11 December 2010

Pembahasan Budaya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia telah mengenal hubungan antar budaya yang harmonis
sejak nenek moyang menduduki kepulauan Indonesia ratusan abad yang lalu,
namun kini setelah banyak cendekiawan, ulama, politisi, pengusaha maupun ahli
hukum yang berwawasan modern, tetap saja sifat instinktif yang residual primitif
muncul ke permukaan. Lebih-lebih disaat berbagai konflik kepentingan
menyeruak dalam kehidupan bangsa, seperti konflik politik, bisnis, etnis maupun
konflik local primordial.
Berbagai peristiwa yang terjadi akibat konflik kepentingan etnis di
nusantara akhir-akhir ini seolah-olah menjadi trend dunia. Jika di Afrika terjadi
pertikaian etnis antara suku Tutsi dan suku Hutu ( Ruwanda – Burundi ), suku
Kurdi di Turki, suku Tamil di Ceylon, maka di Indonesia juga sering terjadi
pertikaian etnis seperti Madura, Makassar, Banten, Dayak, Melayu ( Kalbar ) dan
suku-suku di Irian ( Papua ). Penyebab utamanya adalah Komunikasi Antar
Budaya yang tersumbat. Sungguh aneh dizaman modern ini bisa terjadi, padahal
dizaman kuno hubungan antar etnis sering dilakukan oleh saudagar Cina,
Madagaskar, India dan bangsa lainnya tanpa pertumpahan darah bahkan sering
terjadi perkawinan antar etnis untuk melanggengkan tali kekeluargaan. Kita kenal
komunikasi antar budaya Cina ke Eropah dan Asia dengan “ Jalur Sutera, “ yang
selain bermisi dagang juga memiliki misi budaya.
Tahap awal komunikasi dilakukan dengan bahasa tubuh, isyarat raut
wajah, gerak anggota tubuh ( tangan, mata dll ) sebagai bahasa nonverbal.
Kemudian dengan kecerdasan akalnya manusia mulai belajar bahasa etnis lain,
sehingga memudahkan komunikasi antar etnis dimuka bumi ini. Kini dengan
bantuan kemajuan teknologi komunikasi manusia semakin, cerdas, lugas dan
lancar berkomunikasi. Namun demikian lagi-lagi pada saat terdesak oleh
kepentingan individu, manusia yang cerdas, alim dan beragamapun kembali
menjadi primitif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka makalah “Konflik
Budaya” ini akan mencoba membahas beberapa persoalan tentang
Budaya dan penyebab terjadinya konflik budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Budaya
Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan
daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya
menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.
Makna budaya pada hari ini dibatasi dengan maksud lagu, muzik, tarian, lakonan
dan kegiatan seumpamanya.
Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi
dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban.
Globalisasi yang melakukan hegemoni atau penguasaan dalam hampir semua
kehidupan manusia amat besar kesannya terhadap umat Islam. Pengaruh
globalisasi tidak saja subur dalam aspek maklumat tetapi juga amat luar biasa
dikembangkan dalam bidang hiburan popular Barat, bidang keilmuan dan
penyelidikan, aspek teknologi canggih dan dominasi sistem ekonomi kapitalisliberal,
bidang bahasa dan sistem nilai sehingga menyebabkan proses pembaratan
dan pengliberalan berlaku dalam semua aspek kehidupan umat Islam.
2.2 Terjadinya Konflik Budaya
Konflik budaya seperti yang sering terjadi diberbagai kota maupun
dipedalaman, menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan tentang budaya etnis,
kelompok usia, kelompok agama maupun kelompok tradisi tertentu ditanah air.

Dalam satu RW terjadi pertikaian antar RT, antar gang, antar pendukung sekte
keagamaan bahkan antar pendukung partai. Ironis memang, namun itulah naluri
dasar manusia yang paling primitif selalu timbul bila terjadi perbedaan
kepentingan ( pribadi, kelompok maupun ajaran tertentu ). Berikut ini faktorfaktor
penyebab terjadinya gegar budaya.
Antropolog Cylde Khuckpohn memperingatkan kita bahwa setiap jalan
kehidupan yang berbeda, memiliki asumsi tentang tujuan keberadaan manusia,
tentang apa yang diharapkan dari orang lain dan dari Tuhan, tentang apa yang
menjadi kejayaan dan kegagalan. Aspek budaya terbuka ( overt ) dan tertutup
( covert ) menunjukkan bahwa banyak kegiatan sehari-hari kita dipengaruhi oleh
pola dan tema yang asal ( genuine ) dan maknanya kurang kita sadari. Kelakuan
(behavior) dipengaruhi oleh budaya itu memudahkan kebiasaan ( habits ) hidup
sehari-hari, sehingga seseorang melakukan banyak perbuatan ( terutama yang
aneh, menyimpang dan fatal ) tanpa memikirkan akibat dari perilakunya tersebut.
Terjadilah pelaziman budaya ( cultural conditioning ) itu memberikan kebebasan
untuk secara sadar memikirkan usaha baru ( inovasi ) yang kreatif. Ekses
kebebasan tanpa sadar membuat kelakuan kita dapat menggerakkan timbulnya
masalah nasional, seperti rasisme ( etnosentrisme dibeberapa daerah ), yang
akibatnya berdampak global. Untuk penyelesaian masalah ini diperlukan
peraturan perundang-undangan dan reedukasi dalam upaya menciptakan suasana
aman, tenteram, adil, berkepastian hukum bagi seluruh warga.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perbedaan tradisi, budaya dan berbagai perilaku subkultur tertentu dalam
kelompok masyarakat dapat dijadikan alat perekat membangun kebersamaan
( togetherness ) untuk tujuan dan tercapainya kepentingan bersama atas dasar
saling peduli, saling menghormati dan saling mempercayai sesama anak bangsa.
Komunikasi antar ( silang / lintas ) budaya bagi bangsa Indonesia sangat
penting untuk dipahami oleh segenap komponen bangsa, mengingat negara dan
bangsa Indonesia terdiri dari kepulauan yang dihuni oleh berbagai etnis dengan
anekaragam budaya, tradisi dan memeluk agama yang beraneka ragam.
Pemahaman ini sangat penting utamanya dalam menyikapi pelaksanaan otonomi
daerah yang sering dijangkiti pandangan etnosentrisme sempit.
3.2 Saran-saran
Kata kunci yang sangat penting dalam komunikasi antar berdaya adalah
ketulusan dalam komunikasi dialogis setiap komponen dan anggota kelompok
budaya, yang diiringi oleh sikap pribadi yang bebas dari rasa permusuhan dan
prasangka. Semoga bangsa kita mampu dan mau keluar dari buruk sangka dan
pertentangan kepentingan kelompok SARA yang sesungguhnya hanyalah
merupakan pemborosan energi dan waktu belaka.

No comments: