4.2. Kata Secara panjang lebar pada subbab 5.1 di atas telah dibicarakan mengenai satuan gramatikal yang disebut morfem. Namun, istilah dan konsep morfem ini tidak dikenal oleh para tata bahasawan tradisional. Yang ada dalam tata bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata. Apakah kata itu, bagaimana kaitannya dengan morfem, bagaimana klasifikasinya, serta bagaimana pembentukannya, akan dibicarakan berikut ini. 4.2.1. Hakikat Kata Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Pendekatan arti dan ortografi dari tata bahasa tradisionai ini banyak menimbulkan masalah. Kata-kata seperti sikat, kucing dan spidol memang bisa dipahami sebagai satu kata; tetapi bentuk-bentuk seperti matahari tiga puluh dan luar negeri apakah sebuah kata, ataukah dua buah kata, bisa diperdebatkan orang. Pendekatan ortografi untuk bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Latin, bisa dengan mudah dipahami, meskipun masih timbul persoalan. Tetapi pendekatan ortografi ini agak sukar diterapkan untuk bahasa yang tidak menggunakan huruf Latin, Para tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang disebut morfem. Para linguis setelah Bloomfield juga tidak menaruh perhatian khusus terhadap konsep kata. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield dan pengikutnya adalah karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, morfem, dan kalimat. Berbeda dengn tata bahasa tradisional yang melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, kata, dan kalimat. Batasan kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguistik Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat. Batasan tersebut menyiratkan dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain; atau juga dapat dipisahkan dari kata lainnya. 4.2.2. Klasifikasi Kata Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata; dalm peristilahan bahasa Inggris disebut juga part of speech. Klasifikasi kata ini dalam sejarah lingguistik selalu menjadi salah satu topik yang tidak pernah terlewatkan. Hal ini terjadi, karena, pertama setiap bahasa mempunyai cirinya masing¬-masing; dan kedua, karena kriteria yang digunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bisa bermacam-macam. Para tata bahasawan tradisional mengguaakan kriteria makna dan kriteria tungsi. Kriteria makna digunakan urltuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, dan lain-lainnya. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan; yang disebut nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan; dan yang disebut konjungsi adalah kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain. Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi. Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukan; atau dapat mengisi konstruksi bukan ….. Jadi, kata-kata seperti buku, pinsil dan nenek adalah termasuk nomina, sebab dapat berdistribusi di belakang kata bukan itu. Yang termasuk verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak, atau dapat mengisi konstruksi tidak ….. Jadi, kata-kata seperti makan, minum, lari adalah termasuk kelas verba, karena dapat berdistribusi di belakang kata tidak itu. Lalu, yang disebut ajektifa adalah kata-kata yang dapat berdistribusi di betakang kata sangat, atau dapat mengisi konstruksi sangat ….. Jadi, kata-kata seperti merah, nakal, dan cantik adalah termasuk ajektifa karena dapat berdistribusi di belakang kata sangat itu. Ada juga kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum, fungsi subjek diisi oleh kelas nomina; fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa; fungsi objek oleh kelas nomina; dan fungsi keterang oleh adverbia. Oleh kartena itu semua kata yang menduduki fungsi. Klasifikasi atau penggolongan kata itu memang perlu. Dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita identifikasikan dari ciri-cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau mendistribusian kata itu di dalam ujaran, sebab hanya kata-kata yang berciri atau beriden¬tifikasi yang sama saja yang dapat menduduki suatu fungsi atau suatu distribusi di dalam kalimat. 4.2.3. Pembentukan Kata Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivatif. 4.2.3.1. Inflektif Alat yang digunakan untul penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks; atau juga berupa modifikasi internal, yakn perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu. Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektif disebut deklinasi. Konyugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus, diatesis, persona, jumlah, dan jenis Sedangkan deklinasi biasanya berkenaan dengan jumlah, jenis, dai kasus. Hanya bentuknya saja yang berbeda, yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya. Bentuk-bentuk tersebut dalam morfologi infleksional disebut para¬digma infleksional. Verhaar (1978), menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kaubaca, dan bacalah adalah paradigma infleksional. Dengan kata lain, bentuk-bentuk tersebut merupakan kata yang sama, yang berarti juga mempunyai identitas jeksikal yang sam. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya. 4.2.3.2. Derivatif Pembentukan kata secara infektif, tidak membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hat ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas teksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.
No comments:
Post a Comment