B. Analisis Situasi
Mempersiapkan SDM yang memiliki kemampuan unggul bagi bangsa Indonesia merupakan hal yang mendesak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pengembangan kemampuan SDM merupakan langkah yang harus dilaksanakan dalam kaitannya dengan kemampuan SDM yang berorientasi fisik agar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi tujuan-tujuan ekonomi, sekaligus mengarah kepada pengembangan kemampuan yang terfokus pada brain power planing yang merujuk pada konstelasi ketrampilan sikap, perilaku mandiri, memiliki daya saing tinggi dan daya tahan terhadap perubahan dan ini dirasa lebih mendesak.
Pengembangan SDM juga berkaitan erat dengan pengembangan SDM guru taman kanak-kanak, selain fungsi kedalam sebagaimana yang telah disebutkan maka SDM tentu saja memiliki fungsi keluar yaitu bagaimana menerapkan ketrampilan atau skill yang dimiliki untuk mengembangkan orang lain yang menjadi partner. Dalam hal guru taman kanak-kanak yang dirasa perlu, berdasarkan temuan lapang adalah membekali mereka dengan ketrampilan psikologis yang bertujuan memberikan pengetahuan ilmu psikologi sebagai tambahan ketrampilan agar dapat mengembangkan para anak didik mereka sebagai partner secara lebih komprehensif. Pembekalan ketrampilan ini dirasa perlu karena beberapa alasan.
Yang pertama berdasarkan temuan lapang didapatkan kenyataan banyak anak-anak yang dalam katagori 'normal' memerlukan pendekatan dan penanganan khusus. Tidak semua anak 'normal' bisa diperlakukan sama dengan teman yang lain. Normal dalam batas bawah ataupun normal dalam batas atas juga memerlukan perlakuan yang sifatnya individual. Hal ini bisa dilakukan kalau guru memiliki ketrampilan psikologi dalam memahami perkembngan anak dan permasalahannya. Selain itu pada kenyataannya ada beberapa anak yang sebenarnya secara psikologis ada pada katagori 'bermasalah' tetapi oleh orangtuanya dititipkan di sekolah normal. Hal tersebut terjadi karena beberapa alasan yang pertama adalah karena orangtua tidak tahu kalau anaknya bermasalah. Yang kedua karena tidak adanya lembaga khusus yang menangani anak-anak bermasalah tetapi tidak terganggu secara mental. Yang ketiga mungkin masalah labeling budaya, karena anak yang bersekolah pada sekolah khusus secara serta merta akan mendapat predikat 'khusus' pula dan ini biasanya dihindari oleh orangtua karena mereka malu.
Kedua ketika anak mulai memasuki usia TK maka peran penting figur significant menjadi lebih didominasi oleh guru. Anak-anak menjadi lebih percaya kepada guru. Anak menjadi lebih bergantung pada guru mereka dalam hal pengetahuan juga dalam hal nilai dan tata krama. Anak jadi memperdebatkan apa yang mereka peroleh dirumah dengan apa yang mereka peroleh dari sekolah apabila mereka menemukan ketidaksesuaian, dan biasanya informasi yang lebih dipercaya adalah apa yang mereka peroleh dari guru. Anak-anak lebih percaya kepada gurunya dari pada orang tua, setiap berbicara dengan orang tua ia cenderung beralasan kata bu guru, ketika diharapkan melakukan sesuatu oleh orang tua, anak lebih sering membandingkannya dengan orangtua, oleh karena itu perlu ada kerja sama antara orangtua dan guru dalam pembinaan anak-anak. Beberapa contoh yang sering terlihat adalah suatu pengetahuan baru akan diikuti anak dengan baik bila yang menyampaikan ibu guru, suatu nasehat akan diterima anak dan dimengerti anak bila yang menyampaikan ibu guru. Demikian juga aturan-aturan atau sopan santun ketika mau tidur, berkunjung ke rumah teman dan lain-lain. Anak akan lebih mudah menerima jika yang disampaikan orangtua tidak berbeda dengan yang disampaikan oleh guru.
Yang ketiga masa kanak-kanak awal secara teori dibagi dua yaitu kanak-kanak awal dan kanak-kanak akhir. Kanak-kanak awal dimulai usia dua sampai enam tahun dan kana-kanak akhir dari enam tahun sampai anak matang secara seksual. Masa kanak-kanak awal oleh ahli ( Hurlock, 1996) dikatakan mengalami banyak perubahan psikologis. Perubahan ini dikarenakan adanya harapan sosial yang tinggi pada mereka terutama yang berkaitan dengan masa dimana mereka harus mengalami satu situasi baru yakni sekolah. Harapan sosial ini akan banyak mempengaruhi perubahan-perubahan dalam aspek psikologis seperti minat, perilaku dan nilai. Periode yang menandai berkembangnya individual differences.
Yang keempat meskipun pada dasarnya setiap guru telah dibekali dengan berbagai ketrampilan yang menunjang proses belajar mengajar tetapi ada banyak faktor yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk mempengaruhi perkembangan anak. Ilmu pengetahuan dan budaya banyak mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, mempengaruhi pola pikir, mempengaruhi interpretasi seseorang terhadap situasi sosial ataupun fisik. Keluarga di Indonesia sering mengalami suatu keadaan yang disebut kebingungan budaya. Keluarga satu dengan yang lainnya sering memiliki tata krama dan cara hidup yang berbeda dalam hal norma sehingga anak-anak sekarang sulit mencari model universal. Oleh karena itu peran guru menjadi sangat bermakna dan penting.
Dari beberapa alasan sebagaimana yang telah disebutkan diatas maka sangat perlu bagi guru taman kanak-kanak untuk mendapat pengetahuan ilmu psikologi agar lebih bisa memahami perkembangan anak secara psikologis baik perilaku, moral, kognisi dan sosial anak dan menangani permasalahan anak secara lebih individual karena guru menempati peran sentral bagi anak yakni menjadi model sigificant, dimana anak menaruh harapan yang sangat besar pada mereka. Dan juga setiap guru diharapkan mampu menangani kasus-kasus khusus, paling tidak sampai tahap mereka mengerti dan dapat mengidentifikasi masalah perilaku anak yang bermasalah dan yang tidak bermasalah serta bagaimana cara memperlakukan mereka.
C. Tinjauan Pustaka
1. Peranan Guru dalam Tumbuh Kembang Anak
Guru merupakan figur pengganti oranng tua ketika anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh kembang anak-anak guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan baru yang mendukung.
Menurut Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:
a. Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
b. Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing adalah berkorban untuk diri orang lain.
c. Organazing yaitu sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
d. Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan mengapa mereka mengerjakan itu.
2. Pengaruh Sikap/Perlakuan Guru Pada Anak
Ada beberapa pola sikap atau perlakuan guru terhadap anak yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri. Pola hubungan antara guru dan anak yang penuh penerimaan bukan penolakan atau terlalu melindungi atau serba boleh nampaknya akan memberikan dampak yang positif terhadap kepribadian anak.
