13 June 2011

Mempersiapkan punya anak bagi pengantin baru

Cerita lucu ibu ketika anak menjadi bagian hidupnya.

Usia saya saat itu 32 tahun dan telah menikah selama lima tahun sebelum saya punya bayi. Saat mengetahui saya hamil, saya begitu yakin bahwa menjadi ibu dewasa (baca "berusia tua"), akan membuat saya menjadi orang tua yang bijak. Saya punya kelebihan dari para ibu yang usianya sepuluh tahun lebih muda dari saya. Keuangan saya mapan, punya karier yang menyenangkan, dan pola pikir orang tua yang sehat. Saya sering memperhatikan dan menilai para ibu di tempat umum. Misalnya, ada satu ibu yang menyuapi anaknya dengan Oreo dan soda jeruk pada pukul 9 pagi, dan saya bilang pada diri sendiri, anak saya nanti hanya akan makan gandum murni dan buah segar di pagi hari. Ada lagi ibu lainnya, membujuk anaknya yang merengek dengan memberikan mainan saat mengantre di kasir. Saya bayangkan bahwa anak saya yang belajar tata krama di rumah, pasti akan duduk manis di kereta belanja, mungkin sambil membaca buku "War and Peace" karya Tolstoy versi anak.

Lalu, lahirlah anak saya, seorang laki-laki. Apa mau dikata, ternyata keadaannya sama sekali berbeda.

Ada sembilan aturan yang saya buat telah saya langgar sendiri dan akan terus begitu:

1. Tidur sendiri, tidak ditunggui. Aturan ini lenyap sudah ketika anak saya menginjak usia 2 bulan. Saat itu kami berpikir: "Ya sudahlah, kami biarkan dia tidur di ranjang kami untuk satu malam ini saja." Ternyata, sampai sekarang, anak saya yang beratnya sudah mencapai sekitar 16 kilogram masih berlindung di "ranjang besar" (begitu dia menyebutnya) orang tuanya.

2. Saya tidak akan membujuk anak dengan iming-iming. Beberapa bulan yang lalu di pesta kolam renang, salah satu teman saya berusaha untuk mengeluarkan anaknya yang berusia tujuh tahun dari kolam renang. Setelah permintaan lisan ("Ayo keluar dari kolam renang" yang diulang sebanyak 20x) gagal, teman saya mengambil sebatang cokelat dari tasnya (cokelat besar, bukan ukuran cemilan). Anak itu langsung keluar dari kolam renang untuk mengambil cokelatnya/imbalannya. Ibu itu hanya bilang: "Saya tahu. Ini tidak bagus. Dulu saya melakukannya secara diam-diam - tapi sekarang saya tidak peduli pendapat orang tua lainnya. Pokoknya berhasil." Dan saya memang harus sependapat dengan ibu itu.

3. Saya tidak akan memberi makanan sampah kepada anak saya. Kami bisa melakukannya selama beberapa waktu - saus apel organik, roti gandum murni yang dipanggang, dll. Kemudian, anak saya pergi ke pesta anak lainnya, dan di sana dia mengenal Cheetos. Begitulah, masa cemilan tidak sehat pun dimulai.

4. Apa pun yang kami makan, kamu juga harus memakannya. Tapi, anak saya punya pendapat lain. Makam malam baginya yaitu spaghetti, nugget ayam, atau daging cincang khusus dan kentang panggang yang sangat dia gemari sejak dia bisa menyantap makanan padat. Saya akan menyimpannya dalam mangkuk tertutup di lemari es, siap untuk dihangatkan di microwave menjelang makan malam. Saya bukan seorang yang bisa memasak cepat; tapi saya mampu menghangatkan makanan di microwave!

5. Saya tidak akan membeli segudang mainan untuk anak saya.Sesekalinya saya mendapatkan mainan baru saat masih kecil adalah ketika ulang tahun dan pada hari Natal. Mainan baru anak saya berdatangan setiap minggu, kadang setiap hari. Mainannya sudah memenuhi ruang bawah tanah kami. Tidak lama lagi saya perlu menyewa gudang untuk mainan yang berlimpah. Mesin Tangki Thomas? Memangnya ada berapa versi? Ternyata lusinan. Belum lama ini, kami melihat Thomas versi bercat bercak. Mainan itu pasti akan menghiasi basement kami esok hari.

6. Menonton TV hanya pada akhir pekan. Ingatkah zaman dulu ketika tayangan film kartun pagi hari Sabtu merupakan acara heboh, hadiah akhir pekan setelah seminggu bersekolah? Di era tayangan tv anak masa kini, anak saya tahu bahwa film kartun diputar setiap saat; dia hanya tinggal menekan tombol dan mencari saluran tv (yang memang dia lakukan sendiri). Kami telah membatasinya hingga maksimum dua jam sehari...tapi entahlah.

7. Saya tidak akan membeli pakaian mahal untuk anak. Pakaian anak saya pada umumnya murah-meriah. Tapi ada satu kejadian, ketika ada obral pakaian bayi merek Burberry...dan, begitulah, Anda pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya.

8. Saya akan jujur 100% kepada anak saya setiap saat. Saya tidak berbohong mengenai soal yang besar. Sungguh. Tapi, saya memang berbohong kecil yang membuat hidup sedikit lebih ringan. Misalnya: "Mainan (yang suaranya menjengkelkan) itu kehabisan baterai, dan kita tidak punya lagi baterai sekarang." Atau: "Permen ini kepunyaan toko, hanya untuk pajangan, tidak untuk dijual!" Tidak apa-apa, kan?

9. Menciptakan kata-kata yang lucu saat berbicara dengan bayi saya.Saya bilang: "Mau tambah jus?" "Kamu sudah pup-pup?" "Cup-cup mami dulu!" Menggelikan. Pasti Anda ingin menjitak kepala saya. Tapi, tunggu saja hingga Anda mengalami hal serupa!

No comments: