24 February 2011

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
ANAK perlu diasuh karena mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan. Perkembangan anak terjadi melalui beberapa tahapan dan setiap
tahapan mempunyai ciri dan tuntutan tersendiri. Pengasuhan anak perlu
disesuaikan dengan tahapan perkembangan tersebut. Perkembangan anak
dipengaruhi faktor bawaan dan pengaruh lingkungan.
Sejak terjadinya konsepsi antara sel telur dengan sperma sampai menjadi
tua akan mengalami suatu perkembangan. Hanya dalam kualitas dan sifat
perkembangan-perkembangan ini akan mengalami perbedaan-perbedaan sesuai
dengan fase-fasenya.
Anak membutuhkan orang lain yang akan membantu perkembangan
keseluruhan dirinya, sekalipun anak juga tergantung pada fase perkembangannya.
Artinya, ada fase dimana anak tergantung sepenuhnya pada orang lain, misalnya
bayi yang baru lahir. Sebaliknya, ada fase dimana anak dapat melepaskan
sebagian besar ketergantungannya.
Tanpa orang lain yang membantu perkembangan anak, maka anak
mungkin masih dapat mengembangkan sesuatu dari dirinya, namun satu hal yang
tidak dapat dipungkiri bahwa anak yang berkembang tanpa bantuan orang lainnya
akan kehilangan hakikat kemanusiaan dan kesosialannya.
2
Anak membutuhkan orang lain dalam perkembangannya dan orang yang
paling dan pertama bertanggung jawab adalah orang tua. Orang tualah yang
bertanggung jawab memperkembangkan keseluruhan eksistensi anak.
Termasuk tanggung jawab orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak,
baik dari sudut pandang organis-fisiologis maupun kebutuhan-kebutuhan
psikologis. Dengan demikian diharapkan anak akan tumbuh dan berkembang
kearah suatu gambaran kepribadian yang harmonis dan matang. Dari segi-segi
kebutuhannya anak akan berkembang tanpa gangguan-gangguan, penyakitpenyakit
sehingga tumbuh menjadi anak yang sehat, ideal sesuai dengan
perkembangan usianya. Dari segi intelektualnya anak dapat mencapai prestasi
secara optimal sesuai dengan potensi-potensinya sehingga tidak mengalami
hambatan dalam proses pembelajaran dalam kehidupannya. Dari segi karakteristik
anak akan dapat memperlihatkan tingkah laku yang baik, dapat melakukan
interaksi dengan lancar dan tepat, tidak mengalami ketengangan-ketengangan
psikis.
Sejak dahulu telah ada usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk
�mendidik� anak-anak mereka, baik sejak dalam kandungan maupun setelah lahir
dalam bentuk-bentuk pembelajaran dan pendidikan yang sederhana. Apa yang
diperoleh dari orang tua akan menjadi pengalaman awal anak yang akan
mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya. merujuk dari teori John Loke yaitu
�empirisme�, bahwa manusia lahir bagikan kertas putih, akan menjadi apa anak
tersebut dikemudian hari, akan sangat tergantung dari apa yang dituliskan di
atasnya, artinya pengalaman apa yang didapatkan anak termasuk faktor
3
pendidikan dan pola asuh orang tua menjadi bahan tulisan yang akan mewarnai
kehidupan ataupun kualitas diri anak tersebut, dan yang paling mewarnai dari
tulisan tersebut adalah tulisan yang pertama dilakukan oleh orang tuanya. Sejalan
dengan pendapat Freud yang menyatakan bahwa kepribadian sebenarnya telah
terbentuk pada akhir tahun kelima dan perkembangan selanjutnya sebagian besar
hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu (Suryabrata, 1993;67).