Perilaku guru yang penuh penerimaan seperti tersebut diatas terbukti memberikan kontribusi bagi tumbuh kembang anak secara positif, terlihat tabel 1 tentang sikap/perlakuan guru dan profil tingkah laku anak.
Tabel 1. Sikap/Perlakuan Guru dan Dampaknya terhadap Kepribadian Anak
Sikap/Perlakuan Guru
Perilaku Guru Profil Tingkah Laku Anak
A
C
C
E
P
T
A
N
C
E
(penerimaan) 1. Memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus 1. Mau bekerja sama
2. Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak 1. Bersahabat dan loyal
2. Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak. 3. Mampu mengendalikan dir
4. Menenmpatkan anak dalam posisi yang penting di sekolah. 4. Ceria dan bersikap optimis
5. Mendorong anak untuk menyatakan perasaan atau pendapatnya 5. Menerima tanggung jawab
6. Berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau mendengarkan masalahnya 6. Jujur dan dapat di percaya,
7. Memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai masa depan
8.Bersikaprealistik (memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara objektif
6. Karakteristik Guru yang Efektif
Karakteristik guru yang efektif atau yang sangat diharapkan diklasifikasikan dalam empat dimensi yaitu:
a. Kreatif yaitu bersifat rutin, bersifat eksak dan berhati-hati.
b. Dinamis yaitu enerjik, ekstrovert.
c. Terorganisir yaitu sadar akan tujuan, pandai mencari cara pemecahan masalah dan kontrol.
d. Bersikap hangat yaitu pandai bergaul, ramah dan sabar.
Selanjutnya oleh Ryan (dalam Yusuf, 2000) mengemukan lebih rinci karakteristik guru yang efektif pada tabel 2.
Tabel 2. Karateristik Guru yang Efektif
KARAKTERISTI GURU YANG EFEKTIF
1 Menampilkan sikap yang bersemangat 13 Mengantisipasi kebutuhan siswa.
2 Memperlihatkan perhatian terhadap siswa dan kegiatan kelas 14 Menstimulasi siswa melalui materidan tehnik/metode yang menarik
3 Bergirang hati dan optimis 15 Mendemonstrasikan dan menerangkan materripelajaran dengan baik.
4 Mempunyai kemampuan mengendalikan diri dan tidak mudah bingung. 16 Memberikan tugas dengan jelas
5 Mengakui atau menyadari kesalahan sendiri 17 Mendorong siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri dan mengevaluasi hasilnya.
6 Bersikap sabar 18 Menegakkan disiplin dengan cara yang positif
7 Menunjukkan sikap memaham dan simpati dalam beekerja. 19 Memberikan bantuan kepada siswa secara ikhlas.
8 Membantu siswa dalam memecahkan masalahnya pribadi atau akademik 20 Mengetahui secara awal dan mencoba memecahkan berbagai masalah potensial.
9 Memberikan komentar dan penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik. 21 Mendorong siswa untuk melakukan sesuatu dengan cara terbaik.
10 Menerima dan mempercayai usaha siswa 22 Merencanakan dan mengorganisasikan prosedur pembelajaran di kelas
11 Memiliki kemampuan untukmengantisipasi reaksi orang lain. 23 Senang bergurau dan humor
12 Bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur pembelajaran. 24 Bersikap adil dan objektif dalam memperlakukan siswa
Penjelasan diatas mempertegas bagaimana semestinya menciptakan iklim yang di sekolah sebagai lingkungan perkembangan yang kondusif bagi proses pembelajaran siswa atau upaya memfasilitasi siswa dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan.
6. Perkembangan Anak
Dalam upaya memdidik atau membimbing anak, agar mereka dapat tumbuh kembang seoptimal mungkin, maka bagi para pendidik/guru perlu dan dianjurkan untuk memahami perkembangan anak. Pemahaman itu penting karena beberapa alasan berikut:
a. Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan.
b. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
c. Pengetahuan tentang perkembangan abak dapat membantumereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
d. Melalui pemahaman tentang anak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi perkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, dapat diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah berbagaikendala atau faktor-faktor yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni ) perkembangan anak (Yusuf, 2000).
Aspek-aspek perkembangan anak meliputi: perkembangan fisik, intelligensi (kecerdasan), emosi, bahasa, sosial, kepribadian, moral dan kesadaran beragama.
Dengan memahami tiap aspek perkembangan, maka pendidik/guru akan mempunyai batasan-batasan yang diperlukan oleh anak berkaitan dengan kematangan fisiknya, kemampuan intelligensinya, kematangan emosi dan sosialnya, kesukaan permainannya, kecenderungan kepribadiannya, penanaman etika dan nilai-nilai hidup serta latihan-latihan dalam kegiatan ibadah.
Perkembangan anak dipengaruhi proses biologis, kognitif dan sosioemosional, perubahan-perubahan dalam perkembangan merupakan hasil dariproses-proses biologis, kognitif dan sosioemosional. Proses-proses ini saling berkaitan dalam perkembangan individu sepanjang masa hidup manusia (Santrock, 1995).
Proses biologis meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma pembawa sifat keturunan diwarrisi dari orang tua, perkembangan otak, pertambahan tinggi dan berat, perubahan pada ketrampilan motorik, perubahan hormon pubertas, dan penurunan jantung semuanya mencerminkan peran proses biolois dalam perkembangan.
Proses kognitif meliputi perubahan pada pemikiran, inteligensi dan bahasa individu. Memandang benda berwarna-warni yang berayun-ayun diatas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri atas dua kata, menghafal syair,membayangkan seperti apa rasanya menjadi bintang film dan memecahkan suatu teka-teki silang semuanya mencerminkan peran proises-proses kognitif dalam perkembangan.
Proses sosioemosional meliputi: perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian. Senyum seorang bayi dalam merespon sentuhan ibunya, serangan agresif seorang anak laki-laki kecil terhadap temannya mainnya, perkembangan ketegasan seorang anakperempuan, kegembiraan seorang remaja atas ulang tahunnya, afeksi pasangan manusia usia lanjut semuanya mencerminkan peran proses-prsoese sosioemosional dalam perkembangan.
Masa awal anak-anak (masa sekolah taman kanak-kanak) ialah periode perkembangan yang merentang dari akhir masa bayihingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun, periode ini kadang-kdang disebut tahun-tahun pra sekolah. Selama masa ini, anak-anak kecil belajar semakin mandiridan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan ketrampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf) dan meluangkan waktu berjam-jam bermain dengan teman-teman sebaya. Kelas 1 secara umum menandai akhir masa awal anak-anak.
Tanggung jawab atas anak-anak sedang atau akan menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Semakin banyak kita belajar tentang anak-anak, semakinbaik kita dapat berurusan dengan mereka dan membantu mereka menjadi manusia yang berkompeten. Perkembangan masa hidup memberi kita wawasan tentang perkembangan diri kita juga sebagai orang dewasa (Santrock, 1995).
6. Lingkungan Sekolah yang Sehat (Efektif)
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistimatis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosionalmaupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, dijelaskan oleh Hurlock (1990) bahwa sekolahmerupakan faktor penetubagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai substansi keluarga dan guru subtitusi orang tua. Ada beberapa alasan, mengapasekolah memainkan perananyang berartibagi perkembangan kepribadian anak, yaitu: (a) para siswa harus hadir di sekolah, (b) sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini, seiringdengan perkembangan konsep dirinya, (c) anak-anak banyak menghaabiskan waktunya di sekolah dari pada tempat lain di luar rumah, (D) sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dan (e) sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuan secara realistik.
Menurut Havighurst (dalam Yusuf, 2000) sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sehubungan hal ini, sekolah seyogyanya berupaya menciptakan iklim kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tugas perkembangannya. Upaya sekolah dapat berjalan dengan baik, apabila sekolah tersebut telah tercipta iklim yang sehat atau efektif, baik menyangkut aspek manajemennya, maupun profesionalisme para personelnya.
Rutter (dalam Sigelman & Shafer, 1995) mendefinisikan sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang memajukan, atau mengembangkan prestasi, ketrampilan sosial, sopan santun, sikap positif terhadap belajar, rendahnya angka absen siswa dan memberikan ketrampilan-ketrampilan yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
Sekolah yang efektif disamping ditandai oleh ciri-ciri di atas juga sangat didukung oleh kualitas para guru, baik menyangkut karakteristik pribadi maupun kompetensinya. Karakteristik pribadi dan kompetensi guru ini sangat berpengaruh terhadapkualitas iklim kelas, proses pembelajaran di kelas, atau hubungan guru-siswa di kelas,yang pada gilirannya akan berpengaruh pula pada keberhasilan belajar siswa.
Loree (dalam Yusuf, 2000) mengemukakan bahwa kemajuan belajar dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang terjadi di kelas. Hubungan ini bisa bersifat hangat atau dingin (warm or cool), tegang atau tenang (tense or relaed), antagonistik atau kohesif, bersahabatan atau bermusuhan (friendly or hostile).
D. PERUMUSAN MASALAH
Hasil observasi dan penelitian yang diperoleh terhadap guru TK selama ini, ditemukan beberapa permasalahan yang mendasar yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan serius, yaitu:
1. Kurang memahami perkembangan anak terutama secara psikologis
2. Kurang memiliki ketrampilan psikologis dalam menangani kasus khusus
3. Kurang memiliki kompetensi dan ketrampilsn yang efektif
4. Kualitas output siswa secara mental kurang optimal
D. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan pelatihan adalah:
1. Untuk peningkatan kualitas profesional guru
2. Lebih mengenal kualitas dan karakter pribadi sendiri
3. Lebih memahami karakter dan perkembangan psikologis anak
4. Meningkatkan kualitas output siswa
D. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat dari kegiatan ini diharapkan dengan mengikuti pelatihan para guru akan memiliki karakteritik pribadi yang matang dan kompeten sehingga dapat memperlakukan siswa-siswinya dengan benar, dapat memberikan pengajaran dengan tepat, sehingga dapat meningkatkan kualitas output.
D. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH
Upaya pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-kanak tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada guru-guru sebagai informasi dan bekal untuk dapat mengembangkan profesinya sebagai guru dengan sebaik-baiknya, yaitu meliputi:
1. Wawasan tentang peranan guru disekolah
2. Pengenalan Karakteristik Pribadi
3. Kompetensi, sikap/perilaku Guru yang efektif.
4. Perkembangan Anak Pra Sekolah dan Upaya Guru dalam membantu perkembangan anak
5. Multiple Inteligensi
6. Kurikulum Berbasis Kompetensi
7. Anak-anak dengan perkembangan khusus.
8. Cara mengatasi Anak-anak bermasalah
9. Memperkenalkan permainan outbond untuk anak dan filosofinya
10. Tehnik observasi dan pendataan.
E. KHALAYAK SASARAN UTAMA STRATEGIS
Dalam kegiatan pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-kanak ini yang direncanakan sebagai khalayak sasaran adalah para guru Taman kanak-kanak 'Aisyiyah di kotamadya Malang yang terdiri dari 33 sekolah. Dari masing-masing sekolah diambil 2 orang wakil sehingga jumlah sasaran pelatihan adalah sebanyak 66 orang. Alasan pemilihan ini berdasarkan banyaknya temuan dan keluhan baik oleh para guru, orang tua dan pengurus Sekolah Taman Kanak-kanak tersebut dalam hal kebutuhan peningkatan ataupun menjaga kualitas out put anak-anak Taman Kanak.
D. KETERKAITAN
Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang telah ikut berpartisipasi mengembangkan sekolah-sekolah dibawah naungan Muhammadiyah yang menjadi sekolah binaan, didukung oleh lembaga Pendidikan Nasional dan juga PDM melalui pemberian bantuan dana telah menetapkan kebijakan khusus yang mendorong terjadinya akselarasi pengembangan masyarakat yang bersifat lokal dan berdasarkan pemetaan kebutuhan riil melalui kegiatan pengabdian profesi oleh para dosen. Sebagaimana kebijakan perguruan tinggi lain baik swasta maupun negeri maka Universitas Muhammadiyah Malang juga menerapkan kebijakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Dharma ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat, berdasarkan hal tersebut maka pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-Kanak 'Aisyiyah ini dilakukan terutama karena 'Aisyiah adalah lembaga binaan Muhammadiyah.
D. METODE KEGIATAN
1. Tempat dan Sasaran Kegiatan
Tempat kegiatan ini dilaksanakan adalah di Laboratorium Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, dengan mengundang para guru. Tiap sekolah diminta mengirimkan wakilnya 2 orang dan berdasarkan hasil survey awal terdapat 33 Sekolah Taman Kanak-kanak 'Aisyiyah di kotamadya Malang, sehingga dihadiri sejumlah kurang lebih 66 guru dan ditambah sejumlah 10 orang pengurus.
1. Teknis Pelaksanaan
a. Melakukan upaya pendekatan dan kerjasama dengan pimpinan 'Aisyiah Cabang Malang dan Pengurus bagian pendidikan Cabang Malang dan pengurus bagian pendidikan di tiap-tiap Kecamatan di kotamadya Malang.
b. Melakukan kegiatan pelatihan selama 2 hari dengan pembagian sbb;
1. Hari pertama
Lokasi :
Bentuk Kegiatan : ceramah, penyuluhan, simulasi
Meliputi : pre test, wawasan tentang peranan guru, pengembangan pribadi dan kompetennsi guru, mengenal perkembangan anak prasekolah dan upaya pengembangan secara optimal, anak dan perkembangan khusus dan cara mengatasinya, pengenalan multiple intelligent dalam upaya mengenal individual differences.
