ASAL MULA PERSUKUAN DI PULAU BINTAN (KEPULAUAN RIAU)
Kota Tanjungpinang merupakan Ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, salah satu pulau yang terbesar di Provinsi Kepulauan Riau adalah Pulau Bintan . Pulau tersebut banyak di huni oleh suku bangsa seperti Melayu,Tionghoa, Minang, Batak, Jawa, dan lain-lain. Menurut cerita dulunya di pulau Bintan juga pernah berdiam sekelompok suku bangsa seperti Suku sampan atau Suku Laut. Berkaitan dengan ini, ada sebuah cerita rakyat yang masih berkembang di masyarakat kepulauan Riau khususnya di Bintan.
Cerita Putri Pandan Berduri ini berkisah tentang seorang Batin Lagoi. Batin Lagoi ialah seorang pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan tepatnya di Pulau Bintan. Cerita ini mengisahkan tentang penemuan seorang bayi di semak-semak pandan di tepi laut, kemudian Batin Lagoi mengangkat bayi tersebut menjadi anaknya dan diberinya nama Putri Pandan Berduri.
Suatu ketika, pada zaman dahulu kala ada sekumpulan orang sampan atau suku laut yang berdiam tepatnya di Pulau Bintan. Batin lagoi merupakan pemimpin dari suku laut atau suku sampan tersebut. Ia sangat gagah perkasa. Apabila ingin melewati kawasan tersebut batin lagoi itu harus melewati sebuah betung yang banyak di tumbuhi semak belukar yang rimbun. Saat itu ketika ia melewati semak-semak pandan ia mendengar tangisan seorang bayi walaupun saat itu batin lagoi merasa ketakutan, tetapi ia sangat berhati-hati memasuki semak-semak tersebut, ketika itu ditemuinya sesosok bayi perempuan yang tergeletak hanya beralaskan daun. Dalam hati ia berkata “Dimanakah orang tua bayi ini?dan siapakah anak ini?kenapa ia disini?”, tanpa berpikir panjang ia pun langsung mengambil bayi ini dan berniat untuk mengangkat bayi itu menjadi anaknya. Ia pun langsung mebawa bayi itu pulang kerumahnya, karena ia berpikir ia tidak mempunyai seorang anak, bayi tersebut ia rawat dengan penuh kasih sayang layaknya seperti merawat anak kandungnya sendiri.
Dalam menjalani hari-harinya batin lagoi memberikan pendidikan budi pekerti terhadap putrinya tersebut. Seiring waktu berjalan seorang putri pandan ini tumbuhlah menjadi sesosok gadis yang sangat cantik. Lembut dalam bertutur bahasa dan sopan santunnya, sehingga layaknya mencerminkan sifat seorang putri raja. Keelokan dan kecantikan putri pandan tersebut sangat mengundang perhatian dan kekaguman para pemuda di Bintan,tetapi tidak ada seorangpun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi sangat menginginkan anaknya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.
Julela dan Jenang Perkasa ialah dua bersuadara. Mereka anak dari seorang megat. Mereka tinggal tepatnya di pulau Galang. Megat mendidik anak-anaknya sejak kecil agar saling menghormati dan membantu satu sama lain,tetapi harapan megat tersebut berbeda dengan yang direncanakan. Padahal saat itu megat menginginkan Julela anak tertuanya menjadi seorang batin di pulau Galang tersebut. Hal ini membuat Julela menjadi sombong dan angkuh sehingga ia sudah tidak peduli lagi dengan adiknya. Hubungan antara keduanya menjadi tidak harmonis lagi dan keduanya menjalani hidup masing-masing secara terpisah. Semakin hari sifat sombong Julela semakin tidak mengalami perubahan. Tiada henti-hentinya cacian serta hinaan yang di lontarkannya terhadap adiknya. Ia memarahi adiknya agar adiknya mengikuti perintahnya, jika perintah tersebut tidak diturutinya maka ia akan mengusir adiknya dari kampung tersebut. Mendengar perkataan itu, Jenang merasa sedih. Ia merasa sudah tidak di anggap lagi sebagai adik bahkan saudara sendiri dengan abangnya sehingga ia merasa terasing di keluarganya. Timbullah niatnya ingin meninggalkan pulau Galang tersebut. Esok harinya jenang meninggalkan pulau Galang dan pergi berlayar mengarungi pulau Bintan. Seketika ia sampai di pulau Galang itu ia tidak mengaku kalau ia anak seorang megat. Sehingga jika ia ingin bertutur kata dengan orang-orang di sekitar itu sangat lembut sekali tutur bahasa dan sikap perilakunya. Dalam hal ini membuat batin lagoi sangat tertarik dengan Jenang Perkasa.
Suatu ketika Batin Lagoi berniat ingin mengadakan perjamuan dengan orang-orang disekitar . Tidak ketinggalan dalam hal ini batin lagoi mengundang Jenang perkasa kemudian Jenang perkasa tersebut memenuhi jemputan itu. Saat jamuan makan malam itu di mulai, jenang dan kawan-kawannya memilih tempat duduk yang agak berjauhan, ia berpikir agar air cuci tangannya tidak jatuh pada hidangan yang akan di makan nanti. Ia tidak menyadari bahwa orang-orang memperhatikan sikap dan perilakunya, sehingga menjadi sorotan dan perhatian. Kemudian batin lagoi juga memperhatikannya. Batin lagoi sungguh terkesan dengan budi pekerti dan tingkah laku Jenang Perkasa. Setelah usai perjamuan batin lagoi pun berkata kepada jenang perkasa, ia meminta agar jenang menikahi putrinya tersebut. Dengan segala kerendahan hatinya dan kesopanannya ia pun menerima lamaran itu.
Tanpa disadari batin lagoi pun sudah lupa akan cita-citanya untuk menikahkahn putrinya dengan seorang keturunan anak raja atau anak megat. Walaupun jenang ini berasal dari keluarga megat, tetapi batin lagoi tidak mengetahui tentang asal usul keberadaannya. Batin lagoi sangat simpatik dengan budi pekerti yang dimiliki oleh megat. Sepekan kemudian Jenang dan Putri pandan berduri menikah. Pernikahan mereka sungguh sangat meriah sekali. Ada berbagai tarian yang dipersembahkan dan juga berbagai aneka minuman dan hidangan di hidangkan. Jenang dan Putri Pandan berduri hidup bahagia. Setelah melewati hari-hari nya , batin lagoipun berniat untuk mengangkat Jenang perkasa sebagai batin di Bintan agar kelak suatu saat bisa menggantikan dirinya. Setelah itu Jenangpun memimpin rakyat di Bintan dengan bijaksan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di Bintan, ketika itu masyarakat Galang mendengar kabar tentang kepemimpinan Jenang. Mereka meminta agar jenang kembali untuk menggantikan abangnya yang sombong itu sebagai Batin, namun permintaan tersebut di tolak oleh Jenang dan ia memilih agar tetap memimpin rakyat batin di Pulau Batin ini. masyarakat Galang kembali dengan hati yang kecewa dan hampa. Jenang perkasa dan Putri Pandan berduri hidup sangat bahagia. Ia di kraunia tiga orang anak, yang sulung dinamakan Batin Matang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu batin kelong. Ia mendidik tiga orang anaknya dengan baik,agar anak-anaknya tidak menjadi ank-anak yang sombong dan memiliki tanggung jawab untuk memimpin suku ini , kemudian dinamakan adat kesukuan. Setelah anak-anaknya dewasa, mereka memimpin adat sukunya masing-masing. Sulung ke Pulau Bintan, yang tengah ke barat, yang kelong dengan sukunya ke timur pulau Bintan.
Jenang dan Putri pandan berduri meninggal dunia walaupun mereka telah tiada tetapi adat kesukuan mereka tetap terus berlanjut sampai keanak cucu. Hingga keduanya sangat dikenang di Teluk Bintan. Berawal dari merekalah persukuan di Teluk Bintan ada. Sehingga suku laut dan suku sampan dapat ditemui di perairan Pulau Bintan.
Cerita rakyat diatas mengandung pesan dan nilai moral bagi kita, khususnya saya secara pribadi. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan saya, bahwa sangat bermanfaat sekali jika kita memiliki budi pekerti dan sikap yang sopan santun terhadap orang lain dan tidak pernah berlaku sombong terhadap sesama, dan juga jika kita memiliki sifat sombong maka kita akan di kucilkan dari lingkungan masyarakat tempat tinggal kita. Sesuai dengan adat istiadat orang melayu bahwa sangat pantang orang yang memiliki sifat sombong, karena orang melayu kaya akan budi pekerti. Semoga cerita rakyat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan khususnya bagi saya pribadi.
Biodata
Nama : Indah Purmasari
Tempat dan tanggal lahir : Tanjung pinang, 05 Desember 1989
Alamat rumah : Perumahan Kijang Kencana 3 Blok c lorong 2 no 327
Pekerjaan : Mahasiswa UMRAH semester 4 FKIP bahasa Indonesia
Hobi : Main internet, membaca, menulis dan berkemah
Cita-cita : Ingin menjadi dosen/guru yang berprofesional.
No hp : 085668787579,081991221204
Nama ayah : Sulaiman
Ibu : Sri zainuris bahnawati S.Pd.
Pekerjaan ayah : PNS Pengadilan Negeri Tanjungpinang
Ibu : Guru Sd 011 Tanjungpinang Barat
Motto hidup : Tetap semangat jalani hari-hari dengan ikhlas walaupun badai harus menghantam dan pantang menyerah