Dalam agama Islam juga disebutkan bahwa setiap anak lahir dalam
keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahuhi,
Nasrani ataupun Majusi (H.R. Bukhari Muslim), maka dalam agama Islam
dianjurkan agar anak yang baru lahir dilantunkan Adzan pada telinga kananya dan
Iqomah pada telinga kirinya agar yang terekam pertama dalam kehidupan anak
didunia adalah kalimat-kalimat suci dan terkait dengan ke-Tuhan-an. Kemudian
ibu selalu membacakan do�a sebelum melakukan kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan anak, misalnya ketika menyusui, ketika memandikan, ketika
menina-bobokan, ketika memberikan makan dan sebagaianya dengan harapan
bahwa sejak dini ada penanaman pembelajaran yang baik.
Di saat sekarang ini tidak sedikit orang tua yang mengejar kepentingan
mereka sendiri dengan dalih untuk kesejahtraan anak, sehingga terkadang peran
mereka sebagai orang tua yaitu �mendidik dan mengasuh anak� terlalaikan.
Dengan demikian kebutuhan anak yang berupa kebutuhan fisik dapat terpenuhi
tetapi bagaimana dengan kebutuhan psikologis dan kebutuhan-kebutuhan lainnya
yang nantinya sangat menentukan perkembangan anak kearah kedewasaan yang
mantap dan menyeluruh.
4
Hubungan anak dengan anggota keluraga menjadi landasan sikap anak
terhadap orang lain, benda dan kehidupan secara umum. Dalam hal ini orang tua
perlu memperhatikan penyesuaian diri dan sosial anak yang akan meninggalkan
ciri pada cara pandang dan konsep diri anak selanjutnya (Hurlock, 1998;125).
Demikian pula halnya dengan keterampilan sosial, pelajaran pertama
diperoleh anak dari keluarga. Keluarga merupakan primary group bagi anak yang
pertama-tama mendidinya dan merupakan lingkungan sosial pertama dimana anak
berkembang sebagai mahluk sosial. Di dalam keluarga anak akan memperoleh
bekal yang memungkinkannya untuk menjadi anggota masyarakat yang baik kelak
(Langgulung, 1989;67). Kebiasaan-kebiasaan dan keterampilan-keterampilan
yang dipelajarinya dan dikembangkannya pertama-tama dalam lingkungan
keluarga dan yang utama dengan bimbingan dan arahan dari orang tua menjadi
landasan bagi anak untuk melakukan penyesuaian dengan orang lain di luar
lingkungan keluarganya, baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa
lainnya. Dalam interaksi sosial dengan orang tua yang wajar anak memperoleh
bekal yang memungkinkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Sedangkan
apabila hubungannya dengan orang tua kurang baik disebabkan oleh orang tua
kurang dapat memainkan perannya sebagai orang tua dengan baik dan tepat, maka
besar kemungkinan interaksi sosial yang akan dibangun oleh anak akan
berlangsung kurang baik pula (Gerungan, 1980;87).
Seperti halnya ketika anak memasuki usia sekolah, anak sebenarnya harus
telah siap dalam menerima pelajaran atau matang tidak saja secara kognitif namun
juga dalam aspek-aspek yang lainnya, sehingga anak benar-benar telah siap untuk
5
belajar atau yang bisa disebut anak matang sekolah. Menurut Hurlock (1993;125)
bahwa salah satu hasil penting yang harus dimiliki seorang anak ketika akan
memasuki usia sekolah adalah kematangan sosial, tidak saja meliputi kecerdasan
dan terampilan motorik tetapi juga hal lain seperti dapat menerima tokoh diluar
orantuanya, kesadaran akan tugas, patuh pada peraturan dan dapat mengendalikan
emosi-emosinya serta anak dapat menyesuaikan dengan standar yang disetujui
kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku, sehingga usia ini disebut
juga usia menyesuaikan diri.
Hal-hal tersebut di atas dikembangkan anak dengan landasan apa yang
telah diperoleh dalam keluarga artinya bahwa kebiasaan-kebiasaan atau
keterampilan-keterampilan yang diterapkan dalam keluarga akan menjadi
landasan bagaimana anak menyikapi lingkungannya. Dengan demikian kebiasankebiasaan
atau keterampilan-keterampilan tersebut setidaknya perlu dimiliki
seorang anak untuk menghadapi kehidupan diluar keluarganya, sehingga anak
akan dapat melakukan interaksi dengan rasa bahagia tanpa tekanan karena anak
merasa dirinya telah mampu untuk berprilaku yang dapat diterima oleh
lingkungannya.
Dengan adanya keterampilan-keterampilan dan kebiasaan-kebiiasaan yang
terus berkembang pada diri anak, yang merupakan ciri khas kelompoknya, dalam
arti bahwa keterampilan dan kebiasaan yang dimiliki tidak terlepas dari apa yang
ditentukan oleh kelompoknya sebagai kreteria seseorang memiliki keterampilan
sosial, akan membantu anak untuk dapat lebih mudah mengadakan penyesuasian
diri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Anak mungkin akan menemukan
6
pengalaman-pengalaman yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan bila
anak tidak memiliki keterampilan sosial yang dapat diterima oleh kelompoknya.
Seperti ketika memasuki dunia sekolah atau pendidikan formal, seseorang
anak akan menghadapi lingkungan yang baru, lingkungan sosial yang lebih luas,
lingkungan dimana anak akan berinteraksi dengan orang lain yang mungkin
belum pernah ditemuinya dan menemui atauran-aturan yang sebelumnya belum
pernah didapatkannya. Disini keterampilan dan kebiasaan yang telah dipelajarinya
dan dikembangkannya dalam keluarga akan sangat membantu dan tentu saja
semakin berkembang, sehingga anak tidak hanya menjadi seorang yang pasif dan
seakan-akan tersisih dari kelompoknya namun sebalinya anak dapat berbaur
dengan perasaan bahagia, merasa sebagai angota kelompok yang diterima dan
dihargai oleh anggota kelompok yang lain baik itu teman sebayanya maupun
orang dewasa lainnya.
Dari uraian pendahuluan di atas yang mencuplik beberapa teori tentang
kematangan sosial anak dan peran orang tua dalam kematangan sosial anak
sehingga anak dapat mencapai kemasakan sosial yang sesuai dengan tahapan
perkembangan dan usia yang dimilikimya, dengan demikian diharapkan anak
akan siap secara sosial untuk melakukan inteksi sosial baik dilingkungan, rumah
tangga dan lingkungan sosial. Maka bila dilihat secara mendalam hal ini belum
sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan orang tua.
Disinilah peran orantua sangat dituntut lebih optimal, bagaimana orang tua
dapat memberikan didikan, bimbingan, pengasuhan dan arahan pada anak adalam
7
perkembangannya mencapai suatu kematangan sosial untuk bekalnya menghadapi
kehidupan yang lebih luas, komplek dan beragam.
Kemampuan orang tua untuk memberikan pengasuhan yang baik dan
optimal kepada anak-anaknya tidaklah dengan demikian saja terbentuk akan tetapi
memerlukan sebuah proses pembelajaran, orang tua belajar dari orangtunya
terdahulu, belajar dari lingkungannya dan belajar dari pengalaman baik langsung
atau tidak langsung melalui media yang ada baik buku-buku ataupun media
elektronik lainnya. Kemampuan pola asuh yang selama ini diperoleh orang tua
secara tidak langsung berdampak pada proses pola asuh trial and error yaitu
coba-coba. Untuk lebih mendapatkan hasil pola asuh yang optimal dibutuhkan
sebuah usaha, usaha tersebut salah satunya adalah mengunakan pola bimbingan
kepada orang tua agar orang tua mampu mengasuh anaknya lebih optimal dan
menggunakan pola asuh yang sesuai dengan perkembangan yang dimiliki oleh
anak.
Selaian dari pada itu penelitian ini dilandasi oleh adanya fenomena yang
perlu diungkap pada masyarakat (orang tua) khususnya di Mataram tentang
peranan orang tua dalam pola asuh sehingga mampu menghantarkan anaknya siap
secara sosial masuk pada institusi pendidikan formal di Sekolah Dasar. Pada
umumnya memang orang tua menghendaki anaknya lebih cepat untuk dapat
masuk pada jenjang pendidikan formal setelah lulus dari Taman Kanak-Kanak
tetapi mengabaikan bagimana kesiapan sosial anak yang sangat dipengaruhi oleh
perkembangan sosialnya untuk dapat masuk sekolah formal yaitu di Sekolah
Dasar.
8
Dari uraian latar belakang di atas perlunya sebuah penelitian PROGRAM
BIMBINGAN BAGI ORANG TUA DALAM PENERAPAN POLA ASUH
UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN SOSIAL ANAK (Studi Kasus
Anak dan Orang tua Di TK Islam Terpadu Anak Sholeh Mataram).
B. Rumusan Masalah
Berpijak pada latar belakang masalah di atas tentang �Program Bimbingan
Bagi Orang tua Dalam Penerapan Pola Asuh Untuk Meningkatkan Kematangan
Sosial Anak, maka rumusan masalah yang dijadikan dasar penelitian ini meliputi :
1. Seperti apa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua untuk mendukung
tercapaianya perkembangan kematangan sosial?
2. Seperti apa kematangan yang harus dimiliki oleh anak pada pendidikan pra
sekolah?
3. Program bimbingan yang bagaimanakah yang bisa diterapkan untuk orang tua
dalam mengarahkan pola asuhnya sehingga dapat mengembangkan
kematangan sosial anak?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Berdasarkan fokus penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan program bimbingan bagi orang tua dalam penerapan pola asuh
untuk meningkatkan kematangan sosial anak pra sekolah melalui bimbingan
berupa bimbingan life skills (Syamsu dan Juntika : 2005) dalam bentuk
9
Bimbingan dan konseling kelompok berupa Pelatihan Menjadi Orang tua Efektif
(MOE).
2. Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a. Untuk memperoleh informasi tentang pola asuh apa saja yang diterapkan
oleh orang tua untuk mendukung tercapaianya perkembangan kematangan
sosial pada anak.
b. Untuk memperoleh informasi tentang kematangan sosial anak pra sekolah.
c. Menghasilkan program bimbingan bagi orang tua dalam penerapan pola
asuh untuk meningkatkan kematangan sosial anak pra sekolah.
D. Asumsi Penelitian
Untuk memberikan alur yang lebih jelas tentang arah penelitian ini, maka
dibutuhkan sebuah kejelasan asumsi penelitian. Penelitian ini berasumsi bahwa:
1. Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri dalam perkembangannya salah
satu perkembangan adalah perkembangan sosial anak. Sehingga dengan
karakteristik tersendiri tersebut yang di pengaruhi oleh beberapa aspek
utamanya adalah orang tua dan lingkungan anak akan tumbuh sosial secara
berbeda menurut karakteristik orang tua dan lingkungannya.
2. Peran orang tua adalah salah satu peran yang dominan dalam pembentukan
perkembangan kematangan sosial anak. Dan tiap orang tua memiliki pola asuh
dan cara tersendiri yang berbeda untuk mengembangkan kematangan sosial
anaknya.
10
3. Kematangan sosial merupakan sebuah keterpaduan perkembangan
kematangan yang lainya yaitu, emosional, intelektual, kreativitas dan religius.
Sehingga bila perkembangan sosial anak mengalami hambatan maka akan
mepengaruhi perkembangan kematangan unsur lainnya.
4. Bimbingan yang diberikan kepada orang tua dapat membantu orang tua dalam
lebih memahami pola asuh yang sesuai dengan perkembangan anak sehingga
mampu meningkatkan kematangan sosial anak.
5. Program bimbingan yang dirancang khusus bagi orang tua disesuaikan dengan
karakteritik orang tua sehingga program bimbingan tersebut dapat terlaksana
dengan optimal.
E. Motode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kasus
yang akan diuraikan secara deskriptif dari hasil jaringan pengumpulan data yang
diperoleh dari beberapa metode yaitu : Metode Tes, Wawancara dan Observasi.
Studi kasus atau Case Study adalah bentuk penelitian yang mendalam
tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Studi kasus
dapat dilakukan terhadap seorang individu, sekelompok individu (misalnya suatau
keluarga), segolongan manusia (guru,orang tua, anak-anak, suku, ras tertentu atau
organisasi tertentu), lingkungan hidup manusia (desa, kecemataran dll), atau
lembaga sosial (institusi perkawinan, ormas dll). Studi kasus dapat mengenai
perkembangan suatau (misalnya pengaruh didirikannya pabrik didaerah tertentu),
dapat pula mengunkap sebab akibat (seperti hubungan antara perkembangan anak
11
dengan kecerdasan sosial dan emosinya), dapat pula penelitian yang ingin
memberi gambaran tentang keadaan yang ada. (Moxfild dalam Moh. Nazir,
1993;132).
Selain di atas studi kasus dapat juga diartikan sebagai penelitian tentang
status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase specific atau khas dari
keseluruhan personalitas (Moxfild dalam Moh. Nazir, 1993;132).
Penelitian studi kasus bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang utuh
mengenai objek yang diteliti (Cohen and Manion, 1994;65).
Sesuai dengan permasalahan yang akan diungkap, penelitian ini bertujuan
untuk memberikan gambaran bagaimana pola asuh orang tua ikut berperan dalam
perkembangan sosial anak usia pra sekolah. Dari tujuan tersebut diharapkan
tergambarkan bagaimana pola asuh yang sesuai yang dapat mendukung
kematangan sosial anak, gambaran tentang aspek-aspek kematangan sosial apa
saja yang harus dimilik oleh anak pada masa usia pra sekolah dan bagaimana pola
asuh orang tua berhubungan dengan kematangan sosial anak.
F. Lokasi dan Responden Penelitian
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil kasus beberapa anak dan orang
tua di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Anak Sholeh Mataram.
2. Responden penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling dan
snowball sampling. Responden yang digunakan adalah :
12
a. Anak, beberapa anak Taman Kanak-Kanak Islam Anak Sholeh Mataram,
dengan beberapa ketentuan yaitu:
1) usia anak adalah antara 4-6 tahun dan anak tersebut tercatat sebagai siswa
di Taman Kanak-Kanak Anak Sholeh Mataram.
2) anak dalam kondisi sehat secara fisik dan psikologis, hal ini penting
diperhatikan karena aspek yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah
kematangan sosial untuk anak-anak yang normal.
3) bukan anak angkat atau anak tiri atau anak yatim. Berdasarkan pada pola
asuh yang akan diteliti dari orang tua keberadaan anak merupakan hal
yang juga harus diperhatikan.
b. Orang tua, beberapa orang tua yang memiliki anak yang sedang belajar di
lembaga Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Anak Sholeh Mataram, dengan
batasan yang jelas mengenai orang tua di atas agar sesuai dengan apa yang
diharapkan dalam penelitian ini. Maka syarat orang tua yang bisa dijadikan
responden penelitian adalah:
1) bukan merupakan orang tua tunggal (suami atau istri) hal ini berkenaan
dengan pola asuh yang ada, karena dalam penelitian ini yang ingin
diungkap adalah pola asuh kedua orang tua.
2) orang tua kandung, bukan merupakan orang tua angkat atau orang tua tiri.
Hal ini berdasarkan pada kedekatan emsional dan sikap orang tua terhadap
anaknya.
3) orang tua tinggal dalam satu rumah, karena pola asuh yang dilihat adalah
pola asuh kedua orang tua maka keberadaan orang tua yang berada jauh
13
antara ayah dan ibunya akan berdampak pula pada pola asuh yang
digunakan dirumah.

No comments: