-2008)
(49) Anak-anak menikmati masa liburan melalui bertamasya di pantai.
Apabila kata melalui dalam contoh kalimat (48 dan 49) di atas disubstitusikan dengan dengan dan sambil, sembari, atau seraya, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(48a) Kami telah menyelesaikan masalah tersebut dengan komunikasi
?sambil
langsung dengan beliau.
(49a) Anak-anak menikmati masa liburan dengan bertamasya di pantai.
sembari
Dari hasil subsitusi dalam contoh (48a dan 49a) di atas, konjungsi melalui dapat saling menggantikan dengan dengan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat. Dari hasil substitusi melalui dengan {sambil/ sembari/ seraya}, hanya contoh (49a) yang tetap menyatakan hubungan “cara”, sedangkan dalam contoh (48a) memiliki hubungan makna “waktu yang bersamaan”. Kata melalui dalam contoh (48a dan 49a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang tidak begitu erat.

f. Pola 6: {sambil, sembari dan seraya} + klausa
Substitusi kata tugas sambil, sembari dan seraya yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(50) Saya menangis sambil menjerit-jerit. (MK-19)
Apabila kata sambil dalam kalimat (50) tersebut disubstitusikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(50a) Saya menangis dengan menjerit-jerit.
* melalui
sembari
seraya
Dari hasil substitusi dalam contoh (50a) di atas, kata sambil dapat saling menggantikan dengan dengan, sembari, seraya tanpa mengganggu keberterimaan kalimat walaupun masing-masing memiliki nilai keindahan (estetis) yang berbeda. Kata sambil, dalam contoh (50a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang erat.
Contoh lain:
(51) Sambil mengacung-acungkan senjata tajam yang mereka bawa, mereka mengancam pemilik rumah. (KM-41)
(52) Mas Ham bertanya sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng
Ira. (K-3)
(53) Dia menghentikan kendaraan yang melintas seraya meniup sempritan.
(HP-30)
Apabila kata sambil, sembari, seraya dalam contoh (51-53) tersebut saling disubstitusikan, dan disubstitusikan dengan dengan dan melalui, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini
(51a) Dengan mengacung-acungkan senjata tajam yang mereka bawa,
*Melalui
Sembari
Seraya
mereka mengancam pemilik rumah.
(52a) Mas Ham bertanya dengan menyunggingkan senyum kepada Jeng
*melalui
sambil
seraya
Ira.
(53a) Dia menghentikan kendaraan yang melintas dengan meniup
melalui
sambil
sembari
sempritan.
Dari hasil substitusi dalam contoh (51a-53a) di atas, kata sambil, sembari, dan seraya dapat saling menggantikan dengan dengan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat meskipun harus melihat verba yang mengikuti konjungsi tersebut lebih dahulu. Penanda sambil, sembari, seraya hanya dapat saling menggantikan dengan melalui dalam contoh (53a). Kata dengan, sambil, sembari, dan seraya dalam contoh (51a-53a) tersebut memiliki kemampuan substitusi yang erat (bersifat mutlak).

g. Pola 7: tanpa + klausa
Substitusi kata tugas tanpa yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(54) Saya harus berpisah dengan teman-teman sekolah tanpa dapat menyampaikan ucapan terimakasih. (MK-84)
(55) Tanpa disadari, kisah ini membawa pesan pengakuan terhadap prestasi ayah dan penghapusan prestasi ibu. (KM-18)
(56) Tanpa memberikan kesempatan berteriak, mereka membabat leher dua perempuan itu. (HP-10)
Apabila kata tanpa dalam contoh (54-56) di atas disubstitusikan dengan tidak dengan dan dengan tidak, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(54a) Saya harus berpisah dengan teman-teman sekolah dengan tidak *tidak dengan
dapat menyampaikan ucapan terimakasih.
(55a) Dengan tidak disadari, kisah ini membawa pesan pengakuan
?Tidak dengan
terhadap prestasi ayah dan penghapusan prestasi ibu.
(56a) Dengan tidak memberikan kesempatan berteriak, mereka membabat ?Tidak dengan
leher dua perempuan itu
Dari hasil substitusi dalam contoh (54a-56a), kata tanpa dapat saling menggantikan dengan dengan tidak, tetapi tidak saling menggantikan dengan tidak dengan. Kata tugas tanpa dalam contoh (54a-56a) memiliki kemampuan substitusi yang tidak begitu erat.

3. Letak Keterangan
Berdasarkan hasil penelitian para ahli, frasa keterangan dapat diletakkan di awal, di tengah, dan di akhir kalimat, sedangkan klausa keterangan dapat diletakkan di awal dan di tengah kalimat saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan teknik permutasi. Apabila setelah dipermutasikan kata tugas dapat berubah posisi dan kalimat tetap berterima, kata tugas tersebut bersifat longgar.
Mengenai letak kata, penanda sambil, sembari, dan seraya juga mempunyai perilaku sintaksis dari segi letak kata yang sama jika dibandingkan dengan penanda keterangan cara lainnya. Oleh karena itu, pembahasan kata sambil, sembari, dan seraya tersebut dijadikan satu.
Berikut ini dilakukan teknik permutasi untuk mengetahui ketegaran letak keterangan cara dalam hubungannya dengan satuan lingual yang lain.

a. Pola 1: dengan + {kata/ frasa}
Permutasi keterangan cara dengan kata tugas dengan yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(1) Semua menerima dengan penuh ketabahan. (MK-79)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (1) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(1a) Dengan penuh ketabahan semua menerima.
(1b) Semua dengan penuh ketabahan menerima.
Kalimat dalam contoh (1) merupakan kalimat tunggal sederhana yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat semitransitif, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (1a dan 1b) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal meskipun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang predikat. Posisi frasa keterangan cara dalam contoh (1a dan 1b) tersebut bersifat longgar.
Contoh lain:
(2) Kejuaraan antarfakultas ini hendaknya dikemas dengan baik dan matang. (HP-2)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (2) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(2a) Dengan baik dan matang kejuaraan antarfakultas ini hendaknya dikemas.
(2b) ?Kejuaraan antarfakultas ini dengan baik dan matang hendaknya dikemas.
(2c) ?Kejuaraan antarfakultas ini hendaknya dengan baik dan matang dikemas.
Kalimat contoh (2) mengandung satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Dari hasil permutasi contoh (2a) di atas, kalimat tetap gramatikal. Posisi frasa keterangan cara dapat terletak di depan subjek dan di belakang predikat. Posisi frasa keterangan cara yang terletak di antara subjek dan predikat [modal + V] dalam contoh (2b dan 2c) menjadikan kalimat tidak berterima. Posisi keterangan cara dalam contoh (2b dan 2c) tersebut bersifat tidak longgar.
Contoh lain:
(3) Anak sulung yang ditunggu-tunggu telah datang dengan selamat. (MK-91)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (3) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(3a) Dengan selamat anak sulung yang ditunggu-tunggu telah datang.
(3b) *Anak sulung yang ditunggu-tunggu dengan selamat telah datang.
Kalimat dalam contoh (3), merupakan kalimat tunggal sederhana yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (3a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap berterima walaupun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, dan di antara subjek dan predikat. Posisi keterangan cara dalam contoh (3a) tersebut bersifat longgar. Namun, dalam contoh (3b) kalimat menjadi tidak gramatikal akibat posisi keterangan cara di belakang predikat yang terdiri dari [aspek + V].
Contoh lain:
(4) Mereka benar-benar melaksanakan tanggung jawab dengan sepenuh hati. (KM-42)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (4) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(4a) Dengan sepenuh hati mereka benar-benar melaksanakan tanggung jawab.
(4b) Mereka dengan sepenuh hati benar-benar melaksanakan tanggung jawab.
(4c) *Mereka benar-benar melaksanakan dengan sepenuh hati tanggung jawab.
Kalimat dalam contoh (4), merupakan kalimat tunggal sederhana yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, objek, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (4a dan 4b) di atas menghasilkan kalimat yang tetap berterima meskipun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan setelah predikat. Posisi frasa keterangan cara dalam contoh (4a dan 4b) tersebut bersifat longgar. Namun, posisi keterangan cara di antara predikat dan objek dalam contoh (4c) menjadikan kalimat tersebut tidak gramatikal.
