Cara apa yang akan dipilih untuk melatih anak?
Salah satu hal yang sangat beragam pada bayi dan pengasuhan anak - tergantung pada tempat tinggal dan siapa yang mengasuh bayi Anda - adalah cara melatih batita menggunakan kloset. Teknik latihan menggunakan kloset berbeda-beda, tergantung pada norma budaya, dan teknik ini pun berubah seiring waktu. Nenek kita melakukannya dengan caranya sendiri yang berbeda dengan generasi para ibu masa kini. Kadang, pendapat yang berbeda bisa membingungkan apabila Anda harus menentukan cara mana yang akan dipilih.
Teman saya, Amelia, ingin mengikuti metode latihan menggunakan kloset yang dilakukan Gina Ford yang menjanjikan bahwa anak akan dapat berhasil dilatih dalam satu minggu. Ford, adalah pengasuh anak berkebangsaan Inggris yang telah menulis sejumlah buku laris mengenai pengasuhan bayi dan batita. Metodenya mengharuskan sang anak memenuhi beberapa kriteria kesiapan sebelum memulai, misalnya kemampuan untuk memahami dan mengikuti petunjuk sederhana, berminat untuk mengenakan dan menanggalkan celana panjangnya sendiri, mampu duduk diam dan berkonsentrasi pada mainan, buku atau video selama 5-10 menit, dan sebagainya, yang pada umumnya dapat dilakukan anak yang minimal berusia 18 bulan. Memulainya lebih awal hanya akan berakhir pada rasa frustrasi dan kecelakaan, demikian pendapat Gina Ford.
Namun demikian, orang tua Amelia, mendorong anak Amelia untuk berlatih menggunakan kloset dengan cara yang sama dia melatih Amelia dan kakak perempuannya, yaitu dengan membawa dan mendudukkan si kecil di kloset pada selang waktu teratur, meskipun si kecil tidak menunjukkan bahwa dia ingin ke kloset. Lambat-laun si kecil akan memahami apa yang seharusnya mereka lakukan saat pergi ke kloset.
Tapi, ada nenek lain yang saya kenal mulai melatih cucunya sejak bayi, sebelum usianya mencapai 4 bulan. Latihan menggunakan kloset untuk batita mengharuskan pengasuh memahami "pola BAB" anak dan tanda-tandanya. Saya yakin masih banyak yang melakukan ini, tapi kebiasaan ini sepertinya akan hilang karena adanya popok sekali pakai dan karena kita senang memanjakan anak kita sehingga membuat bolak-balik ke kamar kecil menjadi hal yang kurang menyenangkan.
Latihan penggunaan kloset lainnya yang dilakukan teman saya Desney, ayah dari dua putra usia 4 dan 2 tahun, sungguh santai, dan pendekatan yang dilakukannya ditentukan oleh si anak itu sendiri "Saat Ayden memasuki usianya yang kedua, kami meninggalkan pispot di kamar mandi, dan suatu hari, dia begitu saja memutuskan untuk menggunakannya," katanya kalem. Mereka nyaris tidak melatihnya, dan tidak ada tekanan soal waktu untuk memulai latihan maupun menyudahinya. Putranya yang kedua, lebih beruntung, karena dia bisa melihat apa yang dilakukan kakaknya, dan dia pun menirunya saat berusia dua tahun.
Satu hal yang pasti: Cara apa pun yang Anda terapkan, "melatih secara langsung" dengan cara menanggalkan popoknya, atau mengenakan popok celana sampai mereka siap atau mulai menginjak usia batita, ini merupakan momen besar yang perlu Anda perhatikan, dan sesekali dalam prosesnya mengalami sedikit hambatan. Pada akhirnya bayi akan belajar ke mana harus pergi dan kapan mereka harus buang air besar (BAB). Dan pada akhirnya, kita akan terbebas dari rutinitas mengganti popok bayi. Ini hanya soal waktu dan cara kita berhasil melakukannya, dan berapa banyak popok yang perlu kita ganti.
Salah satu hal yang sangat beragam pada bayi dan pengasuhan anak - tergantung pada tempat tinggal dan siapa yang mengasuh bayi Anda - adalah cara melatih batita menggunakan kloset. Teknik latihan menggunakan kloset berbeda-beda, tergantung pada norma budaya, dan teknik ini pun berubah seiring waktu. Nenek kita melakukannya dengan caranya sendiri yang berbeda dengan generasi para ibu masa kini. Kadang, pendapat yang berbeda bisa membingungkan apabila Anda harus menentukan cara mana yang akan dipilih.
Teman saya, Amelia, ingin mengikuti metode latihan menggunakan kloset yang dilakukan Gina Ford yang menjanjikan bahwa anak akan dapat berhasil dilatih dalam satu minggu. Ford, adalah pengasuh anak berkebangsaan Inggris yang telah menulis sejumlah buku laris mengenai pengasuhan bayi dan batita. Metodenya mengharuskan sang anak memenuhi beberapa kriteria kesiapan sebelum memulai, misalnya kemampuan untuk memahami dan mengikuti petunjuk sederhana, berminat untuk mengenakan dan menanggalkan celana panjangnya sendiri, mampu duduk diam dan berkonsentrasi pada mainan, buku atau video selama 5-10 menit, dan sebagainya, yang pada umumnya dapat dilakukan anak yang minimal berusia 18 bulan. Memulainya lebih awal hanya akan berakhir pada rasa frustrasi dan kecelakaan, demikian pendapat Gina Ford.
Namun demikian, orang tua Amelia, mendorong anak Amelia untuk berlatih menggunakan kloset dengan cara yang sama dia melatih Amelia dan kakak perempuannya, yaitu dengan membawa dan mendudukkan si kecil di kloset pada selang waktu teratur, meskipun si kecil tidak menunjukkan bahwa dia ingin ke kloset. Lambat-laun si kecil akan memahami apa yang seharusnya mereka lakukan saat pergi ke kloset.
Tapi, ada nenek lain yang saya kenal mulai melatih cucunya sejak bayi, sebelum usianya mencapai 4 bulan. Latihan menggunakan kloset untuk batita mengharuskan pengasuh memahami "pola BAB" anak dan tanda-tandanya. Saya yakin masih banyak yang melakukan ini, tapi kebiasaan ini sepertinya akan hilang karena adanya popok sekali pakai dan karena kita senang memanjakan anak kita sehingga membuat bolak-balik ke kamar kecil menjadi hal yang kurang menyenangkan.
Latihan penggunaan kloset lainnya yang dilakukan teman saya Desney, ayah dari dua putra usia 4 dan 2 tahun, sungguh santai, dan pendekatan yang dilakukannya ditentukan oleh si anak itu sendiri "Saat Ayden memasuki usianya yang kedua, kami meninggalkan pispot di kamar mandi, dan suatu hari, dia begitu saja memutuskan untuk menggunakannya," katanya kalem. Mereka nyaris tidak melatihnya, dan tidak ada tekanan soal waktu untuk memulai latihan maupun menyudahinya. Putranya yang kedua, lebih beruntung, karena dia bisa melihat apa yang dilakukan kakaknya, dan dia pun menirunya saat berusia dua tahun.
Satu hal yang pasti: Cara apa pun yang Anda terapkan, "melatih secara langsung" dengan cara menanggalkan popoknya, atau mengenakan popok celana sampai mereka siap atau mulai menginjak usia batita, ini merupakan momen besar yang perlu Anda perhatikan, dan sesekali dalam prosesnya mengalami sedikit hambatan. Pada akhirnya bayi akan belajar ke mana harus pergi dan kapan mereka harus buang air besar (BAB). Dan pada akhirnya, kita akan terbebas dari rutinitas mengganti popok bayi. Ini hanya soal waktu dan cara kita berhasil melakukannya, dan berapa banyak popok yang perlu kita ganti.
No comments:
Post a Comment