2. Hari kedua
Lokasi
Bentuk kegiatan : simulasi, game, permainan outbond
Meliputi : pelatihan dan simulasi tehnik observasi, memperkenalkan outbond anak-anak dan filosofinya.
D. RANCANGAN EVALUASI
Rancangan evaluasi yang direncanakan meliputi:
1. Melakukan pre test dan post tes sebelum dan sesudah pelatihan dilakukan.
2. Respon sekolah (guru, pengurus dan wali murid) terhadap kegiatan pelatihan yang
dilakukan.
3. Evaluasi tertulis berdasarkan observasi dari kepala sekolah dan pengurus 'Aisyiah untuk TK setempat dari masing-masing lembaga terhadap guru yang mau dan telah berhasil menerapkan hasil pelatihan beserta bukti-bukti keberhasilan out put.
D. RENCANA DAN JADWAL KERJA
KEGIATAN RINCIAN TEMPAT WAKTU/BULAN
I II III IV V VI
Persiapan a. studi lapang
b. mencari informasi ke lembaga ybs
c. identifikasi kebutuhan riil TK
d. pengajuan proposal
perencanaan a. pendekatan ke pengurus Aisyiyah
b. pendekatan terhadap guru TK
c. recheck terhadap kebutuhan riil
kaji tindak a. pelatihan dengan metode ceramah
b. pelatihan dengan simulasi dan alat peraga
c. pre test
d. brain storming permasalahn
e. pelatihan pengenalan diri
f. pelatihan pengenalan siswa
g. pengenalan metode-metode
h. pelatihan cara-cara melakukan observasi anak
i. pelatihan cara membuat laporan
evaluasi a. mendata, menganalisa hasil pre dan post test
b. pengambilan data dilapangan (berdasar laporan tertulis dari sekolah ybs)
c. analisa hasil
d. identifikasi kelemahan
pelaporan a. penyusunan laporan
b. penyerahan laporan
D. RINCIAN BIAYA
ALOKASI RINCIAN ANGGARAN JUMLAH
1. Honor
a. ketua (pemateri dan pengusul)
b. anggota (pemateri dan anggota)
c. pemateri khusus:
1. outbond
2. pengurus 'Aisyiah
3. .....
1 orang x Rp 250.000 x 6 bulan
1 orang x Rp 200.000 x 6 bulan
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1. konsumsi 80 orang x Rp. 15.000 x 2 hari
1. bahan materi
• kertas dan alat tulis
• alat peraga
• modul dan penggandaan
• buku-buku •
Rp. 200.000
Rp.. 200.000
Rp. 500.000
Rp. 500.000
1. perjalanan
2. pendataan
3. pendekatan
- monitoring dan evaluasi
Rp. 150.000
Rp. 500.000
Rp. 500.000
6. dokumnetasi Rp. 150.000
7. pelaporan Rp. 600.000
TOTAL
D. ORGANISASI PELAKSANA
1.Ketua Pelaksana
a. Nama dan gelar akademik : Dra. Siti Suminarti Fasikhah, Msi
b. Pangkat/Gol/NIP : Asisten Ahli Madya/IIIA/109.9604337
c. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Psikologi UMM
d. Bidang Keahlian : Psikologi Perkembangan
e. Fakultas : Psikologi
f. Waktu untuk kegiatan ini : 6 bulan
2.Anggota Pelaksana
a. Nama dan Gelar Akademik : Zamhariroh, Spsi.
b. Pangkat/Golongan : Asisten Ahli Madya/IIIA/810003
c. Bidang Keahlian : Psikologi Klinis
d. Fakultas : Psikologi
e.Waktu untuk kegiatan ini : 6 bula
DAFTAR PUSTAKA
Covey, S. 1997. The Seven Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif). Binarupa Aksara: Jakarta
Frum padu. 2004. Potret Pengasuhan, Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini di Indonesia. Published by National Early Childhood Development Forum.
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi Perkembangan. Erlangga: Jakarta
Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Erlangga: Jakarta
Sigelman, c.k. & shaffer, D.R. 1995. Life Span Human Development. Brooks/cole Publishing Company: California
Yusuf, S. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Remaja Rosdakarya: Bandung
LAMPIRAN
MODEL PELATIHAN
I. Hari pertama
A. memberikan pre test tentang
2. Sikap dan perilaku guru (realistis bukan harapan)
3. Perilaku siswa selama dikelas (setiap guru diminta secara random memilih nama siswa yang akan dievaluasi sebanyak 5 orang)
B. penyuluhan tentang
2. pentingnya mengenali karakter pribadi (guru)
3. pentingnya mengenali karakter anak-anak secara individual
C. penyuluhan tentang
3. tehnik observasi terhadap perilaku anak dan tehinik pencatatan
4. tehnik mengembangkan empati pada orang lain
I. Hari ke dua
A. penyuluhan tentang outbond: manfaat kegiatan outbond
2. mengenalkan alam sebagai simbol riil kebesaran Tuhan
3. mengenalkan kegiatan memecahkan rintangan sebagai simbol mematahkan kesulitan dan hambatan psikologis
4. melatih motorik dan keberanian
5. memberikan kegembiraan belajar
B. simulasi……?
C. Penyuluhan bagaimana cara menangani anak-anak dengan masalah khusus (special children)
I. Evaluasi
A. Tingkat pengetahuan peserta
B. Tingkat kepuasan:
1. oleh peserta (guru)
2. oleh pengurus PP 'Aisyiyah
Mempersiapkan SDM yang memiliki kemampuan unggul bagi bangsa Indonesia merupakan hal yang mendesak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pengembangan kemampuan SDM merupakan langkah yang harus dilaksanakan dalam kaitannya dengan kemampuan SDM yang berorientasi fisik agar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi tujuan-tujuan ekonomi, sekaligus mengarah kepada pengembangan kemampuan yang terfokus pada brain power planing yang merujuk pada konstelasi ketrampilan sikap, perilaku mandiri, memiliki daya saing tinggi dan daya tahan terhadap perubahan dan ini dirasa lebih mendesak.
Pengembangan SDM juga berkaitan erat dengan pengembangan SDM guru taman kanak-kanak, selain fungsi kedalam sebagaimana yang telah disebutkan maka SDM tentu saja memiliki fungsi keluar yaitu bagaimana menerapkan ketrampilan atau skill yang dimiliki untuk mengembangkan orang lain yang menjadi partner. Dalam hal guru taman kanak-kanak yang dirasa perlu, berdasarkan temuan lapang adalah membekali mereka dengan ketrampilan psikologis yang bertujuan memberikan pengetahuan ilmu psikologi sebagai tambahan ketrampilan agar dapat mengembangkan para anak didik mereka sebagai partner secara lebih komprehensif. Pembekalan ketrampilan ini dirasa perlu karena beberapa alasan.
Yang pertama berdasarkan temuan lapang didapatkan kenyataan banyak anak-anak yang dalam katagori 'normal' memerlukan pendekatan dan penanganan khusus. Tidak semua anak 'normal' bisa diperlakukan sama dengan teman yang lain. Normal dalam batas bawah ataupun normal dalam batas atas juga memerlukan perlakuan yang sifatnya individual. Hal ini bisa dilakukan kalau guru memiliki ketrampilan psikologi dalam memahami perkembngan anak dan permasalahannya. Selain itu pada kenyataannya ada beberapa anak yang sebenarnya secara psikologis ada pada katagori 'bermasalah' tetapi oleh orangtuanya dititipkan di sekolah normal. Hal tersebut terjadi karena beberapa alasan yang pertama adalah karena orangtua tidak tahu kalau anaknya bermasalah. Yang kedua karena tidak adanya lembaga khusus yang menangani anak-anak bermasalah tetapi tidak terganggu secara mental. Yang ketiga mungkin masalah labeling budaya, karena anak yang bersekolah pada sekolah khusus secara serta merta akan mendapat predikat 'khusus' pula dan ini biasanya dihindari oleh orangtua karena mereka malu.
Kedua ketika anak mulai memasuki usia TK maka peran penting figur significant menjadi lebih didominasi oleh guru. Anak-anak menjadi lebih percaya kepada guru. Anak menjadi lebih bergantung pada guru mereka dalam hal pengetahuan juga dalam hal nilai dan tata krama. Anak jadi memperdebatkan apa yang mereka peroleh dirumah dengan apa yang mereka peroleh dari sekolah apabila mereka menemukan ketidaksesuaian, dan biasanya informasi yang lebih dipercaya adalah apa yang mereka peroleh dari guru. Anak-anak lebih percaya kepada gurunya dari pada orang tua, setiap berbicara dengan orang tua ia cenderung beralasan kata bu guru, ketika diharapkan melakukan sesuatu oleh orang tua, anak lebih sering membandingkannya dengan orangtua, oleh karena itu perlu ada kerja sama antara orangtua dan guru dalam pembinaan anak-anak. Beberapa contoh yang sering terlihat adalah suatu pengetahuan baru akan diikuti anak dengan baik bila yang menyampaikan ibu guru, suatu nasehat akan diterima anak dan dimengerti anak bila yang menyampaikan ibu guru. Demikian juga aturan-aturan atau sopan santun ketika mau tidur, berkunjung ke rumah teman dan lain-lain. Anak akan lebih mudah menerima jika yang disampaikan orangtua tidak berbeda dengan yang disampaikan oleh guru.
Yang ketiga masa kanak-kanak awal secara teori dibagi dua yaitu kanak-kanak awal dan kanak-kanak akhir. Kanak-kanak awal dimulai usia dua sampai enam tahun dan kana-kanak akhir dari enam tahun sampai anak matang secara seksual. Masa kanak-kanak awal oleh ahli ( Hurlock, 1996) dikatakan mengalami banyak perubahan psikologis. Perubahan ini dikarenakan adanya harapan sosial yang tinggi pada mereka terutama yang berkaitan dengan masa dimana mereka harus mengalami satu situasi baru yakni sekolah. Harapan sosial ini akan banyak mempengaruhi perubahan-perubahan dalam aspek psikologis seperti minat, perilaku dan nilai. Periode yang menandai berkembangnya individual differences.
Yang keempat meskipun pada dasarnya setiap guru telah dibekali dengan berbagai ketrampilan yang menunjang proses belajar mengajar tetapi ada banyak faktor yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan termasuk mempengaruhi perkembangan anak. Ilmu pengetahuan dan budaya banyak mempengaruhi cara seseorang berinteraksi, mempengaruhi pola pikir, mempengaruhi interpretasi seseorang terhadap situasi sosial ataupun fisik. Keluarga di Indonesia sering mengalami suatu keadaan yang disebut kebingungan budaya. Keluarga satu dengan yang lainnya sering memiliki tata krama dan cara hidup yang berbeda dalam hal norma sehingga anak-anak sekarang sulit mencari model universal. Oleh karena itu peran guru menjadi sangat bermakna dan penting.
Dari beberapa alasan sebagaimana yang telah disebutkan diatas maka sangat perlu bagi guru taman kanak-kanak untuk mendapat pengetahuan ilmu psikologi agar lebih bisa memahami perkembangan anak secara psikologis baik perilaku, moral, kognisi dan sosial anak dan menangani permasalahan anak secara lebih individual karena guru menempati peran sentral bagi anak yakni menjadi model sigificant, dimana anak menaruh harapan yang sangat besar pada mereka. Dan juga setiap guru diharapkan mampu menangani kasus-kasus khusus, paling tidak sampai tahap mereka mengerti dan dapat mengidentifikasi masalah perilaku anak yang bermasalah dan yang tidak bermasalah serta bagaimana cara memperlakukan mereka.
C. Tinjauan Pustaka
1. Peranan Guru dalam Tumbuh Kembang Anak
Guru merupakan figur pengganti oranng tua ketika anak-anak di sekolah, yang memberikan andil yang besar dalam tumbuh kembang anak-anak guru akan memberikan perlindungan, pengajaran dan kebiasaan-kebiasaan baru yang mendukung.
Menurut Covey (1997) ada empat prinsip peranan guru dalam tumbuh kembang anak-anak, yaitu:
a. Modelling (Example of trustworthness). Guru adalah contoh atau model bagi anak. Tidak dapat disangkal bahwa contoh guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak, sehingga Schweitz mengatakan bahwa ada tiga prinsip dalam mengembangkan anak yeitu pertama contoh, kedua contoh dan ketiga contoh. Guru merupakan model bagi anak baik positif maupun negatif dan turut memberikan pola bagi way of life anak. Melalui modelling ini guru akan turut mewariskan cara berpikirnya kepada anak, oleh karena itu maka peranan modelling merupakan suatu yang sangat mendasar. Melalui modelling anak juga akan belajar tentang sikap proaktif, sikap respek dan kasih sayang.
b. Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, investasi emosional atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur, pribadi dan tidak bersyarat. Guru menjadi sumber pertama di sekolah bagi perkembangan perasaan anak: rasa aman atau tidak aman, dicintai atau dibenci. Ada lima cara untuk memberikan kasih sayang pada orang lain: (1) empathiing adalah mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri; (2) sharing adalah berbagi wawasan, emosi dan keyakinan; (3) affirming adalah memberikan ketegasan/penguatan kepada orang lain melalui kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi dan dorongan; (4) praying mendoakan orang lain secara ikhlas dari hati yang paling dalam dan (5) sacrificing adalah berkorban untuk diri orang lain.
c. Organazing yaitu sekolah memerlukan tim kerja dan kerjasama antar anggota dalam memenuhi tugas-tugas atau kebutuhan sekolah dan hal-hal penting.
d. Teaching. Guru berperan sebagai pengajar bagi anak-anak tentang hukum-hukum dasar kehidupan. Melalui pengajaran ini, guru juga menciptakan concious competence pada diri anak yaiitu anak mengalami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan mengapa mereka mengerjakan itu.
2. Pengaruh Sikap/Perlakuan Guru Pada Anak
Ada beberapa pola sikap atau perlakuan guru terhadap anak yang masing-masing mempunyai pengaruh tersendiri. Pola hubungan antara guru dan anak yang penuh penerimaan bukan penolakan atau terlalu melindungi atau serba boleh nampaknya akan memberikan dampak yang positif terhadap kepribadian anak.
Perilaku guru yang penuh penerimaan seperti tersebut diatas terbukti memberikan kontribusi bagi tumbuh kembang anak secara positif, terlihat tabel 1 tentang sikap/perlakuan guru dan profil tingkah laku anak.
Tabel 1. Sikap/Perlakuan Guru dan Dampaknya terhadap Kepribadian Anak
Sikap/Perlakuan Guru
Perilaku Guru Profil Tingkah Laku Anak
A
C
C
E
P
T
A
N
C
E
(penerimaan) 1. Memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus 1. Mau bekerja sama
2. Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak 1. Bersahabat dan loyal
2. Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak. 3. Mampu mengendalikan dir
4. Menenmpatkan anak dalam posisi yang penting di sekolah. 4. Ceria dan bersikap optimis
5. Mendorong anak untuk menyatakan perasaan atau pendapatnya 5. Menerima tanggung jawab
6. Berkomunikasi dengan anak secara terbuka dan mau mendengarkan masalahnya 6. Jujur dan dapat di percaya,
7. Memiliki perencanaan yang jelas untuk mencapai masa depan
8.Bersikaprealistik (memahami kekuatan dan kelemahan dirinya secara objektif
6. Karakteristik Guru yang Efektif
Karakteristik guru yang efektif atau yang sangat diharapkan diklasifikasikan dalam empat dimensi yaitu:
a. Kreatif yaitu bersifat rutin, bersifat eksak dan berhati-hati.
b. Dinamis yaitu enerjik, ekstrovert.
c. Terorganisir yaitu sadar akan tujuan, pandai mencari cara pemecahan masalah dan kontrol.
d. Bersikap hangat yaitu pandai bergaul, ramah dan sabar.
Selanjutnya oleh Ryan (dalam Yusuf, 2000) mengemukan lebih rinci karakteristik guru yang efektif pada tabel 2.
Tabel 2. Karateristik Guru yang Efektif
KARAKTERISTI GURU YANG EFEKTIF
1 Menampilkan sikap yang bersemangat 13 Mengantisipasi kebutuhan siswa.
2 Memperlihatkan perhatian terhadap siswa dan kegiatan kelas 14 Menstimulasi siswa melalui materidan tehnik/metode yang menarik
3 Bergirang hati dan optimis 15 Mendemonstrasikan dan menerangkan materripelajaran dengan baik.
4 Mempunyai kemampuan mengendalikan diri dan tidak mudah bingung. 16 Memberikan tugas dengan jelas
5 Mengakui atau menyadari kesalahan sendiri 17 Mendorong siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri dan mengevaluasi hasilnya.
6 Bersikap sabar 18 Menegakkan disiplin dengan cara yang positif
7 Menunjukkan sikap memaham dan simpati dalam beekerja. 19 Memberikan bantuan kepada siswa secara ikhlas.
8 Membantu siswa dalam memecahkan masalahnya pribadi atau akademik 20 Mengetahui secara awal dan mencoba memecahkan berbagai masalah potensial.
9 Memberikan komentar dan penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik. 21 Mendorong siswa untuk melakukan sesuatu dengan cara terbaik.
10 Menerima dan mempercayai usaha siswa 22 Merencanakan dan mengorganisasikan prosedur pembelajaran di kelas
11 Memiliki kemampuan untukmengantisipasi reaksi orang lain. 23 Senang bergurau dan humor
12 Bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur pembelajaran. 24 Bersikap adil dan objektif dalam memperlakukan siswa
Penjelasan diatas mempertegas bagaimana semestinya menciptakan iklim yang di sekolah sebagai lingkungan perkembangan yang kondusif bagi proses pembelajaran siswa atau upaya memfasilitasi siswa dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan.
6. Perkembangan Anak
Dalam upaya memdidik atau membimbing anak, agar mereka dapat tumbuh kembang seoptimal mungkin, maka bagi para pendidik/guru perlu dan dianjurkan untuk memahami perkembangan anak. Pemahaman itu penting karena beberapa alasan berikut:
a. Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan.
b. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
c. Pengetahuan tentang perkembangan abak dapat membantumereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
d. Melalui pemahaman tentang anak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk memfasilitasi perkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, dapat diantisipasi juga tentang upaya untuk mencegah berbagaikendala atau faktor-faktor yang mungkin akan mengkontaminasi (meracuni ) perkembangan anak (Yusuf, 2000).
Aspek-aspek perkembangan anak meliputi: perkembangan fisik, intelligensi (kecerdasan), emosi, bahasa, sosial, kepribadian, moral dan kesadaran beragama.
Dengan memahami tiap aspek perkembangan, maka pendidik/guru akan mempunyai batasan-batasan yang diperlukan oleh anak berkaitan dengan kematangan fisiknya, kemampuan intelligensinya, kematangan emosi dan sosialnya, kesukaan permainannya, kecenderungan kepribadiannya, penanaman etika dan nilai-nilai hidup serta latihan-latihan dalam kegiatan ibadah.
Perkembangan anak dipengaruhi proses biologis, kognitif dan sosioemosional, perubahan-perubahan dalam perkembangan merupakan hasil dariproses-proses biologis, kognitif dan sosioemosional. Proses-proses ini saling berkaitan dalam perkembangan individu sepanjang masa hidup manusia (Santrock, 1995).
Proses biologis meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma pembawa sifat keturunan diwarrisi dari orang tua, perkembangan otak, pertambahan tinggi dan berat, perubahan pada ketrampilan motorik, perubahan hormon pubertas, dan penurunan jantung semuanya mencerminkan peran proses biolois dalam perkembangan.
Proses kognitif meliputi perubahan pada pemikiran, inteligensi dan bahasa individu. Memandang benda berwarna-warni yang berayun-ayun diatas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri atas dua kata, menghafal syair,membayangkan seperti apa rasanya menjadi bintang film dan memecahkan suatu teka-teki silang semuanya mencerminkan peran proises-proses kognitif dalam perkembangan.
Proses sosioemosional meliputi: perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian. Senyum seorang bayi dalam merespon sentuhan ibunya, serangan agresif seorang anak laki-laki kecil terhadap temannya mainnya, perkembangan ketegasan seorang anakperempuan, kegembiraan seorang remaja atas ulang tahunnya, afeksi pasangan manusia usia lanjut semuanya mencerminkan peran proses-prsoese sosioemosional dalam perkembangan.
Masa awal anak-anak (masa sekolah taman kanak-kanak) ialah periode perkembangan yang merentang dari akhir masa bayihingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun, periode ini kadang-kdang disebut tahun-tahun pra sekolah. Selama masa ini, anak-anak kecil belajar semakin mandiridan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan ketrampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf) dan meluangkan waktu berjam-jam bermain dengan teman-teman sebaya. Kelas 1 secara umum menandai akhir masa awal anak-anak.
Tanggung jawab atas anak-anak sedang atau akan menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Semakin banyak kita belajar tentang anak-anak, semakinbaik kita dapat berurusan dengan mereka dan membantu mereka menjadi manusia yang berkompeten. Perkembangan masa hidup memberi kita wawasan tentang perkembangan diri kita juga sebagai orang dewasa (Santrock, 1995).
6. Lingkungan Sekolah yang Sehat (Efektif)
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistimatis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosionalmaupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, dijelaskan oleh Hurlock (1990) bahwa sekolahmerupakan faktor penetubagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Sekolah berperan sebagai substansi keluarga dan guru subtitusi orang tua. Ada beberapa alasan, mengapasekolah memainkan perananyang berartibagi perkembangan kepribadian anak, yaitu: (a) para siswa harus hadir di sekolah, (b) sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini, seiringdengan perkembangan konsep dirinya, (c) anak-anak banyak menghaabiskan waktunya di sekolah dari pada tempat lain di luar rumah, (D) sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses dan (e) sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuan secara realistik.
Menurut Havighurst (dalam Yusuf, 2000) sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sehubungan hal ini, sekolah seyogyanya berupaya menciptakan iklim kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tugas perkembangannya. Upaya sekolah dapat berjalan dengan baik, apabila sekolah tersebut telah tercipta iklim yang sehat atau efektif, baik menyangkut aspek manajemennya, maupun profesionalisme para personelnya.
Rutter (dalam Sigelman & Shafer, 1995) mendefinisikan sekolah yang efektif itu sebagai sekolah yang memajukan, atau mengembangkan prestasi, ketrampilan sosial, sopan santun, sikap positif terhadap belajar, rendahnya angka absen siswa dan memberikan ketrampilan-ketrampilan yang memungkinkan siswa dapat mandiri.
Sekolah yang efektif disamping ditandai oleh ciri-ciri di atas juga sangat didukung oleh kualitas para guru, baik menyangkut karakteristik pribadi maupun kompetensinya. Karakteristik pribadi dan kompetensi guru ini sangat berpengaruh terhadapkualitas iklim kelas, proses pembelajaran di kelas, atau hubungan guru-siswa di kelas,yang pada gilirannya akan berpengaruh pula pada keberhasilan belajar siswa.
Loree (dalam Yusuf, 2000) mengemukakan bahwa kemajuan belajar dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang terjadi di kelas. Hubungan ini bisa bersifat hangat atau dingin (warm or cool), tegang atau tenang (tense or relaed), antagonistik atau kohesif, bersahabatan atau bermusuhan (friendly or hostile).
D. PERUMUSAN MASALAH
Hasil observasi dan penelitian yang diperoleh terhadap guru TK selama ini, ditemukan beberapa permasalahan yang mendasar yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan serius, yaitu:
1. Kurang memahami perkembangan anak terutama secara psikologis
2. Kurang memiliki ketrampilan psikologis dalam menangani kasus khusus
3. Kurang memiliki kompetensi dan ketrampilsn yang efektif
4. Kualitas output siswa secara mental kurang optimal
D. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan pelatihan adalah:
1. Untuk peningkatan kualitas profesional guru
2. Lebih mengenal kualitas dan karakter pribadi sendiri
3. Lebih memahami karakter dan perkembangan psikologis anak
4. Meningkatkan kualitas output siswa
D. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat dari kegiatan ini diharapkan dengan mengikuti pelatihan para guru akan memiliki karakteritik pribadi yang matang dan kompeten sehingga dapat memperlakukan siswa-siswinya dengan benar, dapat memberikan pengajaran dengan tepat, sehingga dapat meningkatkan kualitas output.
D. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH
Upaya pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-kanak tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada guru-guru sebagai informasi dan bekal untuk dapat mengembangkan profesinya sebagai guru dengan sebaik-baiknya, yaitu meliputi:
1. Wawasan tentang peranan guru disekolah
2. Pengenalan Karakteristik Pribadi
3. Kompetensi, sikap/perilaku Guru yang efektif.
4. Perkembangan Anak Pra Sekolah dan Upaya Guru dalam membantu perkembangan anak
5. Multiple Inteligensi
6. Kurikulum Berbasis Kompetensi
7. Anak-anak dengan perkembangan khusus.
8. Cara mengatasi Anak-anak bermasalah
9. Memperkenalkan permainan outbond untuk anak dan filosofinya
10. Tehnik observasi dan pendataan.
E. KHALAYAK SASARAN UTAMA STRATEGIS
Dalam kegiatan pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-kanak ini yang direncanakan sebagai khalayak sasaran adalah para guru Taman kanak-kanak 'Aisyiyah di kotamadya Malang yang terdiri dari 33 sekolah. Dari masing-masing sekolah diambil 2 orang wakil sehingga jumlah sasaran pelatihan adalah sebanyak 66 orang. Alasan pemilihan ini berdasarkan banyaknya temuan dan keluhan baik oleh para guru, orang tua dan pengurus Sekolah Taman Kanak-kanak tersebut dalam hal kebutuhan peningkatan ataupun menjaga kualitas out put anak-anak Taman Kanak.
D. KETERKAITAN
Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang telah ikut berpartisipasi mengembangkan sekolah-sekolah dibawah naungan Muhammadiyah yang menjadi sekolah binaan, didukung oleh lembaga Pendidikan Nasional dan juga PDM melalui pemberian bantuan dana telah menetapkan kebijakan khusus yang mendorong terjadinya akselarasi pengembangan masyarakat yang bersifat lokal dan berdasarkan pemetaan kebutuhan riil melalui kegiatan pengabdian profesi oleh para dosen. Sebagaimana kebijakan perguruan tinggi lain baik swasta maupun negeri maka Universitas Muhammadiyah Malang juga menerapkan kebijakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Dharma ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat, berdasarkan hal tersebut maka pelatihan dan pengembangan profesi guru Taman Kanak-Kanak 'Aisyiyah ini dilakukan terutama karena 'Aisyiah adalah lembaga binaan Muhammadiyah.
D. METODE KEGIATAN
1. Tempat dan Sasaran Kegiatan
Tempat kegiatan ini dilaksanakan adalah di Laboratorium Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, dengan mengundang para guru. Tiap sekolah diminta mengirimkan wakilnya 2 orang dan berdasarkan hasil survey awal terdapat 33 Sekolah Taman Kanak-kanak 'Aisyiyah di kotamadya Malang, sehingga dihadiri sejumlah kurang lebih 66 guru dan ditambah sejumlah 10 orang pengurus.
1. Teknis Pelaksanaan
a. Melakukan upaya pendekatan dan kerjasama dengan pimpinan 'Aisyiah Cabang Malang dan Pengurus bagian pendidikan Cabang Malang dan pengurus bagian pendidikan di tiap-tiap Kecamatan di kotamadya Malang.
b. Melakukan kegiatan pelatihan selama 2 hari dengan pembagian sbb;
1. Hari pertama
Lokasi :
Bentuk Kegiatan : ceramah, penyuluhan, simulasi
Meliputi : pre test, wawasan tentang peranan guru, pengembangan pribadi dan kompetennsi guru, mengenal perkembangan anak prasekolah dan upaya pengembangan secara optimal, anak dan perkembangan khusus dan cara mengatasinya, pengenalan multiple intelligent dalam upaya mengenal individual differences.
2. Hari kedua
Lokasi
Bentuk kegiatan : simulasi, game, permainan outbond
Meliputi : pelatihan dan simulasi tehnik observasi, memperkenalkan outbond anak-anak dan filosofinya.
D. RANCANGAN EVALUASI
Rancangan evaluasi yang direncanakan meliputi:
1. Melakukan pre test dan post tes sebelum dan sesudah pelatihan dilakukan.
2. Respon sekolah (guru, pengurus dan wali murid) terhadap kegiatan pelatihan yang
dilakukan.
3. Evaluasi tertulis berdasarkan observasi dari kepala sekolah dan pengurus 'Aisyiah untuk TK setempat dari masing-masing lembaga terhadap guru yang mau dan telah berhasil menerapkan hasil pelatihan beserta bukti-bukti keberhasilan out put.
D. RENCANA DAN JADWAL KERJA
KEGIATAN RINCIAN TEMPAT WAKTU/BULAN
I II III IV V VI
Persiapan a. studi lapang
b. mencari informasi ke lembaga ybs
c. identifikasi kebutuhan riil TK
d. pengajuan proposal
perencanaan a. pendekatan ke pengurus Aisyiyah
b. pendekatan terhadap guru TK
c. recheck terhadap kebutuhan riil
kaji tindak a. pelatihan dengan metode ceramah
b. pelatihan dengan simulasi dan alat peraga
c. pre test
d. brain storming permasalahn
e. pelatihan pengenalan diri
f. pelatihan pengenalan siswa
g. pengenalan metode-metode
h. pelatihan cara-cara melakukan observasi anak
i. pelatihan cara membuat laporan
evaluasi a. mendata, menganalisa hasil pre dan post test
b. pengambilan data dilapangan (berdasar laporan tertulis dari sekolah ybs)
c. analisa hasil
d. identifikasi kelemahan
pelaporan a. penyusunan laporan
b. penyerahan laporan
D. RINCIAN BIAYA
ALOKASI RINCIAN ANGGARAN JUMLAH
1. Honor
a. ketua (pemateri dan pengusul)
b. anggota (pemateri dan anggota)
c. pemateri khusus:
1. outbond
2. pengurus 'Aisyiah
3. .....
1 orang x Rp 250.000 x 6 bulan
1 orang x Rp 200.000 x 6 bulan
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1 orang x Rp 250.000 x 2 hari
1. konsumsi 80 orang x Rp. 15.000 x 2 hari
1. bahan materi
• kertas dan alat tulis
• alat peraga
• modul dan penggandaan
• buku-buku •
Rp. 200.000
Rp.. 200.000
Rp. 500.000
Rp. 500.000
1. perjalanan
2. pendataan
3. pendekatan
- monitoring dan evaluasi
Rp. 150.000
Rp. 500.000
Rp. 500.000
6. dokumnetasi Rp. 150.000
7. pelaporan Rp. 600.000
TOTAL
D. ORGANISASI PELAKSANA
1.Ketua Pelaksana
a. Nama dan gelar akademik : Dra. Siti Suminarti Fasikhah, Msi
b. Pangkat/Gol/NIP : Asisten Ahli Madya/IIIA/109.9604337
c. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium Psikologi UMM
d. Bidang Keahlian : Psikologi Perkembangan
e. Fakultas : Psikologi
f. Waktu untuk kegiatan ini : 6 bulan
2.Anggota Pelaksana
a. Nama dan Gelar Akademik : Zamhariroh, Spsi.
b. Pangkat/Golongan : Asisten Ahli Madya/IIIA/810003
c. Bidang Keahlian : Psikologi Klinis
d. Fakultas : Psikologi
e.Waktu untuk kegiatan ini : 6 bula
DAFTAR PUSTAKA
Covey, S. 1997. The Seven Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif). Binarupa Aksara: Jakarta
Frum padu. 2004. Potret Pengasuhan, Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini di Indonesia. Published by National Early Childhood Development Forum.
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi Perkembangan. Erlangga: Jakarta
Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Erlangga: Jakarta
Sigelman, c.k. & shaffer, D.R. 1995. Life Span Human Development. Brooks/cole Publishing Company: California
Yusuf, S. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Remaja Rosdakarya: Bandung
LAMPIRAN
MODEL PELATIHAN
I. Hari pertama
A. memberikan pre test tentang
2. Sikap dan perilaku guru (realistis bukan harapan)
3. Perilaku siswa selama dikelas (setiap guru diminta secara random memilih nama siswa yang akan dievaluasi sebanyak 5 orang)
B. penyuluhan tentang
2. pentingnya mengenali karakter pribadi (guru)
3. pentingnya mengenali karakter anak-anak secara individual
C. penyuluhan tentang
3. tehnik observasi terhadap perilaku anak dan tehinik pencatatan
4. tehnik mengembangkan empati pada orang lain
I. Hari ke dua
A. penyuluhan tentang outbond: manfaat kegiatan outbond
2. mengenalkan alam sebagai simbol riil kebesaran Tuhan
3. mengenalkan kegiatan memecahkan rintangan sebagai simbol mematahkan kesulitan dan hambatan psikologis
4. melatih motorik dan keberanian
5. memberikan kegembiraan belajar
B. simulasi……?
C. Penyuluhan bagaimana cara menangani anak-anak dengan masalah khusus (special children)
I. Evaluasi
A. Tingkat pengetahuan peserta
B. Tingkat kepuasan:
1. oleh peserta (guru)
2. oleh pengurus PP 'Aisyiyah
No comments:
Post a Comment