Contoh lain:
(5) Beliau mencatat dengan seksama setiap kelahiran putra-putri keluarga Rembang. (MK-53)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (5) di atas dipermutasikan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(5a) Dengan seksama beliau mencatat setiap kelahiran putra-putri keluarga Rembang.
(5b) Beliau dengan seksama mencatat setiap kelahiran putra-putri keluarga Rembang.
(5c) Beliau mencatat setiap kelahiran putra-putri keluarga Rembang dengan seksama.
Kalimat dalam contoh (5), merupakan kalimat tunggal sederhana yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, objek, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (5a-5c) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal meskipun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, di antara predikat dan objek, dan di belakang objek. Hal ini membuktikan bahwa ada juga keterangan cara yang dapat diletakkan di antara predikat dan objek. Kejadian seperti ini biasanya terjadi pada kalimat berverba semitransitif. Posisi keterangan cara dalam contoh (5a-5c) tersebut bersifat longgar.
(6) Daerah ini dikuatkan oleh Surapati dengan semestinya.
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (6) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(6a) Daerah ini dikuatkan secara semestinya oleh Surapati.
(6b) Secara semestinya daerah ini dikuatkan oleh Surapati.
(6c) Daerah ini secara semestinya dikuatkan oleh Surapati.
Kalimat contoh (6) terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, keterangan pelaku, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (6a-6c) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Frasa keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, di antara predikat dan keterangan pelaku, dan di belakang keterangan pelaku. Posisi keterangan cara dalam contoh (6a-6c) tersebut bersifat longgar.
Contoh lain:
(7) Ia dengan tabah dan sabar membagikan ilmunya kepada mereka.
(KM-42)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (7) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(7a) Dengan tabah dan sabar ia membagikan ilmunya kepada mereka.
(7b) *Ia membagikan dengan tabah dan sabar ilmunya kepada mereka.
(7c) Ia membagikan ilmunya dengan tabah dan sabar kepada mereka.
(7d) Ia membagikan ilmunya kepada mereka dengan tabah dan sabar.
Kalimat dalam contoh (7), merupakan kalimat tunggal sederhana yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, objek, keterangan cara, dan keterangan tujuan. Permutasi dalam contoh (7a, 7c, dan 7d) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal meskipun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, di antara objek dan keterangan tujuan, dan di belakang keterangan tujuan. Posisi keterangan cara dalam contoh (7a, 7c, dan 7d) tersebut bersifat longgar. Namun, dalam contoh (7b) kalimat menjadi tidak gramatikal karena keterangan cara yang diletakkan di antara predikat dan objek.
Contoh lain:
(8) Dengan susah payah, akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi
Lucynda. (G-28)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (8) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(8a) ?Akhirnya dengan susah payah mereka sampai juga ke kamar bibi Lucynda.
(8b) ?Akhirnya mereka dengan susah payah mereka sampai juga ke kamar bibi Lucynda.
(8c) ?Akhirnya mereka sampai juga dengan susah payah ke kamar bibi Lucynda.
(8d) ?Akhirnya mereka sampai juga ke kamar bibi Lucynda dengan susah payah.
Contoh kalimat (8) merupakan kalimat tunggal yang terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, keterangan hasil, keterangan cara, dan keterangan tempat. Permutasi contoh (8a-8d) di atas menghasilkan kalimat tidak berterima apabila keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan setelah predikat. Dalam konteks kalimat tersebut, seolah-olah pembicara menginginkan subjek sampaikei kamar dengan susah payah. Posisi keterangan cara dalam contoh (8a-8c) tersebut bersifat longgar.



b. Pola 2: secara + {kata/ frasa}
Permutasi keterangan cara dengan kata tugas secara yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(9) Kebijakan politik Bush dirubah secara total. (HP-25)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (9) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(9a) Secara total kebijakan politik Bush dirubah.
(9b) Kebijakan politik Bush secara total dirubah.
Kalimat contoh (9) terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (9a dan 9b) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Frasa keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang predikat. Posisi keterangan cara dalam contoh (9a dan 9b) tersebut bersifat longgar.
Contoh lain:
(10) Sikap dan harapan semacam itu tidak dinyatakannya secara terang-terangan. (MK-88)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (10) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(10a) ?Secara terang-terangan sikap dan harapan semacam itu tidak dinyatakannya.
(10b) ?Sikap dan harapan semacam itu secara terang-terangan tidak dinyatakannya.
Kalimat contoh (10) terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (10a dan 10b) di atas menghasilkan kalimat yang tidak berterima karena adanya kata tidak di depan verba. Apabila posisi keterangan cara dalam contoh (10) dipermutasi, makna yang disampaikan menjadi berbeda. Posisi keterangan cara dalam contoh (10a dan 10b) tersebut bersifat tidak longgar.
Contoh lain:
(11) Gadis itu belajar berenang secara rutin.
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (11) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(11a) *Gadis itu belajar secara rutin berenang.
(11b) Secara rutin gadis itu belajar berenang.
(11c) Gadis itu secara rutin belajar berenang.
Kalimat contoh (11) terdiri dari masing-masing satu subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (11a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal karena keterangan cara tidak dapat diletakkan di antara predikat dan pelengkap. Permutasi dalam contoh (11b dan 11c) di atas meghasilkan kalimat yang tetap gramatikal dengan posisi frasa keterangan cara yang berada di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang predikat. Posisi keterangan cara dalam contoh (11b dan 11c) tersebut bersifat longgar.
(12) Secara diam-diam kami masuk dan berenang di bak air yang sejuk itu.
(MK-59)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (14) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(12a) Kami secara diam-diam masuk dan berenang di bak air yang sejuk itu.
(12b) Kami masuk dan berenang secara diam-diam di bak air yang sejuk itu.
(12c) Kami masuk dan berenang di bak air yang sejuk itu secara diam-diam.
Kalimat contoh (12) merupakan kalimat tunggal dengan masing-masing satu subjek, predikat, keterangan cara, dan keterangan tempat. Permutasi dalam contoh (12a-12c) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal meskipun keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, di antara predikat dan keterangan tempat, dan di belakang keterangan tempat. Posisi keterangan cara dalam contoh (12a-12c) tersebut bersifat longgar.

c. Pola 3: tanpa + {kata/ frasa}
Permutasi keterangan cara dengan penanda tanpa yang berdampingan dengan kata atau frasa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(13) Rumania juga tampil tanpa greget. (SM-13)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (13) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(13a) ?Tanpa greget Rumania juga tampil.
(13b) ?Rumania tanpa greget juga tampil.
Kalimat contoh (13) merupakan kalimat tunggal dengan masing-masing satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Permutasi contoh (13a dan 13b) di atas menghasilkan kalimat yang tidak berterima apabila frasa keterangan cara tersebut diletakkan di depan subjek dan di antara subjek dan predikat. Keterangan cara tersebut hanya berterima apabila diletakkan di belakang predikat. Hal ini disebabkan adanya kata juga di depan tampil. Posisi keterangan cara dalam contoh (13a dan 13b) tersebut bersifat tidak longgar.
Contoh lain:
(14) Tanpa banyak bicara kami pulang. (MK-66)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (16) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(14a) Kami tanpa banyak bicara pulang.
(14b) Kami pulang tanpa banyak bicara.
Kalimat contoh (14) merupakan kalimat tunggal dengan masing-masing satu subjek, predikat, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (14a dan 14b) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang predikat. Posisi keterangan cara dalam contoh (14a dan 14b) tersebut bersifat longgar.
Contoh lain:
(15) Tanpa sengaja dia bertemu dengan Bayu. (G-12)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (15) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(15a) Dia tanpa sengaja bertemu dengan Bayu.
(15b) *Dia bertemu tanpa sengaja dengan Bayu.
(15c) Dia bertemu dengan Bayu tanpa sengaja.
Kalimat contoh (15) merupakan kalimat tunggal dengan masing-masing satu subjek, predikat, keterangan penderita, dan keterangan cara. Permutasi dalam contoh (15a dan 15c) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, di antara subjek dan predikat, dan di belakang keterangan penderita. Posisi keterangan cara dalam contoh (15a dan 15c) tersebut bersifat longgar. Namun, dalam contoh (15b) kalimat menjadi tidak gramatikal karena posisi keterangan cara tersebut yang terletak di antara predikat dan keterangan penderita.
Contoh lain:
(16) Tanpa terasa kereta api yang membawa kami telah sampai di Rembang. (MK-62)
Apabila frasa keterangan cara dalam contoh (16) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(16a) Kereta api yang membawa kami tanpa terasa telah sampai di Rembang.
(16b) ?Kereta api yang membawa kami telah sampai tanpa terasa di Rembang.
(16c) ?Kereta api yang membawa kami telah sampai di Rembang tanpa terasa.
Kalimat contoh (16) merupakan kalimat tunggal dengan masing-masing satu subjek, predikat, keterangan tempat dan keterangan cara. Permutasi contoh (16a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek dan di antara subjek dan predikat. Namun, dalam contoh (16b dan 16c), kalimat menjadi tidak berterima karena posisi keterangan cara yang terletak di antara predikat dan keterangan tempat dan di belakang keterangan tempat. Posisi keterangan cara tersebut harus berada di depan [aspek + V] agar tetap gramatikal. Posisi keterangan cara dalam contoh (16b dan 16c) tersebut bersifat tidak longgar.

d. Pola 4: dengan + klausa
Permutasi keterangan cara dengan penanda dengan yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(17) Kami harus turun dari sepeda dan memberi hormat kepada prajurit penjaga itu dengan membungkukkan badan. (MK-81)
(18) Pihak universitas terkesan mengusir mereka secara halus dengan menghentikan aliran air ke sana. (N-17)
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (19-21) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(17a) Dengan membungkukkan badan, kami harus turun dari sepeda dan memberi hormat kepada prajurit penjaga itu.
(18a) Dengan menghentikan aliran air ke sana, pihak universitas terkesan mengusir mereka secara halus.
Kalimat contoh (17 dan 18) terdiri dari satu klausa utama dan satu klausa bawahan yang mengandung hubungan semantis cara. Permutasi dalam contoh (17a dan 18a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Klausa keterangan cara dapat terletak di awal maupun di tengah kalimat, yaitu di depan klausa utama dan di belakang klausa utama. Posisi keterangan cara dalam contoh (17a dan 18a) tersebut bersifat longgar.
Contoh lain:
(19) Dengan dipegangi kuat-kuat oleh beliau itulah, saya memperoleh suntiikan di pantat. (MK-21)
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (19) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(19a) *Saya diobati dan memperoleh suntikan di pantat dengan dipegangi kuat-kuat oleh beliau itulah.
Kalimat contoh (19) terdiri dari satu klausa utama dan satu klausa bawahan yang mengandung hubungan semantis cara. Permutasi dalam contoh (19a) di atas menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal. Hal ini disebabkan adanya parikel lah. Seandainya tidak ada partikel -lah, kalimat akan tetap gramatikal. Posisi keterangan cara dalam contoh (19a) tersebut bersifat tidak longgar.
Contoh lain dengan menggunakan variasi pada dengan, dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.
(20) Pelaku pencurian diduga masuk lewat jendela rumah dengan cara merusaknya ketika keluarga itu sedang pergi.
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (20) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(20a) *Dengan cara merusaknya ketika keluarga itu sedang pergi, pelaku pencurian diduga masuk lewat jendela rumah.
Permutasi dalam contoh (25a) menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal karena pronomina –nya yang melekati verba tidak mempunyai acuan lagi. Dalam konteks kalimat (20a) tersebut, posisi keterangan cara bersifat erat.

e. Pola 5: melalui + klausa
Permutasi keterangna cara dengan penanda melalui yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(21) Kami telah menyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi langsung dengan beliau. (SMtr-L/ 10-06-2008)
(22) Anak-anak menikmati masa liburan melalui bertamasya di pantai.
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (21 dan 22) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(21a) Melalui komunikasi langsung dengan beliau, kami telah menyelesaikan masalah tersebut.
(22a) Melalui bertamasya di pantai, anak-anak menikmati masa liburan.
Permutasi dalam contoh (21a dan 22a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Klausa keterangan cara dapat terletak di awal maupun di tengah kalimat. Posisi keterangan cara dalam contoh (21a dan 22a) tersebut bersifat longgar.

f. Pola 6: (sambil, sembari dan seraya) + klausa
Permutasi keterangan cara dengan penanda sambil, sembari dan seraya yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(23) Para nelayan duduk di pinggiran rawa sambil bersantai. (N-10)
(24) Sambil keras-keras mengembik, kambing-kambing itu ingin lari.
(MK-41)
(25) Mas Ham bertanya sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng
Ira. (K-3)
(26) Dia menghentikan kendaraan yang melintas seraya meniup sempritan.
(HP-30)
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (23-26) tersebut dipermutasikan, akan menjadi seperti kalimat di bawah ini.
(23a) Sambil bersantai, para nelayan duduk di pinggiran rawa.
(24a) Kambing-kambing itu ingin lari sambil keras-keras mengembik.
(25a) Sembari menyunggingkan senyum kepada Jeng Ira, Mas Ham bertanya.
(26a) Seraya meniup sempritan, dia menghentikan kendaraan yang melintas.
Permutasi dalam contoh (23a-26a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Klausa keterangan cara dapat diletakkan di awal maupun di tengah kalimat. Posisi keterangan cara dalam contoh (23a-26a) tersebut bersifat longgar.



g. Pola 6: tanpa + klausa
Permutasi keterangan cara dengan penanda tanpa yang berdampingan dengan klausa dapat dilihat sebagai berikut.
Contoh:
(27) Saya cepat menguasainya tanpa merusakkan peralatannya. (MK-63)
(28) Bagaimana saya dapat melepaskan kambing jantan itu tanpa diseruduk? (MK-43)
Apabila klausa keterangan cara dalam contoh (27 dan 28) di atas dipermutasikan, akan menjadi kalimat seperti di bawah ini.
(27a) Tanpa merusakkan peralatannya, saya cepat menguasainya.
(28a) Bagaimana tanpa diseruduk saya dapat melepaskan kambing jantan itu?
Permutasi dalam contoh (27a dan 28a) di atas menghasilkan kalimat yang tetap gramatikal. Klausa keterangan cara dapat diletakkan di depan klausa utama dan di belakang klausa utama (di awal dan di tengah kalimat). Posisi keterangan cara dalam contoh (27a dan 28a) tersebut bersifat longgar.













BAB V
PENUTUP


A. Simpulan
Berdasarkan uraian mengenai keterangan cara yang telah diketengahkan pada bab-bab sebelumnya, penulis dapat merumuskan simpulan sebagai berikut.
1. Berdasarkan satuan gramatisnya, keterangan cara dapat diklasifikasikan atas keterangan yang berbentuk kata, frasa, dan klausa. Keterangan cara yang berupa frasa dan klausa terbagi atas bentuk yang implisit dan eksplisit.
a. Klasifikasi keterangan cara berbentuk kata, dapat berupa:
1) kata dasar, dapat berupa
a) Pola 1: adjektiva dasar
b) Pola 2: kata pengganti adjektiva
2) kata jadian (afiksasi), dapat berupa
a) Pola 1: se- + V
b) Pola 2: ber- + V
c) Pola 3: ter- + V
d) Pola 4: ekstra + adj
e) Pola 5: se- + V + pron
f) Pola 6: se- + V + -nya
g) Pola 7: se- + adj + -nya
h) Pola 8: ber- + V + -an
i) Pola 9: num per num
3) Kata jadian (reduplikasi), dapat berupa
a) Pola 1: R. penuh
b) Pola 2: R. sebagian
c) Pola 3: R. adj + -an
d) Pola 4: se- + R adj + -nya
e) Pola 5: ber- + R. V + ¬-an
f) Pola 6: ber- + R. num + ¬-an
4) Kata jadian (kata majemuk)

b. Klasifikasi keterangan cara berbentuk frasa
1) diungkapkan secara implisit, dapat berupa
a) Pola 1: tak + R. V + -nya
b) Pola 2: se- + adj + mungkin
c) Pola 3: demon + kata tertentu
d) Pola 4: sebagaimana + modal
e) Pola 5: [se- + V + pron] + pron tak takrif
f) Pola 6: se- + kata tertentu
g) Pola 7: frasa adjektiva
2) diungkapkan secara eksplisit dengan penanda preposisi dengan, secara, dan tanpa.

c. Klasifikasi keterangan cara berbentuk klausa
1) diungkapkan secara implisit
2) diungkapkan secara eksplisit, dengan penanda konjungsi dengan, melalui, sambil, sembari, seraya, dan tanpa

2. Kata tugas yang dapat menimbulkan hubungan makna “cara” dalam bahasa Indonesia antara lain preposisi dengan, secara, tanpa dan konjungsi dengan, melalui, sambil, seraya, sembari, tanpa.
a. Sifat kehadiran kata tugas tersebut dalam menandai keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Dalam tataran frasa,
a) penanda dengan bersifat wajib hadir dapat pula bersifat manasuka apabila didampingi adjektiva dasar. Penanda dengan bersifat wajib hadir bila didampingi adjektiva yang telah melalui nominalisasi dan adjektiva yang dikombinasikan dengan frasa yang bermakna “penuh”. Penanda dengan bersifat manasuka apabila didampingi adjektiva yang telah mengalami proses morfologis (sehingga membentuk adverbia).
b) penanda secara bersifat wajib hadir dapat pula bersifat manasuka apabila didampingi adjektiva berbentuk dasar. Penanda secara bersifat wajib hadir apabila didampingi adjektiva yang telah mengalami nominalisasi. Penanda secara bersifat wajib hadir apabila didampingi adjektiva yang mendapatkan unsur serapan dan modal. Penanda secara bersifat manasuka apabila didampingi adjektiva yang telah mengalami proses morfologis (sehingga membentuk adverbia).
c) penanda tanpa bersifat wajib hadir karena tanpa kehadiran kata tugas tersebut menjadikan makna yang hendak disampaikan berubah total.
2) Dalam tataran klausa,
a) penanda dengan, melalui, sambil, seraya, dan sembari bersifat wajib hadir apabila penanda beserta klausa yang mengikutinya berada di urutan kedua (setelah utama). Namun, penanda dengan, melalui, sambil, seraya, dan sembari bersifat manasuka apabila penanda beserta klausa yang mengikutinya berada di urutan pertama (awal kalimat). Bentuk klausa yang mengikutinya juga turut menentukan sifat ini.
b) penanda tanpa bersifat wajib hadir karena ketidakhadirannya hanya akan menjadikan makna yang hendak disampaikan berubah total.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa relasi yang eksplisit tidak selalu dapat dieksplisitkan, dan begitu juga sebaliknya, selasi yang implisit tidak selalu dapat diimplisitkan.

b. Kemampuan substitusi kata tugas yang menyatakan makna “cara” dalam kalimat bahasa Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Dalam tataran frasa,
a) penanda dengan dan secara dapat saling menggantikan apabila didampingi adverbia cara. Penanda dengan dan secara tidak saling menggantikan apabila dengan didampingi adjektiva yang dikombinasikan dengan frasa tertentu yang bermakna “penuh”. Penanda dengan dan secara tidak saling menggantikan apabila dengan didampingi adjektiva yang bersifat kebatinan.
b) penanda secara dan dengan tidak saling menggantikan apabila secara didampingi adjektiva yang telah mengalami nominalisasi, adjektiva yang berasal dari verba yang telah mengalami afiksasi, dan adjektiva yang mengandung kata asing (unsur serapan).
c) penanda tanpa dapat saling menggantikan dengan tidak dengan atau dengan tidak.

2) Dalam tataran klausa,
a) penanda dengan dapat saling menggantikan dengan melalui, sambil, sembari, dan seraya tetapi harus memperhatikan jenis verba yang mengikutinya. Penanda sambil, sembari, dan seraya dapat mutlak saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat.
b) penanda tanpa dan tidak dengan (dengan tidak) saling menggantikan tanpa mengganggu keberterimaan kalimat.

c. Letak keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia disimpulkan sebagai berikut.
1) Frasa keterangan cara dapat diletakkan di depan subjek, antara subjek dan predikat, belakang objek, tetapi tidak dapat diletakkan di antara predikat dan objek (pada predikat yang berverba transitif). Namun, pada kalimat berverba semi-transitif, keterangan cara tersebut dapat diletakkan di antaranya. Frasa keterangan juga tidak dapat diletakkan di depan pelengkap.
2) Klausa keterangan dapat diletakkan di awal kalimat dan di tengah kalimat tetapi harus melihat bentuk (sifat) masing-masing klausa.
Jadi, kata tugas yang menandai keterangan cara dalam kalimat bahasa Indonesia berada pada fungsi keterangan, maka letaknya dapat berada di awal, tengah, maupun akhir kalimat tetapi dengan beberapa perkecualian.

B. Saran
Dalam penelitian ini telah dilakukan pembahasan tentang keterangan cara, yakni analisis sintaksis, yang menghasilkan pola-pola keterangan seperti tersebut di atas. Selain pola yang telah disebutkan di atas, masih ada kemungkinan ditemukannya pola-pola keterangan cara yang lain. Oleh karena itu, penulis berharap ada penelitian berikutnya yang dapat mengungkapnya.
Banyaknya kekurangan dalam penulisan skripsi ini, penulis mengharapkan saran dan kritik sehingga tercapai sebuah kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Alieva, N.F., dkk.1991. Bahasa Indonesia: Deskripsi dan Teori. Yogyakarta: Kanisius.

Alwasilah, Chaedar. 1993. Beberapa Mahzab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung: Angkasa.

----------. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.

Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Ba’dulu, Abdul Muis dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka Cipta.

Fokker. 1983. Pengantar Sintaksis Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.

----------. 2005. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Lestari, Ani Dwi. 2005. Perilaku Kata Agar, Supaya, dan Biar dalam Bahasa Indonesia. Semarang: Fakultas Sastra UNDIP.

Purwani, Yuliantie Eko. 2002. Kata Begitu dalam Bahasa Indonesia. Semarang: Fakultas Sastra UNDIP.

Ramlan, M. 1987. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: CV Karyono.

----------. 2001. Sintaksis: Ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta: CV Karyono.

Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Sastra Hudaya.

----------1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: M. L. I. Komisariat Universitas Gajah Mada.

Sudharmono. 1994. Masa Kecilku. Jakarta: Yayasan Karsa Luhur Sejati.

Tadjuddin, Moh et.al. 2001. Preposisi dan Konjungsi: Studi Tipologi Bahasa Sunda-Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Wahyuningsih, Lusia Tri Hapsari. 1997. Peran Pengisi Keterangan dalam Kalimat Tunggal Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Verhaar, J, W, M. 1995. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

No comments: